Dari Haymarket ke Dapur: Refleksi Hari Buruh di Tengah Realitas Relawan SPPG

Tepat pada tanggal 1 Mei 2026, jutaan warga dari berbagai negara memperingati hari buruh internasional atau mayday. Peringatan ini bukan sekadar hari libur nasional, melainkan momentum historis yang merefleksikan panjangnya perjuangan kelas pekerja dalam menuntut hak-hak dasar mereka. Dimana para buruh di berbagai belahan dunia turun ke jalan untuk memperjuangkan hak mereka sejak dahulu.

Sejak akhir abad ke-19, buruh di berbagai negara menghadapi sistem kerja yang eksploitatif, jam kerja yang dapat mencapai 14 hingga 16 jam per hari, upah rendah, serta tingginya risiko kecelakaan kerja. Kondisi ini mendorong lahirnya gelombang perlawanan kolektif terhadap pemilik modal.

Puncak dari perjuangan tersebut terjadi pada 1 Mei 1886 di Amerika Serikat, ketika ribuan buruh melakukan mogok kerja massal untuk menuntut pemberlakuan jam kerja delapan jam. Aksi tersebut berujung pada tragedi Haymarket Affair, yang menjadi simbol penting dalam sejarah gerakan buruh dunia.

Peristiwa ini menegaskan bahwa hak-hak yang hari ini dianggap “normal” merupakan hasil dari perjuangan panjang, konflik, dan pengorbanan. Namun, lebih dari satu abad setelahnya, pertanyaan mendasar tetap relevan: apakah nilai-nilai tersebut benar-benar telah terwujud secara merata?

Sudah lebih satu abad setelah perjuangan tersebut muncul pertanyaan mendasar yang masih relevan: apakah nilai-nilai yang diperjuangkan dalam Sejarah Gerakan buruh benar-benar telah terwujud secara merata?
Di Tengah narasi kemajuan dunia modern, praktik kerja yang tidak layak justru kerap muncul dalam bentuk yang lebih halus dan tidak selalu terlihat. Salah satu contohnya dapat ditemukan dalam sistem kerja relawan SPPG, yang secara formal tidak dikategorikan sebagai buruh, tetapi dalam praktiknya menjalankan fungsi dan beban kerja layaknya pekerja pada umumnya.

Di saat sebagian besar orang masih terlelap, aktivitas di dapur SPPG justru telah dimulai. Pada divisi persiapan dan pengolahan, para relawan memulai pekerjaan sejak tengah malam, menyiapkan bahan, memasak, hingga memastikan distribusi berjalan lancar hingga pagi, bahkan kerap berlanjut hingga siang hari.
Sementara itu, di bagian cuci stainless, ritme kerja tidak kalah panjang. Pekerjaan baru benar-benar dimulai ketika aktivitas utama selesai, membuat mereka harus bekerja dari siang hingga larut malam, bahkan hingga dini hari.

Rutinitas ini bukan sekadar melelahkan secara fisik, tetapi juga menguras energi dalam jangka panjang. Jam istirahat yang tidak menentu, ritme kerja yang berulang, serta tuntutan untuk tetap konsisten setiap hari menjadi bagian dari realitas yang mereka hadapi.
Jika merujuk pada semangat hari buruh internasional yang memperjuangkan jam kerja manusiawi dan perlindungan pekerja, kondisi ini memunculkan pertanyaan. Di mana posisi para relawan ini dalam kerangka tersebut?
Status mereka sebagai “relawan” menempatkan mereka dalam ruang abu-abu, di satu sisi mereka bukan pekerja formal, namun di sisi lain beban dan tanggung jawab yang mereka jalankan menyerupai sistem kerja profesional.

Dalam konteks ini, penting untuk mempertanyakan kembali: apakah label “relawan” cukup untuk membenarkan sistem kerja dengan intensitas tinggi tanpa standar perlindungan yang jelas? Ataukah ini merupakan bentuk baru dari praktik kerja yang selama ini justru diperjuangkan untuk dihapuskan?
Pada akhirnya, refleksi Hari Buruh tidak hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga tentang membaca realitas hari ini. Apakah label “relawan” cukup untuk membenarkan sistem kerja dengan intensitas tinggi tanpa standar perlindungan yang jelas? Ataukah ini merupakan bentuk baru dari praktik kerja yang selama ini justru diperjuangkan untuk dihapuskan?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting, agar semangat perjuangan buruh tidak berhenti sebagai peringatan tahunan, tetapi tetap hidup sebagai alat untuk mengkritisi dan memperbaiki realitas kerja di masa kini.

Referensi 
Kompas.com. (2026, 1 Mei). Sejarah Hari Buruh Internasional: Dari Tragedi Haymarket hingga Peringatan.
Republika. (2026, 1 Mei). Sejarah Hari Buruh: Peristiwa di Balik May Day. Diakses dari : news.republika.co.id 

Biodata penulis
Abd. Latif Indri. Alumni jurusaan Ilmu hubungan internasional Universitas Bosowa yang tertarik pada isu ketenagakerjaan dan kebijakan publik