Pemikiran Abd. Qahar Muzakkar


Abdul Qahhar Mudzakkar











Oleh

Ahmad Faturrahman
Marwah Safah
Fian Anawagis

JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2018


Abstrak
Abdul Qahhar Mudzakkar lahir pada tanggal 24 maret 1921 didesa lanipa-distrik ponrang,kabupaten Luwu yang terletak di pantai barat teluk bone,SulSel.
Abdul Qahhar Mudzakkar seorang keturunan bugis Luwu,dilahirkan sebagai anak kedua dari 13 bersaudara dan juga sebagai anak laki-laki pertama dari pasangan suami istri : Malinrang Allahyarham dengan Hj Kessah.
Semenjak Abdul Qahhar menimbah ilmu di jawa tengah pengetahuan mengenai agama yang dianutnya semakin mendalam. Islam telah membentuk watak orang menjadi semakin terang dan cemerlang,teguh, suci, lurus serta gagah berani,dalam menganut agama yang diyakininya. Yaitu agama yang telah mengajarkan kepada penganutnya bahwa sifat pengecut,bohong dan kemunafikan adalah sifat yang rendah serta hina yang perlu diperangi.Menurut cerita dari teman teman dan juga orang terdekatnya,disamping cerdas,pemberani,dan memiliki sifat yang unik,sejak masa kecil disekolah maupun diluar sekolah-nya sudah tampil bakak bakat kepemimpinan dalam diri Abdul Qahhar.
Secra kenseptual ,Qahhar menghendaki adanya penyatuan antara agama dan negara.Dalam hal tersebut beliau menghendaki agam islam dijadikan dasar dan idiologi bagi penyelenggaraan negara.Pendapat ini didasarka pada keyakinan bahwa isalam adalah agama yang sempurna baik pada aspek doktrin aupun kerisalahan dan juga menjadi agama yang dianut oleh mayoritas penduduk indonesia.Disamping itu,beliau menghendaki agar bentuk negara Republik Indonesia adalh bentuk negara federal dengan pertimbangan bahwa secra sosio-antropologis,Indonesia adalah negara yang majemuk dengan latar dan tradisi dan sejarah yang heterogen.Ketika konsep negara federal dan tawara Islam sebagai dasar penyelenggara itu gagal,maka beliau memilih jalan radikal dan revolusioner untuk mewujudkan cita-cita beliau tersebut .





BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
            Pasca kemerdekaan,bangsa Indonesia dihadapkan dengan berbagai permasalahan,seperti masalah pertahanan,keamanan,ekonomi,sosial,dan hubungan luar negeri.Khusus di bidang pertahanan keamanan,muncul sejumlah gerakan perlawanan terhadap pemerintah,seperti gerakan Darul Islam(DI yang dipelopori oleh S.M Kortosuwiryo di Jawa Barat,kemudian meluas dan mempengaruhi daerah-daerah lain seperti Jawa Tengah,Kalimantan Selatan,Aceh dan Sulawesi Selatan.Penyebab dan Motifasi pada masing-masing daerah itu berbeda.
Khusus di Sulawesi Selatan,lahirnya DI/TII berawal ketika pemerintah akan melakukan reorganisasi dan rasionalisasi ketentaraan pasca konferensi Meja Bundar(KMB).Sebagai putra daerah,Abdul Qahhar Mudzakkar meminta kepada pemerintah untuk kembali ke Sulawesi Selatan guna menyelesaikan persoalan Organisasi dan anggota-anggota bekas pejuang yang tergabung dalam Kesatuan Gerilyawan Sulawesi Selatan(KGSS)
            Sosok Qahhar merupakan sosok yang sangat fundamental,berbagai stigma seperti patriot,pemberontak,penulis produktif,dan pemikir diletakkan pada dirinya.Disebut patriot karena dirinya ikut berjasa dalam membela dan mempertahankan negara Indonesia dari serbuan penjajah.Dibidang militer ini,kariernya diakui sangat gemilang dan di anggap sebagai pemegang pangkat Letnal Kolonel pertama dari daerah Bugis.Sementara julukan pemberontak diberikan karena beliau dianggap membelot dan ingin mendirikan negara tersendiri yang berlabelkan Islam.Qahhar dianggap penulis yang produktif sekaligus pemikir karena beliau walaupun di tengah-tengah kesibukannya memimpin Perjuangan DI/TII madih sempat menulis beberapa buku.
B.Rumusan Masalah
            Agar makalah ini tidak melenceng dari pembahasan,maka penulis menarik rumusan masalah sebagai berikut
1.      Bagaimana Riwayat Hidup Abdul Qahhar Mudzakkar?
2.      Bagaimana pemikiran Abdul Qahhar Mudzakkar?
C.Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui Riwayat Hidup Qahhar Mudzakkar
2.      Untuk mengetahui Pemikiran Abdul Qahhar Mudzakkar


A.    RIWAYAT HIDUP ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR
Abdul Qahhar Mudzakkar lahir pada tanggal 24 maret 1921 didesa lanipa-distrik ponrang,kabupaten Luwu yang terletak di pantai barat teluk bone,SulSel. Abdul Qahhar Mudzakkar seorang keturunan bugis Luwu,dilahirkan sebagai anak kedua dari 13 bersaudara dan juga sebagai anak laki-laki pertama dari pasangan suami istri : Malinrang Allahyarham dengan Hj Kessah.[1]
Setelah tamat sekolah dasar tahun 1934 di lanipa,Abdul Qahhar melanjutkan ke Standaard School Muhammadiyah di palopo selama 4 tahun. Sebagai anak seorang laki-laki pertama dari keluarga yang cukup mampu,Abdul Qahhar oleh orang tuanya pada tahun 1937 kemudian dikirim ke solo jawa tengah. Untuk bekal kehidupan selanjutnya ia menyelasaikan pendidikan disekolah guru Muallim Muhammadiyah. Semenjak Abdul Qahhar menimbah ilmu di jawa tengah pengetahuan mengenai agama yang dianutnya semakin mendalam. Islam telah membentuk watak orang menjadi semakin terang dan cemerlang,teguh, suci, lurus serta gagah berani,dalam menganut agama yang diyakininya. Yaitu agama yang telah mengajarkan kepada penganutnya bahwa sifat pengecut,bohong dan kemunafikan adalah sifat yang rendah serta hina yang perlu diperangi.Menurut cerita dari teman teman dan juga orang terdekatnya,disamping cerdas,pemberani,dan memiliki sifat yang unik,sejak masa kecil disekolah maupun diluar sekolah-nya sudah tampil bakak bakat kepemimpinan dalam diri Abdul Qahhar.[2]
Perguruan Muhammadiyah di Solo itu berlatar belakang ajaran Islam yang dikelola oleh kiai dan ulama ulama besar besar berkalbu terbuka.Para kiai dan ulama yang telah mendidik Qahhar adalah orang-orang alim-bijaksana. Salah seorang pendidik itu adalah Prof. Abdul Qahhar Mudzakkir,seorang tokoh Islam yang sangat aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia,salah seorang anggota Piagam Jakarta.[3] Dari beliau inilah Qahhar memperoleh banyak wawasan keagamaan.Karena sangat terkesan dengan beliau,maka ia menambahkan kata Mudzakkar di belakang namanya.[4]
Pada awalnya,ditanah kelahirannya sendiri-SulSel,ia terpilih sebagai pemimpin pemandu Muhammadiyah dan organisasi pandu yang bernama Hizbul Wathan. Kemudian di Jakarta sebagai ketua,setelah bersama beberapa kawan seperjuangannya,Abdul Qahhar berhasil mendirikan "Gerakan pemuda Indonesia Sulawesi (GPIS)". Oleh karenanya ada pemuda-pemuda dari Sulawesi lain,yang juga membentuk organisasi angkatan pemuda Sulawesi,maka akhirnya kedua organisasi tersebut dilebur menjadi organisasi Kebangkitan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) yang dilengkapi dengan lascar. Ia menjadi sekertaris umum organisasi KRIS,karena disamping aktif-dalam organisasi tersebut pada awal lascar KRIS didirikan,Abdul Qahhar juga merangkap sebagai komandan pertama lascar KRIS. Kemudian ketika pemuda membentuk Barisan Berani Mati (BBM) ia menjadi salah seorang yang aktif.[5]
Menjelang usia 18 tahun Abdul Qahhar menikah dengan Siti Walinah Harjo Sudiro binti Abdullah (puteri solo). Kurang lebih dua tahun setelah pernikahannya,kemudian untuk memperkenalkan keluarganya kepada kedua orang tua dan keluarga besarnya di SulSel ia bersama istri anak dan ibu mertuanya kembali ke Sulawesi.[6] Takkala pendudukan jepang,hubungan Qahhar dengan jepang semakin sering,[7]Abdul Qahhar bersama Yusuf Samma berkesempatan bekerja pada Nippon Dohobu di Makassar. Akan tetapi karena "iri hati" dari pihak-pihak tertentu didalam pekerjaan ini ia mendapat banyak rintangan.[8]
Kemudian pada tahun 1945,setelah berada di Yogyakarta Abdul Qahhar sebagai komandan BKI (Batalion Kesatuan Indonesia) dengan pangkat mayor, selanjutnya menjadi komandan TRIPS (Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi) dengan pangkat colonel[9],setelah iya berhasil melaksanakan tugas membentuk TRIPS berdasarkan mandate penglima besar Jend Sudirman yang bertanggal 24 maret 1946.[10]
Pada tahun 1950,Qahhar melarikan diri ke hutan dan bergabung dengan KGSS,sebab utama pemberontakan ini adalah sebenarnya iyalah ambisi Qahhar untuk mendapat kedudukan pimpinan dalam APRIS,selain itu Qahhar juga menuntut supaya semua anggota KGSS dimasukkan ke dalam APRIS dengan nama Brigade Hasanuddin. Tuntutan ini tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah. Pemerintah hanya akan menerima anggota KGSS yang lulus dalam penyaringan, dan dianggap memenuhi syarat untuk masuk tentara.[11]
Inti kekuatan gerakan DI/TII di SulSel ialah mereka yang pernah ikut membela dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan tegaknya RI dalam periode perang kemerdekaan (1945-1949).[12]Gerakan Qahhar terbagi menjadi 2 fase yakni tahap pertama 1951-1953 yang oleh Qahhar disebut masa penggalangan dan masa peralihan.[13]Tahap kedua 1953-1965 yang oleh Abdul Qahhar disebut menggerakkan revolusi Islam.[14]
Bulan agustus 1953 merupakan awal peristiwa penting dan bersejarah bagi kehidupan patriot pejuang Sulawesi dan Abdul Qahhar Mudzakkar sendiri.Maka sejak bulan ini daratan Sulawesi dinyatakan sebagai sebagai daerah de facto DI/TII.Dimana pejuang Islam Revolusioner menegakkan pemerintahan Islam yang menjalankan Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist shahih.[15]
Dengan nuansa Islam,DI/TII SulSel semakin mendapat simpati dari masyarakat luas. Bagaikan sebuah ajakan yang menjanjikan suatu gerakan itupun semakin besar dan meluas.Hampir semua daerah tingkat II di SulSel khusunya wilayah pegunungan dijadikan markas anggota setria DI/TII.Pemerintah Soekarno melihat gerakan itu membahayakan sehingga TNI pun melancarkan perang dengan DI/TII. Meskipun penyerbuan bertubi-tubi,Qahhar bersama anggotanya takpernah gentar memberikan perlawanan. Melihat ketegaran gerakan TII ini tak kenal kompromi,pemerintah terpaksa mengubah strategi serbuannya. Strategi itu tampaknya ampuh. Soalnya,sejumlah petinggi milik DI/TII sempat dipengaruhi untuk bergabung dengan pemerintah,dalam hal ini TNI. Mereka dijanjikan kekuasaan dan pangkat yang menggiurkan.Ternyata iming-iming itu banyak diantara pengikut Qahhar membelok masuk kepangkuan TNI.[16]
Disaat seperti itulah. Entah berapa kali pihak pemerintah membentuk tim khusus untuk melakukan perundingan dengan Qahhar Mudzakkar yang tetap konsisten di hutan. Tim perundingan yang bertujuan mengajak Qahhar untuk berdamai itu kadang diketuai M.Yusuf (kini jendral). Ternyata meski mulai kehilangan anak buah andalan,Qahar tetap dalam sikapnya tak mengenal kompromi,apalagi menyerah. Bersama sisa-sisa anggotanya yang tetap konsisten, Qahhar tetap mengobarkan perlawanan,meski hal itu dilakukan di hutan hutan belantara dengan cara berpindah-pindah. Kadang di hutan SulSel,kadang di hutan Sulawesi Tenggara. Begitulah strategi perlawanan yang dilakukan DI/TII. Entah bagaimana prosesnya,dan peristiwa ini masih diragukan oleh sejumlah pengikut Qahhar pada 2 februari 1965,bertempat di pinggir sungai lasolo,Kab Kolaka, Sulawei Tenggara, tiba-tiba tersiar berita Qahhar tewas ditembak oleh pasukan siliwangi yang menyerbu markas DI/TII.[17]
B.     PEMIKIRAN ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR.
PILAR KEBANGSAAN MENURUT ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR :PERSPEKTIF IDEOLOGIS. (Abd Rahman Hamid)
            Selama ini,suguhan informasi yang dikonsumsi oleh public tentang Abdul Qahhar Mudzakkar cenderung pada kisah gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dan pemerintah sendiri memandangnya sebagai gerakan separatis (Disjar,1978) yang mengancam integritas bangsa. Tertutupnya ruang bagi gerakan ini tampak juga menutup ruang bagi sosialisasi pemahaman lain,jikatidak mau dikatakan baru,bagi tokoh ini. Padahal diranah local ceritanya justru terbalik,dia adalah tokoh yang dielu-elukan.[18]
            Berdiri dan kokohnya sebuah Negara sangat dipengaruhi oleh landasan yang kokoh. Pada saat siding BPUPKI 1 Juni 1945,Bung Karno mengajukan pilar kebangsaan yang ideal bagi bangsa Indonesia atau lebih dikenal dengan pancasila. Bila bung karno meletakkan pilar ketuhanan pada urutan terakhir,yang mendapat banyak kritik dari kalangan Muslim daalam siding BPUPKI (Latif,2011:75), maka Qahhar menempatkannya pada posisi utama.[19]
v  KETUHANAN
            Dalam buku Konsepsi Negara Demokrasi Indonesia,Qahhar menulis bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama,terdiri atas 90 % pemeluk agama Islam dan 10 % pemeluk agama lainnya. Atas dasar itulah,kata Qahhar, dasar Negara Indonesia harus dan mutlak berdasarkan Islam dan keimanan kepada Tuhan bagi segenap golongan suku bangsa Indonesia menurut keyakinan agamanya masing-masing. Bercermin dari pemikiran itu,jelas bahwa Qahhar menerima keberagaman sebagai realitas yak dapat diabaikan dalam meletakkan pilar kebangsaan.Secara spiritual,pedoman perjuangan Qahhar selalu merujuk pada Al Qur'an pada surah Al Hujurat ayat 13 yang artinya :
Hai manusia,sesungguhnya kami menciptakan kamu kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah aialah orang yang paling betaqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
            Mengacu pada pemikiran tersebut, Qahhar mengusulkan kepada Bung Karno untuk mengganti Pancasila dengan falsafah hidup rakyat Indonesia yang benar-benar kokoh dan kuat,sesuai dengan ajaran agama dan atau ditinjau,dijiwai dengan ajaran agama. Menurutnya, Pancasila bukanlah agama ataupun keyakinan yang dapat dijadikan petunjuk jalan hidup-mati manusia. Pancasila merupakan produk pikiran manusia yang memiliki sejumlah keterbatasan,sehingga tidak dapat dijadikan sebagai ideology bangsa.[20]
            Realitas yang tidak dapat di abaikan dalam kehidupan masyarakat Indonesia adalah tumbuh dan berkembangnya paham komunis. Dalam kaitan itu, kata Qahhar,Bung Karno adalah orang yang harus bertanggung jawab atas perkembangan komunisme di Indonesia karena paham itu disejajarkan dengan paham politik lainnya,nasionalisme dan Agama.[21]
            Dalam sebuah surat yang dikirim kepada Bung Karno,Qahhar mengatakan:
Liberalisme dan komunisme dalam sedjarah-hidupnya hanyalah megobarkan perang,menimbulkan kerusuhan bertukar ganti dank arena itu kedua matjam ideology ini wadjib ditantang dan wadjib dilawan dengan kebadjikan,diseur dan diajak untuk sadar,kembali ke jalan yang benar,kembali menempuh djalan damai jang ditunjukkan oleh Agama (Mudzakkar,tt:7).
            Qahhar sangat yakin bahwa demokrasi sejati yang bersendikan Islam dapat menciptakan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Hal itu didasarkan pada pesan Tuhan dalam Al Qur'an,bahwa Islam diturunkan ke muka bumi sebagai rahmat bagi seluruh alam,termasuk segenap umat manusia,tanpa kecuali.[22]
v  KEADILAN RAKYAT
Dan kalau ada golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kamu damaikan antara keduanya,tetapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain,hendaklah yang  melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut,damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil (QS Al- Hujurat : 9)
            Ayat tersebut selalu dirujuk sebagai landasar perjuangan,antara lain pada mukaddimah Piagam Makalua 1376 H, yang menekankan berlaku adil terhadap sesama. Untuk mengurai jalan pikiran ini, terlebih dahulu ditilik jalan perjuangan Qahhar dan pengikutnya pada saat pemerintah melaksanakan reorganisasi ketentaraan Nasional. Dalam pandangan mereka,tindakan itu tidak mencerminkan keadilan,bahkan sebaliknya. Berlatar ketidak adilan itulah Qahhar terpanggil memperjuangkan nasib teman temannya yang dahulu berjuang bersama memperjuangkan kemerdekaan. Kepedulian terhadap sesama merupakan cermin pengamalan pesan Tuhan yang mengatakan bahwa "orang-orang yang beriman itu bersaudara" (QS Al Hujurat : 10). Karena itu,manusia harus tolong menolong dalam berbuat kebaikan. Berlaku adil,dalam kaitan itu ditampilkan melalui penampungan dan pengurusan janda syuhada dan anak yatim.[23]
            Selain dari itu,Qahhar juga melarang penggunaan symbol-simbol budaya (kebangsawanan) karena dipandang  sebagai praktik feodalisme. Dalam tindakan itu tidak mencerminkan keadilan social,apalagi petunjuk agama yang melatakkan manusia semua sama dihadapan sang pencipta.[24] Dalam pedoman perjuangannya, Qahhar secara jelas dan tegas mengatakan bahwa segenap pejuang Islam revolusioner dan lapisan masyarakat Republik Islam Indonesia bagian timur, sengaja atau tidak sengaja melafaskan gelar kebangsawanan seperti anak opu, bau,puang,karaeng,andi,petta,daeng,jemma,laode,gede rake,gede bagus, eanggu, sayyid,teuku,dan raden wajib diperangi. Jika ada orang yang bermasa bodoh dan tidak membantah saat gelaran kebangsawanan itu dialamatkan kepadanya,maka wajib diperangi (ANRI Sulawesi,Reg.327).
KONSEPSI AGAMA DAN NEGARA ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR DI INDONESIA: PERSPEKTIF POLITIS (Muhammad Ashar Sabry)
Masalah yang cukup menyita perhatian kaum Muslimin dan menjadi wacana dominan yang mewarnai horizon pemikiran dunia Islam adalah masalah hubungan Negara dan Agama.Masalah ini menjadi tema sentral diskursus, disebabkan oleh munculnya konsep Negara bangsa (nation-states) dan berhebus-nya semangat sekularisme yang dibawa oleh pemikiran modern. Bahkan dalam dasawarsa terakhir,baik dalam konteks local,regional,nasional maupun international,perbincangan mengenai relasi Islam dan Negara menunjukkan corak yang kompoten dan beragama.[25]
Dalam konteks ke-Indonesia-an,perdebatan tentang relasi Agama Islam dan Negara juga tak kalah serunya. Salah satu tokoh penting yang tercatat dalam sejarah politik modern Indonesia berkaitan dengan diskursus wacana relasi Agama Islam dan Negara adalah Abdul Qahhar Mudzakkar.Penempatan beliau sebagai salah satu tokoh sentral adalah karena beliau melakukan gerakan radikal dan revolusioner ketika konsep Negara Islam ditolak oleh pemerintah pusat.[26]
Gagasan pemikiran Qahhar mengenai agama dapat dilihat dari tinjauannya tentang sumber dari kekacauan dunia dan pembenaran atas kebenaran Nabi Muhammad saw dan ajarannya serta tinjauannya terhadap agama lain. Menurut-nya,penyebab timbulnya berbagai macam keonaran,kerusakan dan kekacauan dalam pergaulan hidup manusia adalah karena hokum ajaran tuhan dalam agama banyak yang berubah,ditukargantikan dan dinodai oleh tangan manusia seperti yang ada dalam kitab Zabur,Taurat,dan Injil yang ada ditangan manusia sekarang. Disamping itu manusia meragukan dan menginkari kebenaran ajaran tuhan yang ada dalam kitab suci Al Qur'an.[27]
Golongan pendukung sekularisme dianggap picik dan sempit dalam pandangan Qahhar. Karena golongan ini melemparkan agama dari segala urusan Negara,sama sekali tidak mempunyai definisi kebangsaan dan unsur kenegaraan. Dalam hal ini, ia mencontoh golongan Soekarno yang picik dan sempit,hanya meraung sebesar suaranya,bertindak seringgi langit,membanggakan diri sebagai orang yang beragama,tetapi mati matian menolak agama sebagai dasar hidup Negara.Karena itu,layak jika dikatakan bahwa mereka termasuk salah satu diantara golongan yang menghancurkan dunia.[28]
Pendapat bahwa agama tidak mempunyai kekuatan pengaruh dalam berdirinya suatu bangsa dengan tegas dia tolak. Menurutnya,tidak ada satu bangsapun di muka bumi ini berdiri tanpa pengaruh ajaran agama,karena agama mempunyai mempunyai ikatan persatuan semangat manusia. Qahhar kemudian menganjurkan apa yang disebutnya Ikhwatunisme,yaitu istilah yang berasal dari surat Al Hujurat ayat 10 yang berbunyi ; Innama al-Mu'minuna Ikhwatun….artinya sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Tuhan adalah bersaudara …..Ikhwatun diartikan bersaudara,sehingga paham yang dianjurkannya itu  berarti paham persaudaraan umat manusia. Ajaran yang dianjurkannya itu, menurut Qahhar,merupakan ruh kebangsaan Islam yang telah dilalaikan oleh para alim-ulama dan pemimpin dunia Islam.[29]
Atas dasar keyakinan itu,Qahhar mengajak presiden Soekarno untuk menjadi penganjur perdamaian dunia yang berdasarkan ajaran Islam itu. Ajakannya disampaikan dalam salah satu suratnya,ia mengatakan :
"Bung Karno jang saja muliakan!
Alangkah bahagia dan agungja Bangsa kita dibawah pimpinan Bung karno djika sekarang dan sekarang djuga Bung Karno sebagai pemimpin Islam,Pemimpin Besar Bangsa Indonesia,tampil kemuka menjeru Maysrakat Dunia jang sedang dipertakuti Perang Dunia III.dipertakuti kekuasaan-Nuklir,kembali ke djalan damai dan perdamaian jang ditundjukkan oleh Tuhan dalam segala adjarannya jang ada di dalam Kitab Sutji al Qur'an dan dalam kitab Sudji Agama lainnya."[30]
Dalam pandangan Qahhar,pancasila adalah sesuatu yang dipaksakan oleh Soekarno menjadi dasar Negara. Justru menurutnya,sila pertama dari pancasila yaitu ketuhanan yang Maha Esa,yang menimbulkan tangisan dan tragedy berdarah di Indonesia karena ditolakoleh golongan agama,terutama oleh Islam. Tentang hal ini Qahhar mengatakan :
"Dasar ketuhanan Jang Maha Esa dalam pantjasila itu tidak diterima baik oleh Islam,sebab bukan sadja samar dan meragukan,tetapi malahan menjesatkan dan menimbulkan berbagai matjam tafsiran pendapat seperti terbukti kita lihat sekarang ini".[31]
            Menurutnya,system pemerintahan demokrasi sejati adalah pemerintahan presidensial,yaitu pemerintahan yang dikepalai oleh presiden selaku kepala pemerintahan dan atau kepala Negara bersama dengan satu dewan pemerintah (kabinet),yang terdiri atas menteri yang langsung dipilih oleh rakyat secara demokratis. System pemerintahan demokrasi sejati di pusat pemerintahan di Negara-negara bagian,yaitu kerakyatan dalam batas kedaulatan hokum Tuhan,menetapkan segala sesuatu dengan prinsip musyawarah melalui Dewan Perwakilan Rakyat.[32]
            Dengan tidak mengurangi makna demokrasi dalam tinjauannya,Qahhar mengeluarkan gagasan tentang dasar Negara yang menjadi ideology bersama,yaitu trisila,trilogy dasar dalam UUD Negara bahwa Negara demokrasi Indonesia atau Negara Republik Persatuan Indonesia ialah Negara hokum,merdeka dan demokratis dengan dasar.
1.      Ajaran Islam dan keimanan kepada Tuhan bagi segenap golongan suku bangsa Indonesia,menurut ajaran syariat agamanya masing-masing.
2.      Keadilan social di sepanjang ajaran Islam dan ajaran Agama yang dianut segenap golongan suku bangsa Indonesia menurut ajaran syariat agamanya masing-masing.
3.      Demokrasi sejati disepanjang ajaran Islam dan ajaran agama yang dianut oleh segenap golongan suku bangsa Indonesia menurut ajaran syariat agamanya masing-masing.[33]
Hal ini menjadi penjelasan perbedaan antara hirarki dunia barat dan penerapan hukumnya,dengan hirarki kenegaraan Islam dan penerapan hukumnya. Qahhar menjelaskan bahwa di dunia barat,jika berbuat jahat pada dataran pemegang kekuasaannya hanya dijatuhi hukuman adat rasio. Sedangkan,manusia dan pemegang kekuasaan dalam Negara Islam termasuk Indonesia jika berbuat salah dan dosa ataupun kejahatan lain,akan dijatuhi hukuman menurut ketentuan hokum ajaran Tuhan dan syariat Islam.[34]
ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR SEBAGAI PEMBAHARU : PERSPEKTIF PURITANIS (Rahmi Damis)
Mendengar nama Abdul Qahhar Mudzakkar,maka ia akan dianggap sebagai pahlawan dan disisi lain diangap sebagai pemberontak yang ingin membentuk Negara tersendiri berasaskan Islam. Pada sisi lain,kita dapat ,mengatakan jikalau sesungguhnya Qahhar dapat digolongkan sebagai fundamentalis dan sekaligus pembaharu.[35]
Qahhar dalam perjuangannya,ingin menjadikan tatanan kehidupan bernegara dan berbangsa berdasarkan ketentuan Al-Qur'an dan Hadis. Hal ini sama pandangannya dengan kaum fundamentalis lainnya,seperti yang ditulis oleh Rias Hassan tentang prinsip Negara Islam yaitu : kekuasaan tertinggi terhadap seluruh alam dan hokum hanya kepada Allah,Tuhan seru sekalian alam. Hokum Negara harus didasarkan pada al Qur'an dan sunnah. Hokum yang berlaku harus sesuai dengan ketentuan Al Qur'an dan sunnah Nabi,tidak boleh ada aturan atau hokum yang bertentangan dengan kedua sumber tersebut.[36]
Didorong oleh keinginan menjadikan Al-Qur'an dan hadis sebagai dasar Negara Republik Indonesia,maka pada tgl 7 agustus 1953,[37] Qahhar memproklamasikan SulSel menjadi bagian dari NII yang berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis. Selanjutnya iakatakana:
"saja melihat Bung Karno setjaca sungguh-sungguh memperdjuangkan hidup mati bangsa,demi membela dan menegakkan perdamaian dan prikemanusiaan. Karena itu,saya mengadjak Bung Karno setjaca bersama-sama untuk kembali kepada kaidah hokum Islam yang sebenarnja sebagai suatu kebenaran dan itu adalah wajib (al-rudju ilal haqqi wadjibun). Selama ini kita sudah djauh melangkah,membuat kerusakan jang sebenarnja tidak perlu terdjadi,tetapi kita harus sadari bahwa semuanja adalah kesalahan bersama dan tiba saanja kita kebali ke djalan jang benar,membela dan memepertahankan kejakinan jang benar demi tanggung djawab kita dunia dan achirat."[38]
Salah satu tujuan gerakan Qahhar ialah ingin memperjuangkan kemurnian ajaran Islam,Qahhar menganjurkan kembali ke ajaran Islam karena mengandung kebenaran sejati,keadilan dan kemajuan.[39] Bagi Qahhar untuk mencapai kemajuan dan perdamaian dunia maka harus mengikuti dua syarat yaitu :
1)      Feodalisme,perpecahan,parti politik,mazhab,tarikat,dan segala macam churafat harus dibersihkan,diganti dengan adjaran Islam Al Qur'an dan Hadis sahih.
2)      Meneruskan revolusi kemerdekaan dengan penuh kesungguhan dan bersedia berkorban untuk mentjapai tudjuan revolusi ketetanegaraan Indonesia,mewudjudkan tatanegara persaudaraan yang berdirik tegak diatas landasan hidup moral dan kehidupan politik jang kuat yang mempunyai norma-norma hidup jang harmonis,adil dan demokratis jang berdasar pada adjaran Islam.[40]
Sikap Qahhar tersebut menunjukkan bahwa ia adalah seseorang yang fundamentalis sekaligus sebagai modernis,mengembalikan ajaran Islam kepada sumber utamanya yakni Al Qur'an dan hadis dan menjadkan ajaran Islam sebagai landasan dalam segala aspek kehidupan. Sisi lain menunjukkan pembaharuan Qahhar adalah sikapnya yang menentang tradisi yang memisahkan antara kaum bangsawan dan rakyat biasa. Baginya,manusia adalah sama dihadapan Tuhan.[41]



















BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Abdul Qahhar adalah seorang fundamentalis pembaharu.Terlihat dalam gerakannya yang mengajak segenap umat islam termasuk Presiden Soekarno untuk kembali kepada ajaran Islam yang sesungguhnya yaitu Al-Qur’an dan Hadist.Dia menjadikan kedua sumber ajaran islam tersebut sebagai landasan dalam menata hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara.Dia melawan pemerintah yang resmi,dalam usahanya mengembalikan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara secara revolusioner,bukan evolusioner.Karena itu,Abdul Qahhar bukannlah pemberontak tetapi seorang penata ulang kehidupan Indonesia.












REFERENSI


[1]Erlic Aqamuz (Siti Maesaroh) "PROFIL ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR : Patriot Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia dan Syahid NII/TII”, Rotterdam-Holland. Yayasan Al Abrar,2001. Hlm. 18-20
[2]Erlic Aqamuz (Siti Maesaroh) "PROFIL ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR : Patriot Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia dan Syahid NII/TII”, Rotterdam-Holland. Yayasan Al Abrar,2001. Hlm. 22-23
[3]Erlic Aqamus,loc cit
[4]Sabry, Muhammad Sadik, "Pemikiran Keagamaan Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif Tafsir/Eksegeris” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 31.
[5]Erlic Aqamuz (Siti Maesaroh) "PROFIL ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR : Patriot Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia dan Syahid NII/TII”, Rotterdam-Holland. Yayasan Al Abrar,2001. Hlm.28
[6]Erlic Aqamuz (Siti Maesaroh) "PROFIL ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR : Patriot Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia dan Syahid NII/TII”, Rotterdam-Holland. Yayasan Al Abrar,2001. Hlm. 25-26
[7]A. Wanua Tangke & Anwar Nasyaruddin " biografi perjuangan Kahar Muzakkar",Cet.II Pustaka refleksi,. 2007. Hlm.27
[8]Dari mana jepang punya emas di Indoenesia,baru datang bawa emas dari negerinya ? kalau bukan hasil merampok Indonesia ? (Pen)
[9]Anhar Gonggong,Abdul Qahhar Mudzakkar dari patiot hingga pemberontak, hlm 91.
[10]Erlic Aqamuz (Siti Maesaroh) "PROFIL ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR : Patriot Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia dan Syahid NII/TII”, Rotterdam-Holland. Yayasan Al Abrar,2001. Hlm. 31
[11]Marwati Djoened Poeponegoro : Nugroho, Sejarah Nasional Indonesia VI. Cet.8.Jakarta : balai Pustaka,1993. Hlm.269-270.
[12]Gonggong,Anhar. Abdul Qahhar Mudzakkar "Dari Patriot Hingga Pemberontak". Cet. 1.Jakarta : Grasindo,1992. Hlm. 107
[13]Abdul Qahhar Mudzakkar,Tjatatan Bathin…., (djilid I). hlm. 11.
[14]Ibid.
[15]Abdul Qahhar Mudzakkar,Revolusi Ketatanegaraan Indonesia,hal.40
[16]Tangke. Andi Wanua,MisteriQahhar Mudzakkar Masih Hidup.Cet IV Pustaka refleksi,. 2005. Hlm.3
[17]Tangke. Andi Wanua,MisteriQahhar Mudzakkar Masih Hidup.Cet IV Pustaka refleksi,. 2005. Hlm.4
[18]Hamid, Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 3.
[19]Hamid, Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 4-5.
[20]Hamid, Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 6.
[21]Hamid, Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 7.
[22]Hamid, Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 1.
[23]Hamid, Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 11.
[24]Hamid, Abd Rahman, "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar;Prespektif Ideologis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 13-14
[25]Sabry,Muhammad Ashar "Konsepsi Agama dan Negara Abdul Qahhar Mudzakkar di Indonesia ;Prespektif Politis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa,Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 99
[26]Sabry,Muhammad Ashar "Konsepsi Agama dan Negara Abdul Qahhar Mudzakkar di Indonesia ;Prespektif Politis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 101
[27]Abdul Qahhar Mudzakkar,Tjatatan Bathin Pedjoeang Islam Revolusioner (Singapura: Qalam Press,1381),h.6
[28]Alasan yang dijadikan Abdul Qahhar Mudzakkar untuk menguatkan asumsi bahwa Soekarno anti agama adalah pada kata-kata Soekarno dimuka siding BPUPKI pada 1 juni 1945 yang mengatakan "bukan Kristen buat Indonesia,bukan golongan Islam buat Indonesia",adalah kata kata kategasan Soekarno menolak agama sebagai ciri yang khas dalam kehidupan bangsa Indonesia dan juga sebagai ketegasan bahwa soekarno melemparkan agama di luar pagar agama. Abdul Qahar Mudzakkar,Perang ideology di Indonesia,Koreksi Pemikiran Politik Soekarno (Jakarta: Madinah Press,1999),h.18
[29]Sabry,Muhammad Ashar "Konsepsi Agama dan Negara Abdul Qahhar Mudzakkar di Indonesia ;Prespektif Politis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 118-119.
[30]Ibid,h.25
[31]Abdul Qahhar Mudzakkar,Konsepsi Negara Demokrasi,h.12.
[32]Abdul Qahhar Mudzakkar,Konsepsi…….Ibid., h.128
[33]Ibid., h. 119.
[34]Sabry,Muhammad Ashar "Konsepsi Agama dan Negara Abdul Qahhar Mudzakkar di Indonesia ;Prespektif Politis” dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 123
[35]Damis,Rahmi.,"Abdul Qahhar Mudzakkar Sebagai Pembaharu;Prespektif Puritanis" dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 373
[36]Lihat Riaz Hassan,Islam Dari konservatisme sampai Fundamentalisme (Jakarta: CV. Rajawali, 1985),h.47.
[37]http/endraithennjelek.wordpress.com
[38]Lihat Abdul Qahhar,Revolusi Ketatanegaraan Indonesia Menudju Persaudaraan Muslim (ttp.: Khaerah Ummah,1982).h.21.
[39]Damis,Rahmi.,"Abdul Qahhar Mudzakkar Sebagai Pembaharu;Prespektif Puritanis" dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 376
[40]Lihat Qahhar,Revolusi,h.67.
[41]Damis,Rahmi.,"Abdul Qahhar Mudzakkar Sebagai Pembaharu;Prespektif Puritanis" dalam ABDUL QAHHAR MUDZAKKAR ; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa, Ditinjau dari Berbagai Aspek. Tangerang: C3-Huriya Press – Qamus Institute,2014. Hlm 379