Pemikiran Abd. Qahar Muzakkar
April 28, 2022
“Abdul Qahhar Mudzakkar”
Oleh
Ahmad Faturrahman
Marwah Safah
Fian Anawagis
JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN
HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2018
Abstrak
Abdul Qahhar Mudzakkar lahir pada
tanggal 24 maret 1921 didesa lanipa-distrik ponrang,kabupaten Luwu yang
terletak di pantai barat teluk bone,SulSel.
Abdul
Qahhar Mudzakkar seorang keturunan bugis Luwu,dilahirkan sebagai anak kedua
dari 13 bersaudara dan juga sebagai anak laki-laki pertama dari pasangan suami
istri : Malinrang Allahyarham dengan Hj Kessah.
Semenjak Abdul Qahhar menimbah ilmu di jawa tengah pengetahuan
mengenai agama yang dianutnya semakin mendalam. Islam telah membentuk watak
orang menjadi semakin terang dan cemerlang,teguh, suci, lurus serta gagah
berani,dalam menganut agama yang diyakininya. Yaitu agama yang telah
mengajarkan kepada penganutnya bahwa sifat pengecut,bohong dan kemunafikan
adalah sifat yang rendah serta hina yang perlu diperangi.Menurut cerita dari
teman teman dan juga orang terdekatnya,disamping cerdas,pemberani,dan memiliki
sifat yang unik,sejak masa kecil disekolah maupun diluar sekolah-nya sudah
tampil bakak bakat kepemimpinan dalam diri Abdul Qahhar.
Secra kenseptual ,Qahhar menghendaki adanya
penyatuan antara agama dan negara.Dalam hal tersebut beliau menghendaki agam
islam dijadikan dasar dan idiologi bagi penyelenggaraan negara.Pendapat ini
didasarka pada keyakinan bahwa isalam adalah agama yang sempurna baik pada
aspek doktrin aupun kerisalahan dan juga menjadi agama yang dianut oleh
mayoritas penduduk indonesia.Disamping itu,beliau menghendaki agar bentuk
negara Republik Indonesia adalh bentuk negara federal dengan pertimbangan bahwa
secra sosio-antropologis,Indonesia adalah negara yang majemuk dengan latar dan
tradisi dan sejarah yang heterogen.Ketika konsep negara federal dan tawara
Islam sebagai dasar penyelenggara itu gagal,maka beliau memilih jalan radikal
dan revolusioner untuk mewujudkan cita-cita beliau tersebut .
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Pasca
kemerdekaan,bangsa Indonesia dihadapkan dengan berbagai permasalahan,seperti
masalah pertahanan,keamanan,ekonomi,sosial,dan hubungan luar negeri.Khusus di
bidang pertahanan keamanan,muncul sejumlah gerakan perlawanan terhadap
pemerintah,seperti gerakan Darul Islam(DI yang dipelopori oleh S.M Kortosuwiryo
di Jawa Barat,kemudian meluas dan mempengaruhi daerah-daerah lain seperti Jawa
Tengah,Kalimantan Selatan,Aceh dan Sulawesi Selatan.Penyebab dan Motifasi pada
masing-masing daerah itu berbeda.
Khusus di Sulawesi Selatan,lahirnya DI/TII berawal ketika
pemerintah akan melakukan reorganisasi dan rasionalisasi ketentaraan pasca
konferensi Meja Bundar(KMB).Sebagai putra daerah,Abdul Qahhar Mudzakkar meminta
kepada pemerintah untuk kembali ke Sulawesi Selatan guna menyelesaikan
persoalan Organisasi dan anggota-anggota bekas pejuang yang tergabung dalam
Kesatuan Gerilyawan Sulawesi Selatan(KGSS)
Sosok
Qahhar merupakan sosok yang sangat fundamental,berbagai stigma seperti
patriot,pemberontak,penulis produktif,dan pemikir diletakkan pada
dirinya.Disebut patriot karena dirinya ikut berjasa dalam membela dan
mempertahankan negara Indonesia dari serbuan penjajah.Dibidang militer
ini,kariernya diakui sangat gemilang dan di anggap sebagai pemegang pangkat
Letnal Kolonel pertama dari daerah Bugis.Sementara julukan pemberontak
diberikan karena beliau dianggap membelot dan ingin mendirikan negara
tersendiri yang berlabelkan Islam.Qahhar dianggap penulis yang produktif
sekaligus pemikir karena beliau walaupun di tengah-tengah kesibukannya memimpin
Perjuangan DI/TII madih sempat menulis beberapa buku.
B.Rumusan Masalah
Agar
makalah ini tidak melenceng dari pembahasan,maka penulis menarik rumusan
masalah sebagai berikut
1. Bagaimana Riwayat Hidup Abdul Qahhar
Mudzakkar?
2. Bagaimana pemikiran Abdul Qahhar Mudzakkar?
C.Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Riwayat Hidup Qahhar
Mudzakkar
2. Untuk mengetahui Pemikiran Abdul Qahhar
Mudzakkar
A.
RIWAYAT HIDUP ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR
Abdul Qahhar Mudzakkar lahir pada tanggal 24 maret 1921 didesa
lanipa-distrik ponrang,kabupaten Luwu yang terletak di pantai barat teluk
bone,SulSel. Abdul Qahhar Mudzakkar seorang keturunan bugis Luwu,dilahirkan
sebagai anak kedua dari 13 bersaudara dan juga sebagai anak laki-laki pertama
dari pasangan suami istri : Malinrang Allahyarham dengan Hj Kessah.[1]
Setelah tamat sekolah dasar tahun 1934 di lanipa,Abdul Qahhar melanjutkan
ke Standaard School Muhammadiyah di palopo selama 4 tahun. Sebagai anak seorang
laki-laki pertama dari keluarga yang cukup mampu,Abdul Qahhar oleh orang tuanya
pada tahun 1937 kemudian dikirim ke solo jawa tengah. Untuk bekal kehidupan
selanjutnya ia menyelasaikan pendidikan disekolah guru Muallim Muhammadiyah.
Semenjak Abdul Qahhar menimbah ilmu di jawa tengah pengetahuan mengenai agama
yang dianutnya semakin mendalam. Islam telah membentuk watak orang menjadi
semakin terang dan cemerlang,teguh, suci, lurus serta gagah berani,dalam menganut
agama yang diyakininya. Yaitu agama yang telah mengajarkan kepada penganutnya
bahwa sifat pengecut,bohong dan kemunafikan adalah sifat yang rendah serta hina
yang perlu diperangi.Menurut cerita dari teman teman dan juga orang
terdekatnya,disamping cerdas,pemberani,dan memiliki sifat yang unik,sejak masa
kecil disekolah maupun diluar sekolah-nya sudah tampil bakak bakat kepemimpinan
dalam diri Abdul Qahhar.[2]
Perguruan Muhammadiyah di Solo itu berlatar belakang ajaran Islam
yang dikelola oleh kiai dan ulama ulama besar besar berkalbu terbuka.Para kiai
dan ulama yang telah mendidik Qahhar adalah orang-orang alim-bijaksana. Salah
seorang pendidik itu adalah Prof. Abdul Qahhar Mudzakkir,seorang tokoh Islam
yang sangat aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,salah seorang
anggota Piagam Jakarta.[3]
Dari beliau inilah Qahhar memperoleh banyak wawasan keagamaan.Karena sangat
terkesan dengan beliau,maka ia menambahkan kata Mudzakkar di belakang namanya.[4]
Pada awalnya,ditanah kelahirannya sendiri-SulSel,ia terpilih
sebagai pemimpin pemandu Muhammadiyah dan organisasi pandu yang bernama Hizbul
Wathan. Kemudian di Jakarta sebagai ketua,setelah bersama beberapa kawan
seperjuangannya,Abdul Qahhar berhasil mendirikan "Gerakan pemuda Indonesia
Sulawesi (GPIS)". Oleh karenanya ada pemuda-pemuda dari Sulawesi lain,yang
juga membentuk organisasi angkatan pemuda Sulawesi,maka akhirnya kedua
organisasi tersebut dilebur menjadi organisasi Kebangkitan Rakyat Indonesia
Sulawesi (KRIS) yang dilengkapi dengan lascar. Ia menjadi sekertaris umum
organisasi KRIS,karena disamping aktif-dalam organisasi tersebut pada awal
lascar KRIS didirikan,Abdul Qahhar juga merangkap sebagai komandan pertama
lascar KRIS. Kemudian ketika pemuda membentuk Barisan Berani Mati (BBM) ia
menjadi salah seorang yang aktif.[5]
Menjelang usia 18 tahun Abdul Qahhar menikah dengan Siti Walinah Harjo
Sudiro binti Abdullah (puteri solo). Kurang lebih dua tahun setelah
pernikahannya,kemudian untuk memperkenalkan keluarganya kepada kedua orang tua
dan keluarga besarnya di SulSel ia bersama istri anak dan ibu mertuanya kembali
ke Sulawesi.[6]
Takkala pendudukan jepang,hubungan Qahhar dengan jepang semakin sering,[7]Abdul
Qahhar bersama Yusuf Samma berkesempatan bekerja pada Nippon Dohobu di
Makassar. Akan tetapi karena "iri hati" dari pihak-pihak tertentu didalam
pekerjaan ini ia mendapat banyak rintangan.[8]
Kemudian pada tahun 1945,setelah berada di Yogyakarta Abdul Qahhar
sebagai komandan BKI (Batalion Kesatuan Indonesia) dengan pangkat mayor,
selanjutnya menjadi komandan TRIPS (Tentara Republik Indonesia Persiapan
Sulawesi) dengan pangkat colonel[9],setelah
iya berhasil melaksanakan tugas membentuk TRIPS berdasarkan mandate penglima
besar Jend Sudirman yang bertanggal 24 maret 1946.[10]
Pada tahun 1950,Qahhar melarikan diri ke hutan dan bergabung dengan
KGSS,sebab utama pemberontakan ini adalah sebenarnya iyalah ambisi Qahhar untuk
mendapat kedudukan pimpinan dalam APRIS,selain itu Qahhar juga menuntut supaya
semua anggota KGSS dimasukkan ke dalam APRIS dengan nama Brigade Hasanuddin.
Tuntutan ini tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah. Pemerintah hanya akan
menerima anggota KGSS yang lulus dalam penyaringan, dan dianggap memenuhi
syarat untuk masuk tentara.[11]
Inti kekuatan gerakan DI/TII di SulSel ialah mereka yang pernah
ikut membela dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan tegaknya RI dalam
periode perang kemerdekaan (1945-1949).[12]Gerakan
Qahhar terbagi menjadi 2 fase yakni tahap pertama 1951-1953 yang oleh Qahhar
disebut masa penggalangan dan masa peralihan.[13]Tahap
kedua 1953-1965 yang oleh Abdul Qahhar disebut menggerakkan revolusi Islam.[14]
Bulan agustus 1953 merupakan awal peristiwa penting dan bersejarah
bagi kehidupan patriot pejuang Sulawesi dan Abdul Qahhar Mudzakkar sendiri.Maka
sejak bulan ini daratan Sulawesi dinyatakan sebagai sebagai daerah de facto
DI/TII.Dimana pejuang Islam Revolusioner menegakkan pemerintahan Islam yang
menjalankan Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist shahih.[15]
Dengan nuansa Islam,DI/TII SulSel semakin mendapat simpati dari
masyarakat luas. Bagaikan sebuah ajakan yang menjanjikan suatu gerakan itupun
semakin besar dan meluas.Hampir semua daerah tingkat II di SulSel khusunya
wilayah pegunungan dijadikan markas anggota setria DI/TII.Pemerintah Soekarno
melihat gerakan itu membahayakan sehingga TNI pun melancarkan perang dengan
DI/TII. Meskipun penyerbuan bertubi-tubi,Qahhar bersama anggotanya takpernah
gentar memberikan perlawanan. Melihat ketegaran gerakan TII ini tak kenal
kompromi,pemerintah terpaksa mengubah strategi serbuannya. Strategi itu
tampaknya ampuh. Soalnya,sejumlah petinggi milik DI/TII sempat dipengaruhi
untuk bergabung dengan pemerintah,dalam hal ini TNI. Mereka dijanjikan
kekuasaan dan pangkat yang menggiurkan.Ternyata iming-iming itu banyak diantara
pengikut Qahhar membelok masuk kepangkuan TNI.[16]
Disaat seperti itulah. Entah berapa kali pihak pemerintah membentuk
tim khusus untuk melakukan perundingan dengan Qahhar Mudzakkar yang tetap
konsisten di hutan. Tim perundingan yang bertujuan mengajak Qahhar untuk
berdamai itu kadang diketuai M.Yusuf (kini jendral). Ternyata meski mulai
kehilangan anak buah andalan,Qahar tetap dalam sikapnya
tak mengenal kompromi,apalagi menyerah. Bersama sisa-sisa anggotanya yang tetap
konsisten, Qahhar tetap mengobarkan perlawanan,meski hal itu dilakukan di hutan
hutan belantara dengan cara berpindah-pindah. Kadang di hutan SulSel,kadang di
hutan Sulawesi Tenggara. Begitulah strategi perlawanan yang dilakukan DI/TII.
Entah bagaimana prosesnya,dan peristiwa ini masih diragukan oleh sejumlah pengikut
Qahhar pada 2 februari 1965,bertempat di pinggir sungai lasolo,Kab Kolaka,
Sulawei Tenggara, tiba-tiba tersiar berita Qahhar tewas ditembak oleh pasukan
siliwangi yang menyerbu markas DI/TII.[17]
B.
PEMIKIRAN ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR.
PILAR KEBANGSAAN MENURUT ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR :PERSPEKTIF
IDEOLOGIS. (Abd Rahman Hamid)
Selama
ini,suguhan informasi yang dikonsumsi oleh public tentang Abdul Qahhar
Mudzakkar cenderung pada kisah gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia
(DI/TII) dan pemerintah sendiri memandangnya sebagai gerakan separatis
(Disjar,1978) yang mengancam integritas bangsa. Tertutupnya ruang bagi gerakan
ini tampak juga menutup ruang bagi sosialisasi pemahaman lain,jikatidak mau
dikatakan baru,bagi tokoh ini. Padahal diranah local ceritanya justru
terbalik,dia adalah tokoh yang dielu-elukan.[18]
Berdiri dan kokohnya sebuah Negara
sangat dipengaruhi oleh landasan yang kokoh. Pada saat siding BPUPKI 1 Juni
1945,Bung Karno mengajukan pilar kebangsaan yang ideal bagi bangsa Indonesia
atau lebih dikenal dengan pancasila. Bila bung karno meletakkan pilar ketuhanan
pada urutan terakhir,yang mendapat banyak kritik dari kalangan Muslim daalam
siding BPUPKI (Latif,2011:75), maka Qahhar menempatkannya pada posisi utama.[19]
v KETUHANAN
Dalam buku Konsepsi
Negara Demokrasi Indonesia,Qahhar menulis bahwa bangsa Indonesia adalah
bangsa yang beragama,terdiri atas 90 % pemeluk agama Islam dan 10 % pemeluk
agama lainnya. Atas dasar itulah,kata Qahhar, dasar Negara Indonesia harus dan
mutlak berdasarkan Islam dan keimanan kepada Tuhan bagi segenap golongan suku
bangsa Indonesia menurut keyakinan agamanya masing-masing. Bercermin dari
pemikiran itu,jelas bahwa Qahhar menerima keberagaman sebagai realitas yak
dapat diabaikan dalam meletakkan pilar kebangsaan.Secara spiritual,pedoman
perjuangan Qahhar selalu merujuk pada Al Qur'an pada surah Al Hujurat ayat 13
yang artinya :
Hai
manusia,sesungguhnya kami menciptakan kamu kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu
disisi Allah aialah orang yang paling betaqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Mengacu pada
pemikiran tersebut, Qahhar mengusulkan kepada Bung Karno untuk mengganti
Pancasila dengan falsafah hidup rakyat Indonesia yang benar-benar kokoh dan
kuat,sesuai dengan ajaran agama dan atau ditinjau,dijiwai dengan ajaran agama.
Menurutnya, Pancasila bukanlah agama ataupun keyakinan yang dapat dijadikan
petunjuk jalan hidup-mati manusia. Pancasila merupakan produk pikiran manusia
yang memiliki sejumlah keterbatasan,sehingga tidak dapat dijadikan sebagai
ideology bangsa.[20]
Realitas yang tidak dapat di abaikan
dalam kehidupan masyarakat Indonesia adalah tumbuh dan berkembangnya paham
komunis. Dalam kaitan itu, kata Qahhar,Bung Karno adalah orang yang harus
bertanggung jawab atas perkembangan komunisme di Indonesia karena paham itu
disejajarkan dengan paham politik lainnya,nasionalisme dan Agama.[21]
Dalam sebuah surat yang dikirim
kepada Bung Karno,Qahhar mengatakan:
Liberalisme
dan komunisme dalam sedjarah-hidupnya hanyalah megobarkan perang,menimbulkan
kerusuhan bertukar ganti dank arena itu kedua matjam ideology ini wadjib
ditantang dan wadjib dilawan dengan kebadjikan,diseur dan diajak untuk
sadar,kembali ke jalan yang benar,kembali menempuh djalan damai jang
ditunjukkan oleh Agama (Mudzakkar,tt:7).
Qahhar sangat yakin bahwa demokrasi
sejati yang bersendikan Islam dapat menciptakan masyarakat Indonesia yang adil
dan makmur. Hal itu didasarkan pada pesan Tuhan dalam Al Qur'an,bahwa Islam
diturunkan ke muka bumi sebagai rahmat bagi seluruh alam,termasuk segenap umat
manusia,tanpa kecuali.[22]
v KEADILAN
RAKYAT
Dan
kalau ada golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kamu
damaikan antara keduanya,tetapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap
yang lain,hendaklah yang melanggar
perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia
telah surut,damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu
berlaku adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (QS
Al- Hujurat : 9)
Ayat tersebut selalu dirujuk sebagai
landasar perjuangan,antara lain pada mukaddimah Piagam Makalua 1376 H, yang
menekankan berlaku adil terhadap sesama. Untuk mengurai jalan pikiran ini,
terlebih dahulu ditilik jalan perjuangan Qahhar dan pengikutnya pada saat
pemerintah melaksanakan reorganisasi ketentaraan Nasional. Dalam pandangan
mereka,tindakan itu tidak mencerminkan keadilan,bahkan sebaliknya. Berlatar
ketidak adilan itulah Qahhar terpanggil memperjuangkan nasib teman temannya
yang dahulu berjuang bersama memperjuangkan kemerdekaan. Kepedulian terhadap
sesama merupakan cermin pengamalan pesan Tuhan yang mengatakan bahwa
"orang-orang yang beriman itu bersaudara" (QS Al Hujurat : 10).
Karena itu,manusia harus tolong menolong dalam berbuat kebaikan. Berlaku
adil,dalam kaitan itu ditampilkan melalui penampungan dan pengurusan janda syuhada
dan anak yatim.[23]
Selain dari itu,Qahhar juga melarang
penggunaan symbol-simbol budaya (kebangsawanan) karena dipandang sebagai praktik feodalisme. Dalam tindakan
itu tidak mencerminkan keadilan social,apalagi petunjuk agama yang melatakkan
manusia semua sama dihadapan sang pencipta.[24]
Dalam pedoman perjuangannya, Qahhar secara jelas dan tegas mengatakan bahwa
segenap pejuang Islam revolusioner dan lapisan masyarakat Republik Islam
Indonesia bagian timur, sengaja atau tidak sengaja melafaskan gelar
kebangsawanan seperti anak opu,
bau,puang,karaeng,andi,petta,daeng,jemma,laode,gede rake,gede bagus, eanggu,
sayyid,teuku,dan raden wajib diperangi. Jika ada orang yang bermasa bodoh dan
tidak membantah saat gelaran kebangsawanan itu dialamatkan kepadanya,maka wajib
diperangi (ANRI Sulawesi,Reg.327).
KONSEPSI AGAMA DAN NEGARA ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR DI INDONESIA:
PERSPEKTIF POLITIS (Muhammad Ashar Sabry)
Masalah yang cukup menyita perhatian kaum Muslimin dan menjadi
wacana dominan yang mewarnai horizon pemikiran dunia Islam adalah masalah
hubungan Negara dan Agama.Masalah ini menjadi tema sentral diskursus,
disebabkan oleh munculnya konsep Negara bangsa (nation-states) dan berhebus-nya
semangat sekularisme yang dibawa oleh pemikiran modern. Bahkan dalam dasawarsa
terakhir,baik dalam konteks local,regional,nasional maupun
international,perbincangan mengenai relasi Islam dan Negara menunjukkan corak
yang kompoten dan beragama.[25]
Dalam konteks ke-Indonesia-an,perdebatan tentang relasi Agama Islam
dan Negara juga tak kalah serunya. Salah satu tokoh penting yang tercatat dalam
sejarah politik modern Indonesia berkaitan dengan diskursus wacana relasi Agama
Islam dan Negara adalah Abdul Qahhar Mudzakkar.Penempatan beliau sebagai salah
satu tokoh sentral adalah karena beliau melakukan gerakan radikal dan
revolusioner ketika konsep Negara Islam ditolak oleh pemerintah pusat.[26]
Gagasan pemikiran Qahhar mengenai agama dapat dilihat dari
tinjauannya tentang sumber dari kekacauan dunia dan pembenaran atas kebenaran
Nabi Muhammad saw dan ajarannya serta tinjauannya terhadap agama lain. Menurut-nya,penyebab
timbulnya berbagai macam keonaran,kerusakan dan kekacauan dalam pergaulan hidup
manusia adalah karena hokum ajaran tuhan dalam agama banyak yang
berubah,ditukargantikan dan dinodai oleh tangan manusia seperti yang ada dalam
kitab Zabur,Taurat,dan Injil yang ada ditangan manusia sekarang. Disamping itu
manusia meragukan dan menginkari kebenaran ajaran tuhan yang ada dalam kitab
suci Al Qur'an.[27]
Golongan pendukung sekularisme dianggap picik dan sempit dalam
pandangan Qahhar. Karena golongan ini melemparkan agama dari segala urusan
Negara,sama sekali tidak mempunyai definisi kebangsaan dan unsur kenegaraan.
Dalam hal ini, ia mencontoh golongan Soekarno yang picik dan sempit,hanya
meraung sebesar suaranya,bertindak seringgi langit,membanggakan diri sebagai
orang yang beragama,tetapi mati matian menolak agama sebagai dasar hidup Negara.Karena
itu,layak jika dikatakan bahwa mereka termasuk salah satu diantara golongan
yang menghancurkan dunia.[28]
Pendapat bahwa agama tidak mempunyai kekuatan pengaruh dalam
berdirinya suatu bangsa dengan tegas dia tolak. Menurutnya,tidak ada satu bangsapun
di muka bumi ini berdiri tanpa pengaruh ajaran agama,karena agama mempunyai
mempunyai ikatan persatuan semangat manusia. Qahhar kemudian menganjurkan apa
yang disebutnya Ikhwatunisme,yaitu istilah yang berasal dari surat Al
Hujurat ayat 10 yang berbunyi ; Innama al-Mu'minuna Ikhwatun….artinya
sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Tuhan adalah bersaudara …..Ikhwatun
diartikan bersaudara,sehingga paham yang dianjurkannya itu berarti paham persaudaraan umat manusia.
Ajaran yang dianjurkannya itu, menurut Qahhar,merupakan ruh kebangsaan Islam
yang telah dilalaikan oleh para alim-ulama dan pemimpin dunia Islam.[29]
Atas dasar keyakinan itu,Qahhar mengajak presiden Soekarno untuk
menjadi penganjur perdamaian dunia yang berdasarkan ajaran Islam itu. Ajakannya
disampaikan dalam salah satu suratnya,ia mengatakan :
"Bung Karno jang saja muliakan!
Alangkah
bahagia dan agungja Bangsa kita dibawah pimpinan Bung karno djika sekarang dan
sekarang djuga Bung Karno sebagai pemimpin Islam,Pemimpin Besar Bangsa Indonesia,tampil
kemuka menjeru Maysrakat Dunia jang sedang dipertakuti Perang Dunia
III.dipertakuti kekuasaan-Nuklir,kembali ke djalan damai dan perdamaian jang
ditundjukkan oleh Tuhan dalam segala adjarannya jang ada di dalam Kitab Sutji
al Qur'an dan dalam kitab Sudji Agama lainnya."[30]
Dalam pandangan Qahhar,pancasila adalah sesuatu yang dipaksakan
oleh Soekarno menjadi dasar Negara. Justru menurutnya,sila pertama dari
pancasila yaitu ketuhanan yang Maha Esa,yang menimbulkan tangisan dan tragedy
berdarah di Indonesia karena ditolakoleh golongan agama,terutama oleh Islam.
Tentang hal ini Qahhar mengatakan :
"Dasar
ketuhanan Jang Maha Esa dalam pantjasila itu tidak diterima baik oleh
Islam,sebab bukan sadja samar dan meragukan,tetapi malahan menjesatkan dan menimbulkan
berbagai matjam tafsiran pendapat seperti terbukti kita lihat sekarang
ini".[31]
Menurutnya,system pemerintahan
demokrasi sejati adalah pemerintahan presidensial,yaitu pemerintahan yang
dikepalai oleh presiden selaku kepala pemerintahan dan atau kepala Negara
bersama dengan satu dewan pemerintah (kabinet),yang terdiri atas menteri yang
langsung dipilih oleh rakyat secara demokratis. System pemerintahan demokrasi
sejati di pusat pemerintahan di Negara-negara bagian,yaitu kerakyatan dalam
batas kedaulatan hokum Tuhan,menetapkan segala sesuatu dengan prinsip
musyawarah melalui Dewan Perwakilan Rakyat.[32]
Dengan tidak mengurangi makna
demokrasi dalam tinjauannya,Qahhar mengeluarkan gagasan tentang dasar Negara
yang menjadi ideology bersama,yaitu trisila,trilogy dasar dalam UUD Negara
bahwa Negara demokrasi Indonesia atau Negara Republik Persatuan Indonesia ialah
Negara hokum,merdeka dan demokratis dengan dasar.
1.
Ajaran Islam dan keimanan kepada Tuhan bagi segenap golongan suku
bangsa Indonesia,menurut ajaran syariat agamanya masing-masing.
2.
Keadilan social di sepanjang ajaran Islam dan ajaran Agama yang
dianut segenap golongan suku bangsa Indonesia menurut ajaran syariat agamanya
masing-masing.
3.
Demokrasi sejati disepanjang ajaran Islam dan ajaran agama yang
dianut oleh segenap golongan suku bangsa Indonesia menurut ajaran syariat
agamanya masing-masing.[33]
Hal ini menjadi penjelasan perbedaan antara hirarki dunia barat dan
penerapan hukumnya,dengan hirarki kenegaraan Islam dan penerapan hukumnya.
Qahhar menjelaskan bahwa di dunia barat,jika berbuat jahat pada dataran
pemegang kekuasaannya hanya dijatuhi hukuman adat rasio. Sedangkan,manusia dan
pemegang kekuasaan dalam Negara Islam termasuk Indonesia jika berbuat salah dan
dosa ataupun kejahatan lain,akan dijatuhi hukuman menurut ketentuan hokum
ajaran Tuhan dan syariat Islam.[34]
ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR SEBAGAI PEMBAHARU : PERSPEKTIF PURITANIS (Rahmi
Damis)
Mendengar nama Abdul Qahhar Mudzakkar,maka ia akan dianggap sebagai
pahlawan dan disisi lain diangap sebagai pemberontak yang ingin membentuk
Negara tersendiri berasaskan Islam. Pada sisi lain,kita dapat ,mengatakan
jikalau sesungguhnya Qahhar dapat digolongkan sebagai fundamentalis dan
sekaligus pembaharu.[35]
Qahhar dalam perjuangannya,ingin menjadikan tatanan kehidupan
bernegara dan berbangsa berdasarkan ketentuan Al-Qur'an dan Hadis. Hal ini sama
pandangannya dengan kaum fundamentalis lainnya,seperti yang ditulis oleh Rias
Hassan tentang prinsip Negara Islam yaitu : kekuasaan tertinggi terhadap
seluruh alam dan hokum hanya kepada Allah,Tuhan seru sekalian alam. Hokum
Negara harus didasarkan pada al Qur'an dan sunnah. Hokum yang berlaku harus
sesuai dengan ketentuan Al Qur'an dan sunnah Nabi,tidak boleh ada aturan atau
hokum yang bertentangan dengan kedua sumber tersebut.[36]
Didorong oleh keinginan menjadikan Al-Qur'an dan hadis sebagai
dasar Negara Republik Indonesia,maka pada tgl 7 agustus 1953,[37]
Qahhar memproklamasikan SulSel menjadi bagian dari NII yang berdasarkan
Al-Qur'an dan Hadis. Selanjutnya iakatakana:
"saja
melihat Bung Karno setjaca sungguh-sungguh memperdjuangkan hidup mati
bangsa,demi membela dan menegakkan perdamaian dan prikemanusiaan. Karena
itu,saya mengadjak Bung Karno setjaca bersama-sama untuk kembali kepada kaidah
hokum Islam yang sebenarnja sebagai suatu kebenaran dan itu adalah wajib
(al-rudju ilal haqqi wadjibun). Selama ini kita sudah djauh melangkah,membuat
kerusakan jang sebenarnja tidak perlu terdjadi,tetapi kita harus sadari bahwa
semuanja adalah kesalahan bersama dan tiba saanja kita kebali ke djalan jang
benar,membela dan memepertahankan kejakinan jang benar demi tanggung djawab
kita dunia dan achirat."[38]
Salah satu tujuan gerakan Qahhar ialah ingin memperjuangkan
kemurnian ajaran Islam,Qahhar menganjurkan kembali ke ajaran Islam karena
mengandung kebenaran sejati,keadilan dan kemajuan.[39]
Bagi Qahhar untuk mencapai kemajuan dan perdamaian dunia maka harus mengikuti
dua syarat yaitu :
1)
Feodalisme,perpecahan,parti politik,mazhab,tarikat,dan segala macam
churafat harus dibersihkan,diganti dengan adjaran Islam Al Qur'an dan Hadis
sahih.
2)
Meneruskan revolusi kemerdekaan dengan penuh kesungguhan dan
bersedia berkorban untuk mentjapai tudjuan revolusi ketetanegaraan
Indonesia,mewudjudkan tatanegara persaudaraan yang berdirik tegak diatas
landasan hidup moral dan kehidupan politik jang kuat yang mempunyai norma-norma
hidup jang harmonis,adil dan demokratis jang berdasar pada adjaran Islam.[40]
Sikap Qahhar tersebut menunjukkan bahwa ia adalah seseorang yang
fundamentalis sekaligus sebagai modernis,mengembalikan ajaran Islam kepada
sumber utamanya yakni Al Qur'an dan hadis dan menjadkan ajaran Islam sebagai
landasan dalam segala aspek kehidupan. Sisi lain menunjukkan pembaharuan Qahhar
adalah sikapnya yang menentang tradisi yang memisahkan antara kaum bangsawan
dan rakyat biasa. Baginya,manusia adalah sama dihadapan Tuhan.[41]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Abdul
Qahhar adalah seorang fundamentalis pembaharu.Terlihat dalam gerakannya yang
mengajak segenap umat islam termasuk Presiden Soekarno untuk kembali kepada
ajaran Islam yang sesungguhnya yaitu Al-Qur’an dan Hadist.Dia menjadikan kedua
sumber ajaran islam tersebut sebagai landasan dalam menata hidup dan kehidupan
berbangsa dan bernegara.Dia melawan pemerintah yang resmi,dalam usahanya
mengembalikan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara secara
revolusioner,bukan evolusioner.Karena itu,Abdul Qahhar bukannlah pemberontak
tetapi seorang penata ulang kehidupan Indonesia.
REFERENSI
[1]Erlic
Aqamuz (Siti Maesaroh) "PROFIL ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR : Patriot Pejuang
Kemerdekaan Republik Indonesia dan Syahid NII/TII”, Rotterdam-Holland.
Yayasan Al Abrar,2001. Hlm. 18-20
[2]Erlic
Aqamuz (Siti Maesaroh) "PROFIL ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR : Patriot Pejuang
Kemerdekaan Republik Indonesia dan Syahid NII/TII”, Rotterdam-Holland.
Yayasan Al Abrar,2001. Hlm. 22-23
[3]Erlic
Aqamus,loc cit
[4]Sabry,
Muhammad Sadik, "Pemikiran Keagamaan Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif
Tafsir/Eksegeris” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang
Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press –
Qamus Institute,2014. Hlm 31.
[5]Erlic
Aqamuz (Siti Maesaroh) "PROFIL ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR : Patriot Pejuang
Kemerdekaan Republik Indonesia dan Syahid NII/TII”, Rotterdam-Holland.
Yayasan Al Abrar,2001. Hlm.28
[6]Erlic
Aqamuz (Siti Maesaroh) "PROFIL ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR : Patriot Pejuang
Kemerdekaan Republik Indonesia dan Syahid NII/TII”, Rotterdam-Holland.
Yayasan Al Abrar,2001. Hlm. 25-26
[7]A.
Wanua Tangke & Anwar Nasyaruddin " biografi perjuangan Kahar
Muzakkar",Cet.II Pustaka refleksi,. 2007. Hlm.27
[8]Dari
mana jepang punya emas di Indoenesia,baru datang bawa emas dari negerinya ?
kalau bukan hasil merampok Indonesia ? (Pen)
[9]Anhar
Gonggong,Abdul Qahhar Mudzakkar dari patiot hingga pemberontak, hlm 91.
[10]Erlic
Aqamuz (Siti Maesaroh) "PROFIL ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR : Patriot Pejuang
Kemerdekaan Republik Indonesia dan Syahid NII/TII”, Rotterdam-Holland.
Yayasan Al Abrar,2001. Hlm. 31
[11]Marwati
Djoened Poeponegoro : Nugroho, Sejarah Nasional Indonesia VI.
Cet.8.Jakarta : balai Pustaka,1993. Hlm.269-270.
[12]Gonggong,Anhar.
Abdul Qahhar Mudzakkar "Dari Patriot Hingga Pemberontak". Cet.
1.Jakarta : Grasindo,1992. Hlm. 107
[13]Abdul
Qahhar Mudzakkar,Tjatatan Bathin…., (djilid I). hlm. 11.
[14]Ibid.
[15]Abdul
Qahhar Mudzakkar,Revolusi Ketatanegaraan Indonesia,hal.40
[16]Tangke.
Andi Wanua,MisteriQahhar Mudzakkar Masih Hidup.Cet IV Pustaka refleksi,.
2005. Hlm.3
[17]Tangke.
Andi Wanua,MisteriQahhar Mudzakkar Masih Hidup.Cet IV Pustaka refleksi,.
2005. Hlm.4
[18]Hamid,
Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif
Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang
Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus
Institute,2014. Hlm 3.
[19]Hamid,
Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif
Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang
Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus
Institute,2014. Hlm 4-5.
[20]Hamid,
Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif
Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang
Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus
Institute,2014. Hlm 6.
[21]Hamid,
Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif
Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang
Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus
Institute,2014. Hlm 7.
[22]Hamid,
Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif
Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang
Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus
Institute,2014. Hlm 1.
[23]Hamid,
Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif
Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang
Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus
Institute,2014. Hlm 11.
[24]Hamid,
Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif
Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang
Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus
Institute,2014. Hlm 13-14
[25]Sabry,Muhammad
Ashar "Konsepsi Agama dan Negara Abdul Qahhar Mudzakkar di Indonesia
;Prespektif Politis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang
Pejuang Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press –
Qamus Institute,2014. Hlm 99
[26]Sabry,Muhammad
Ashar "Konsepsi Agama dan Negara Abdul Qahhar Mudzakkar di Indonesia
;Prespektif Politis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang
Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press –
Qamus Institute,2014. Hlm 101
[27]Abdul
Qahhar Mudzakkar,Tjatatan Bathin Pedjoeang Islam Revolusioner (Singapura:
Qalam Press,1381),h.6
[28]Alasan
yang dijadikan Abdul Qahhar Mudzakkar untuk menguatkan asumsi bahwa Soekarno
anti agama adalah pada kata-kata Soekarno dimuka siding BPUPKI pada 1 juni 1945
yang mengatakan "bukan Kristen buat Indonesia,bukan golongan Islam buat
Indonesia",adalah kata kata kategasan Soekarno menolak agama sebagai ciri
yang khas dalam kehidupan bangsa Indonesia dan juga sebagai ketegasan bahwa
soekarno melemparkan agama di luar pagar agama. Abdul Qahar Mudzakkar,Perang
ideology di Indonesia,Koreksi Pemikiran Politik Soekarno (Jakarta: Madinah
Press,1999),h.18
[29]Sabry,Muhammad
Ashar "Konsepsi Agama dan Negara Abdul Qahhar Mudzakkar di Indonesia
;Prespektif Politis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang
Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press –
Qamus Institute,2014. Hlm 118-119.
[30]Ibid,h.25
[31]Abdul
Qahhar Mudzakkar,Konsepsi Negara Demokrasi,h.12.
[32]Abdul
Qahhar Mudzakkar,Konsepsi…….Ibid., h.128
[33]Ibid.,
h. 119.
[34]Sabry,Muhammad
Ashar "Konsepsi Agama dan Negara Abdul Qahhar Mudzakkar di Indonesia
;Prespektif Politis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang
Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press –
Qamus Institute,2014. Hlm 123
[35]Damis,Rahmi.,"Abdul
Qahhar Mudzakkar Sebagai Pembaharu;Prespektif Puritanis" dalam ABDUL
QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai
Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 373
[36]Lihat
Riaz Hassan,Islam Dari konservatisme sampai Fundamentalisme (Jakarta:
CV. Rajawali, 1985),h.47.
[37]http/endraithennjelek.wordpress.com
[38]Lihat
Abdul Qahhar,Revolusi Ketatanegaraan Indonesia Menudju Persaudaraan Muslim (ttp.:
Khaerah Ummah,1982).h.21.
[39]Damis,Rahmi.,"Abdul
Qahhar Mudzakkar Sebagai Pembaharu;Prespektif Puritanis" dalam ABDUL
QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai
Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 376
[40]Lihat
Qahhar,Revolusi,h.67.
[41]Damis,Rahmi.,"Abdul
Qahhar Mudzakkar Sebagai Pembaharu;Prespektif Puritanis" dalam ABDUL
QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai
Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 379