Perniagaan Kerajaan Gowa
April 28, 2022
Makalah
“Perekonomian/PerniagaanKerajaanGowa”
Di
Susun Oleh:
Kelompok
II
JURUSAN
SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS
ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
TAHUN
2018
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pembentukan
Gowa sebagai kota perdagangan, tidak dapat dipahami tanpa pengetahuan tentang
kehidupan perniagaan penduduk Sulawesi Selatan dam posisi Makassar dalam peta
perdagangan Nusantara baik pada masa Kerajaan maupun masa pemerintahan Hindia
Belanda. Tampilnya kerajaan Gowa sebagai kerajaan perdagangan tidak dapat
dipisahkan dari posisi Makassar yang secara Geografiis sangat strategis
ditengah jaringan pelayaran Nusantara dan Asia Tenggara.
Sejarah
Makassar pada abad XVII, pernah ditulis oleh Darmawati A. dalam tesisnya “Somba
Opu Dalam Jaringan Pelayaran dan Perdagangan Nusantara Abad XVII”. Di dalam
tesis ini dijelaskan mengenai perdagangan rempah-rempah yang sangat popular
ketika itu, yang mana rempah-rempah pada waktu itu sangat dibutuhkan oleh
bangsa Eropa dan juga Asia lainnya. Bahkan harganya lebih mahal dibandingkan
dengan komoditas lainnya seperti keramik, beras, lada, dan lain sebagainnya.
B. Rumusan
Masalah
1)
Sejak kapan Kerajaan
Gowa berperan dalam percaturan perdagangan Nusantara?
2)
Faktor-faktor apakah
yang mendukung Kerajaan Gowa menjadi Bandar Perniagaan?
3)
Jenis-jenis Komoditas
apakah yang diperjualbelikan di Makassar?
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Kehadiran
Kerajaan Gowa dalam Perniagaan
Gowa
sebagai kerajaan niaga yang pernah memainkan peranan pentingdikawasan Nusantara
bagian Timur bukanlah negara yang berkuasa di sektor perdagangan saja,
melainkan juga memperoleh kekuasaan dan kekayaannya dari sektor agricultural.
Bahkan munculnya sebagai standar transito untuk sebagian besar pedagang
dimungkinkan oleh sektor ini. Hasil pertanian, terutama beras telah berhasil
mensuplai penduduk dengan stok yang senantiasa lebih dari cukup. Dari sektor
ini pula mereka memproduksi kapas untuk bahan pakaian dalam berbagai bentuk
tanpa harus mengimpor lagi pakaian dari bahan yang sama.
Namun
demikian, berbicara tentang Kerajaan Gowa masa silam pertama-tama ia harus
melihat sebagai suatu negara niaga lebih dari negara yang hanya terpukau dalam
lingkup pertanian saja. Pandangan ini akan segera dimengerti dan disorot dari kehidupan
perekonomian dan kebudayaan bahwa berkat kehidupan maritim, kerajaan Gowa
mempunyai gengsi internasional dan dapat berhubungan dengan bangsa-bangsa lain
dibelahan bumi ini.[1]
Sebenarnya
kemunculan Gowa sebagai negara niaga paling tidak, sudah nampak sejak dekade
pertama abad XVI yang untuk sebagian besarnya adalah efek dari kejatuhan Malaka
ke tangan Portugis. Pada tahun 1511 dimana saat Malaka takluk, banyak pedagang
pindah dari Malaka ke tempat-tempat laintermasuk ke Gowa. Tidak dapat
dipastikan bilamana kerajaan Gowa terlibat dalam kegiatan perniagaan.
Beberapa
peneliti memperkirakan awal kemunculannya pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-9,
Karaeng Tumaparisi Kallonna.[2]
Dugaan itu didasarkan atas tiga faktor. Pertama, sebelum masa pemerintahannya
istana raja dan pusat pemerintahan berada di Tamalatea (wilayah Sungguminasa)
yang terletak jauh dari wilayah pantai sekitar enam kilometer. Hal ini
dipandang sebagai faktor yang menunjukkan bahwa kerajaan itu berorientasi ke
dunia agraris. Kedua, raja ini yang mengawali pemindahan istana dan pusat
pemerintahan ke Benteng Somba Opu yang dibangun di pesisir dekat muara Sungai
Berang. Wilayah Somba Opu ini yang dijadikan Bandar niaga kerajaan itu,
sehingga dipandang sebagai awal kerajaan itu terlibat dalam dunia niaga.
Terakhir pada masa pemerintahannya baru dikenal adanya jabatan syahbandar yang
bertugas mengatur lalu lintas niaga dan pajak perdagangan di pelabuhan.[3]Apa
yang mendorong raja ini mengalihkan perhatiannya pada dunia niaga tidak
diketahui dengan pasti.
Akan
tetapi bila memperhatikan latar belakang perkembangan niaga di wilayah ini,
usaha yang dilakukannya dapat diperkirakan terdorong oleh besarnya keuntungan
ekonomi dalam dunia niaga. Latar belakang keluarga Karaeng Tumaparisi Kallonna
memiliki pertalian darah dengan keluarga pedagang. Ibunya, I Rerasi, adalah
putri pedagang kapur dari daerah utara yang mengunjungi kerajaan tersebut pada
masa pemerintahan Raja Gowa ke-7, Batara Gowa.
Dalam
hubungan ini ia tentunya dipengaruhi oleh jiwa dagang yang diwarisinya dan
keadaan kegiatan keluarganya. Langkah awal yang ditempuh kerajaan Gowa dalam
mengembangkan pengaruh kekuasaannya, yaitu menaklukan kerajaan saudara dan
tetangganya yaitu Tallo dan sekutu-sekutunya seperti Maros dan Polobangkaeng
yang telah lama bergiat dalam dunia niaga. Kemudian kerajaan Gowa bergiat
memperluas pengaruh kekuasaannya dengan menaklukan kerajaan-kerajaan lainnya
seperti Garassi, Katingang, Parigi, Siang, Suppa, Sidendreng, Lembangang,
Bulukumba dan Selayar. Sementara bekas sekutu Tallo (Maros dan Polobangkaeng)
dan beberapa kerajaan yang kuat seperti Salumeko, Bone dan Luwu dijalin
perjanjian persahabatan. Politik perluasan kekuasaan itu terkandung harapan
bahwa kerajaan-kerajaan itu nantinya akan mengalihkan kegiatan perniagaan
mereka ke Bandar niaga Kerajaan Gowa.
Pada
dasarnya kerajaan itu melakukan hubungan niaga dengan Gowa, akan tetapi mereka
tetap bergiat mengembangkan Bandar niaga mereka masing-masing. Keadaan itu
dipandang menghambat usaha untuk mengembangkan dan memajukan perniagaan,
sehingga ketika Tunipallangga menduduki tahta dilaksanakan penaklukan terhadap
kerajaan-kerajaan di wilayah pesisir, seperti siang, Bacukiki, Suppa,
Sidendreng, Bajeng, Lengkese, Polobangkaeng, Lamuru, Soppeng, Lamatti, Wajo,
Panaikang, Duri, Bulukumba, berbagai kerajaan kecil disekitar Bone, dan
kerajaan kecil lainnya. Berbeda dengan pendahulunya, raja inidinyatakan
memaksakan kerajaan-kerajaan yang ditaklukan untuk mengangkut penduduk dan
harta bendanya ke Gowa.[4]
Penduduk
wilayah taklukan yang diangkut itu ditempatkan di sekitar Pelabuhan Tallo dan
Pelabuhan Somba Opu. Kehadiran mereka itu bukan hanya meningkatkan jumlah
penduduk tetapi yang terpenting adalah untuk memanfaatkan keahlian mereka,
terutama yang telah berpengalaman dan bergiat pada pusat-pusat perdagangan asal
mereka, untuk memajukan Bandar niaga Kerajaan Gowa. Kebijaksanaan itu berarti
bukan semata-mata ditujukan untuk mengeksploitasi tenaga dan barang tetapi juga
berusaha untuk memanfaatkan serta mengalihkan kemampuan dan tekhnologi dari
kerajaan-kerajaan taklukan. Itulah sebabnya pada periode pemerintahannya
terjadi perubahan dalam bidang organisasi politik, ekonomi dan sosial.
Daerah-daerah
yang ditaklukan tersebut disamping penduduknya bergiat dalam bidang niaga
adalah daerah yang kaya akan produksi pertanian, peternakan dan perikanan.
Seperti diungkapkan Manoel Pinto ketika mengunjungi Sidendreng pada tahun 1548:
“Menurut
saya negeri ini yang paling baik yang pernah saya lihat di dunia, karena daerahnya
berupa daratan dimana padi, ternak, ikan dan buah-buahan berlimpah-ruah.
Kotanya terletak di tepi danau di mana perahu-perahu besar dan kecil, berlayar
simpang siur. Di sekeliling danau itu terdapat pula kota-kota yang makmur”.[5]
Demikian
juga dengan kerajaan lainnya, seperti Pangkajene (Siang) dan Suppa. Bahkan
penduduk Kerajaan yang ditaklukan dimanfaatkan sebagai tenaga kerja kasar
ataupun dijual sebagai budak. Budak merupakan salah satu komoditi perdagangan
yang tidak kalah pentingnya pada waktu itu, baik untuk digunakan sebagai tenaga
pendayung, pengangkut beban ataupun kegiatan kerja lainnya. Hal ini pula
merupakan satu faktor yang menempatkan daerah Makassar pada masa itu sebagai
pusat perdagangan budak, di samping orang-orang curian serta pengeksporan
kembali budak-budak yang berasal dari Kalimantan, Timor, Manggarai, Solor,
Alor, dan Tanimbar.[6]
Politik
perluasan kekuasaan dan besarnya perhatian yang dilandasi oleh sikap terbuka
dari penguasa Gowa terhadap kehidupan perniagaan akhirnya berhasil menempatkan
Makassar sebagai satu-satunya pusat perdagangan dan pangkalan kegiatan maritim
di wilayah itu. Disamping itu tidak dapat diabaikan begitu saja peranan para
pedagang dan pelaut yang melakukan aktifitas niaga disana, yang telah berhasil
menjadikan Makassar sebagai Bandar niaga tempat pemasaran produksi perdagangan.
Karena itu Pelabuhan Makassar tampil sebagai Bandar utama mereka dalam hubungan
dengan Bandar niaga lain.Kemajuan yang dicapai itu ternyata tidak memberikan
kepuasan bagi pedagang Belanda. Ini disebabkan karena pihak Belanda tidak
menginginkan keberadaan pedagang Eropa dalam perdagangan rempah-rempah di
Makassar.
Bagi
pihak Belanda pedagang lain merupakan musuh dan saingan. Di pihak lain Belanda
yang telah menanamkan kekuasaannya setelah mengusir Portugis dan Spanyol
melakukan gangguan terhadap perahu dagang-perahu dagang Makassar di perairan
Maluku untuk dapat memonopoli perdagangan rempah-rempah.
Pertentangan
antara VOC dengan Makassar pada dasarnya merupakan pertarungan pemikiran antara
kebijaksanaan VOC “berdagang sendiri” (allenhandel) atau lazim disebut monopoli
versus perdagangan bebas yang diterapkan kerajaan Gowa. Karena itu kerajaan
Gowa bergiat membangun benteng-benteng pertahanan diawali dengan Benteng Tallo
di bagian utara dan Benteng Panakkukang di bagian selatan, Benteng Ujung Tanah,
Ujung Pandang, Barobaso, Mariso, Garasi dan Barombong, untuk melindungi
kedudukan mereka dari ancaman kompeni; juga dipersiapkan pembuatan jenis perahu
gorab sekitar tahun 1620. Menurut Nooteboom pembuatan perahu gorab merupakan
bantuan dari Portugis. Pada tahun 1612 dibangun lagi Sembilan perahu gorab atas
perintah Karaeng Matoaya (raja Tallo).[7]
B. Posisi
Makassar dalam Jaringan Perdagangan dan Sistem Perdagangan
Kennet
R. Hall meyakini sekitar abad XIV dan awal abad XV, terdapat lima jaringan perdagangan
(commercial zones).[8]
1) Jaringan
perdagangan. Teluk Bengal yang meliputi pesisir Koromandel di India Selatan,
Seilon, Birma, serta pesisir utara dan barat Sumatra;
2) Jaringan
perdagangan Selat Malaka;
3) Jaringan
perdagangan yang meliputi pesisir timur Semenanjung Malaka, Thailand dan
Vietnam Selatan (sebut saja dengan jaringan perdagangan Laut Cina Selatan);
4) Jaringan
perdagangan Laut Sulu, meliputi pesisir barat Luzon, mindoro, Cebu, Mindanao
dan pesisir utara Kalimantan (Brunei Darussalam);
5) Jaringan
Laut Jawa yang meliputi Kepulauan Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, pesisir
barat Kalimantan, Jawa, dan bagian selatan Sumatra.
Pada
dasarnya setiap jaringan perdagangan itu memiliki pola perkembangan pertukaran
internalnya akan tetapi berlangsung pula hubungan perdagangan antara jaringan
perdagangan itu.
Transaksi
dagang pada waktu itu umumnya dilakukan secara barter. Beras dan barang lainnya
yang dibeli di pelabuhan bagian barat oleh pedagang Bugis Makassar, kemudian
dijual secara barter dengan rempah-rempah. Penukaran secara barter ini
didasarkan pada perbandingan kesatuan yang telah ditetapkan oleh kedua belah
pihak. Sistem penukaran seperti ini berlaku juga bagi barang dagangan yang
berasal dari negeri asing, misalnya pertukaran antara kain buatan India dalam
kesatuan potong dengan rempah-rempah dalam kesatuan bahar. Bahar digunakan
sebagai kesatuan berat dan sering berbeda ukurannya disetiap tempat, seperti
bahar Maluku = 600 pond, sedangkan bahar Malaka = 550 pond.[9]
Di
bandar Somba Opu orang Portugis sering membawa tunai berupa mata uang timah
Cina untuk kemudian diserahkan kepada pedagang Bugis Makassar yang akan pergi
ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Para pedagang Bugis Makassar yang
menerima semacam uang muka ini memberikan jaminan secara tertulis. Surat tanda
terima ini ditulis dalam bahasa Melayu.[10]
Sistem
barter yang dipergunakan oleh para pedagang antara pedagang asing lokal, berupa
tukar menukar barang dagangan yang diperlukan. Seperti pakaian, senjata, dan
porselen dibawa oleh pedagang dari Cina, Gujarat dan Portugis. Kemudian ditukar
ke pedagang Bugis Makassar untuk selanjutnya barang tersebut di bawa ke pelosok
Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Nusa Tenggara untuk ditukar dengan
rempah-rempah, kemudian dijual lagi ke pedagang asing.
Adapun
alat tukar uang di bandar Somba Opu sekitar abad XVII, yaitu telah dibuat mata
uang dari emas atau timah disebut dinar yang berbentuk besar dan kupa yang
berbentuk kecil, semua menggunakan tulisan Arab. Mata uang dari timah disebut
benggolo.[11] Pada
masa Karaeng Matoaya telah didirikan percetakan uang yang sangat menunjang bagi
kelancaran perdagangan di bandar Somba Opu.
Atas
anjurannya mata uang emas dan perak dicetak, walaupun pada akhir tahun 1650
terjadi devaluasi emas yang semula masih bertahan nilainya sebesar 4 shilling
atau 0,8 real Spanyol.[12]
Salah
satu penghasilan terpenting bagi kerajaan yaitu perdagangan dan pemberian dalam
bentuk barang maupun uang. Para bangsawan bertindak pula sebagai pedagang dan
memberikan saham kepada pedagang yang membutuhkan dengan syarat-syarat
tertentu. Sesuai yang termuat dalam kitab Amanna Gappa, yaitu pemberi saham
acapkali menjadi pembeli barang yang dimodalinya atau menjadi calo dengan hak
komisi, jual total penjualan kemudian dibagi tiga, sepertiga pertama dan
sepertiga kedua masing-masing untuk pemilik modal, sisanya digunakan untuk
mengembalikan perongkosan peralatan dan awak kapal.
Para
bangsawan dan orang kaya bukanlah saudagar dalam arti sebenarnya. Mereka
”berdagang” dalam bentuk Commenda, yakni menyerahkan barang dagangan kepada
orang lain untuk diperdagangkan, ataupun hanya memberi uang sebagai modal.[13]
Misalnya hartawan yang menyerahkan dagangannya berupa rempah-rempah dan kain
tenunan kepada saudagar dengan perjanjian bagi laba menurut ketentuan yang
berlaku (persentasi laba dibagikan bisa berbeda) juga dalam pelayaran, apabila
pemilik kapal adalah raja sistem bagi laba juga dipakai menurut ketentuan yang berlaku.
Adapun
aturan yang berlaku dalam kerajaan Gowa tentang tata cara berdagang maupun
berlayar, dan daftar sewa bagi orang yang berlayar, adalah sebagai berikut:
”Apabila
orang naik di perahu, di daerah Makassar, di daerah Bugis, di Paser, di
Sumbawa, di Kaili, pergi ke Aceh, ke Kedah, ke Kamboja, sewanya tujuh rial dari
tiap-tiap seratus. Apabila orang naik di perahu di Makassar pergi ke Selayar,
sewanya dua setengah dari tiap-tiap seratus. Apabila orang naik di perahu di
Paser atau Sumbawa dan pergi ke daerah Buton, ke daerah Bugis, ke Timor,
sewanya empat rial dari tiap seratus”.
Sedangkan
aturan tata cara berjualan, diungkapkan dalam pasal 7, bahwa ada lima jenis
cara berjualan :
1)
Berkongsi sama banyak;
2)
Samatula;
3)
Utang tanpa bunga;
4)
Utang kembali;
5)
kalula
Adapun berkongsi sama banyak yaitu cara berdagang dengan menanggung
resiko sama-sama, memikul bersama keuntungan dan kerugian. Tetapi kerugian yang
dipikul bersama hanya terbatas pada tiga hal, yaitu apabila barangnya rusak di lautan,
kebakaran atau kecurian. Sedangkan yang tidak dipikul bersama (ditanggung oleh
pelaksana perdagangan), yaitu :
1)
dijudikan
2)
diperlacurkan
3)
dipergunakan beristri
4)
diboroskan
5)
dipinjamkan
6)
dimadatkan
7)
diberikan untuk makan kepada (yang menjadi) tanggungannya.
Adapun
yang disebut samatula, adalah yang empunya barang jualan yang memikul segala
kerusakannya. Labanya dibagi tiga, dua bagian diambil oleh yang empunya
dagangan, sebagian diambil oleh si pembawa. Mengenai utang tanpa bunga, si
pemberi utang hanya menagih saja, jikalau telah sampai janjinya. Perjanjian
dengan utang yang bisa kembali, terlebih dahulu ditetapkan sesuai harga barang.
Kalau laku atau rusak, maka membayarlah yang berutang. Kalau tidak laku atau
tidak berganti rupa, maka barang boleh dikembalikan. Perihal utang disamakan
dengan perihal jual beli, yakni harus bercermin pada adat, segala hal telah
ditetapkan menurut peraturan-peraturan tertentu. 44Dalam pasal 9, disebutkan
bahwa sesama penjual tidak tunggu menunggu kekeliruan, misalnya (dalam hal)
bayar membayar. Jikalau setelah diterima, barulah diketahui tidak cukup
pembayarannya, atau robek bagi barang yang berlembar, dicukupkannyalah yang
robek. Sebab tidak boleh mengembalikan barang yang telah diputuskan harganya,
kalau ternyata dengan sesama pedagang.
Kalula
atau disebut juga anak guru, merupakan orang yang dipercayakan menjual barang
dagangan. Kalula tidak mungkin bercerai dari pemilik barang yang sudah dianggap
sebagai atasannya. Sehingga dalam membuat perjanjiantidak memberatkan
keluarganya, jika barang rusak karena kesalahan sendiri, Kalula sendiri yang
menanggung, keluarganya tidak ikut menanggung resiko.
C. Era
Perdagangan dan Hubungan dengan Bangsa Lain
Corak
baru perdagangan kerajaan Gowa muncul setelah dalam abad XVI Mataram mengadakan
penghancuran atas kota-kota komersial di Jawa Timur. Pusat perdagangan
rempah-rempah secara simultan pindah ke Makassar; jalur lintas perdagangan
tidak lagi dari Maluku via Gresik, selanjutnya menyusuri selat Malaka, tetapi
dari Maluku melalui Makassar dan selatan Borneo ke selat Malaka atau Batam.
Perubahan rute perdagangan itu bukan tidak mempunyai pengaruh atas simpati
politik orang-orang Maluku. Apabila dalam era Portugis dan bahkan pada dekade
pertama abad XVII mereka (orang-orang Maluku) banyak yang berlindung kepada
penguasa-penguasa di Jawa, maka sekarang mereka tempatkan diri mereka di bawah
proteksi Kerajaan Makassar. Masa inilah Kerajaan Gowa memasuki zaman
keemasannya. Para kaum bangsawan mulai memegang kendaliperdagangan
rempah-rempah, bahkan raja sudah menjadi pembeli utama barang-barang yang masuk
di daerahnya.
Sebenarnya
kemunculan Gowa sebagai negara niaga paling tidak, sudah nampak sejak dekade
pertama abad XVI yang untuk sebagian besarnya adalah efek dari kejatuhan Malaka
ke tangan Portugis. Pada tahun 1511 dimana saat Malaka takluk, banyak pedagang
pindah dari Malaka ke tempat-tempat laintermasuk ke Gowa. Terdapat suatu
hipotesis yang mengatakan bahwa orang Makassar telah lama mengadakan hubungan
dagang dengan bangsa-bangsa lain. Hipotesis ini didasari dari suatu temuan
arkeologi yakni dengan ditemukannya tiga patung emas Budha yang ditemukan
didaerah Takalar, yang memiliki karakteristik gaya Srilangka, dan India
Tenggara, menjadi petunjuk bahwa para pedagang Tamil, atau mungkin Melayu dari
Kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan telah mengadakan kontak dengan
orang-orang Makassar untuk mencari emas, beras, dan hasil hutan selama abad VII
dan VIII.[14]Dari
penemuan arkeologi inilah didapatkan gambaran awal kontak dagang dengan bangsa
lain di awal milenium pertama ini.
Sekalipun
jika benar hipotesis di atas, namun perdagangan rempah-rempahlah yang terutama
menyebabkan Makassar menjadi pelabuhan yang ramai. Mengalirnya rempah-rempah
dari kepulauan Maluku ke Makassar, menyebabkan Makassar banyak dikunjungi
pedagang-pedagang asing. Schrieke mengatakan bahwa:
....Pada awal
abad XVII, mula-mula orang asinglah yang membawa perdagangan dari Makassar,
sementara penduduk aslinya bersawah. Hal yang sama dilakukan oleh orang-orang Bugis
Bone. Kita telah melihat permulaan pertama dari proses perkembangan yang
mengikutinya. Pada waktu kedatangan Portugis pada awal abad XVI, ketika
orang-orang Melayu dari Malaka, dan kemudian Johor, dan orang-orang Jawa, mengontrol
perdagangan rempah-rempah. Makassar belum memainkan peranan yang penting di
Nusantara. Sebagai akibat perjanjian yang mereka alami di Malaka, banyak
orang-orang Melayu yang bermigrasi ke Makassar, yang menjadi dasar pelayarannya
ke Maluku....[15]
Perubahan
baru dimulai setelah Portugis menduduki Malaka pada tahun 1511, kota pelabuhan
Melayu yang menjadi pusat dagang utama di Barat. Salah satu akibat yang tidak
terduga adalah perdagangan Malaka sebagian pindah ke kota-kota dagang lain, di
antaranya Makassar.[16]
Keruntuhan Majapahit selama abad XV mengakhiri kontrol Jawa atas laut Jawa dan
mematahkan dominasi Majapahit atas perdagangan rempah-rempah. Para pedagang
utama di Sulawesi Selatan kini tidak lagi berasal dari Jawa tetapi juga dari
Sumatra. Mereka adalah orang-orang Melayu Islam dan mencari pelabuhan
alternatif untuk menghindari Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis.[17]
Orang
Melayu baru mempunyai kedudukan resmi dalam Kerajaan Gowa kira-kira pada tahun
1561, yaitu pada saat pemerintahan Raja Gowa X Tunipalangga (1546-1565), namun
dapat dikatakan setengah abad[18]
sebelum itu memang telah banyak orang Melayu (terdiri dari: orang Campa,
Minangkabau, Pahang, Patani, dan Johor) berdatangan, maka mereka mengutus
seorang di antara mereka untuk menghadap pada raja Gowa agar supaya mereka itu
dapat diberi tempat kediaman untuk menetap dan diberikan jaminan, maka
diutuslah Nahkoda Bonang.[19]
Untuk
lebih meyakinkan raja Gowa dan agar supaya mereka itu dapat diberi tempat
kediaman menetap, maka ketika menghadap, mereka membawa beberapa persembahan
yang terdiri dari sepucuk bedil yang bernama ”Kamaleti”, 80 perangkat pinacu,
satu kodi kain sakalat, satu kodi kain beludru, dan setengah kodi kain cindai
(sutera berbunga). Permohonan mereka diperkenankan oleh raja Gowa dengan resmi,
bahkan mereka mendapat empat jaminan dari Raja Tunipalangga.[20]
Jadi
sebelum pertengahan abad XVI para pedagang Melayu tinggal di pelabuhan-pelabuhan
pantai Barat Sulawesi.[21]Disinilah
awal munculnya koloni dagang orang Melayu yang berasal dari sebagian daerah di
semenanjung Malaka,yang sangat penting bagi perkembangan budaya dan ekonomi di
tempat ini. Hubungan yang dibangun dengan orang-orang Melayu sangat akrab
dengan pihak kerajaan, begitu akrabnya sehingga orang-orang Melayu turut
membantu memperbaiki peraturan-peraturan di dalam istana, di antaranya mengatur
tata cara berpesta, mengajarkan kepada para pemuda Makassar kesenian Melayu,
permainan pencak, lenggo, dan lain-lain.[22]Sampai
dengan masa pertumbuhan abad XVII, sebagian besar perdagangan dan perkapalan
Makassar berada di tangan orang-orang Melayu, namun disamping itu juga
orang-orang Makassar ikut terlibat. Para raja dan bangsawannya tampil sebagi
penyandang dana dan melancarkan ekspedisi dagang sendiri. Bersama orang Melayu
pemekaran sayap kekuasaan dan perdagangan luar daerah Makassar berkembang pesat
hingga mancanegara;[23]
ke barat hingga pantai Coramandel (India), ke utara hinggaVietnam, Philipina,
Cina, Jepang, ke timur hingga pantai-pantai Irian, bahkan sampai ke
pantai-pantai Utara, Barat Australia. Selain pedagang-pedagang Melayu yang
menetap di Makassar juga terdapat bangsa-bangsa asing, diantaranya bangsa
Portugis. Pada masa pemerintahan Karaeng Tunipalangga (1546-1565), di samping
raja memberi ijin orang Portugis mendirikan secara resmi perwakilan dagangnyadi
Makassar yang banyak memberi keuntungan baginya,[24]
juga sebaliknya banyak bangsawan Gowa mempelajari peradaban dan bahasa mereka.
Selain itu dengan kedatangan Portugis, pihak gowa memperoleh keuntungan dalam
peningkatan sarana-sarana fisik bagi perkembangan dalam berbagai bidang
keahlian, seperti membangun benteng pertahanan dan rumah-rumah dalam lingkungan
istana raja.
Dengan
adanya hubungan itu pula bandar Somba Opu menjadi semakin ramai dan besar
seperti yang terlihat pada abad XVI hingga awal abad XVII.[25]Dalam
perdagangan, Portugis sebagian besar membawa barang-barang, yakni berupa
kain-kain dari daerah pantai dan Benggali, bahan mentah sutera, sejumlah emas,
dan barang-barang dagangan lain dari Cina. Sejumlah besar kain dijual di
Makassar, dan kain ini dibawa oleh orang-orang Melayu dan oleh penduduk dari
sana dibawa ke seluruh daerah-daerah di sekitarnya, serta beberapa daerah
kepulauan. Di Makassar, Portugis membeli barang-barang dari Maluku, Ambon,
berupa sandelwood (sandal kayu), lilin kulit penyu, dan batu bezoar dari Kalimantan,
bersama-sama dengan berbagai jenis barang dagangan lainnya.
Bangsa
asing selain Portugis yang kemudian juga mengadakan hubungan dagang dengan
kerajaan Gowa adalah orang Belanda. Perseroan Amsterdam mengirim armada kapal
dagangnya yang pertama ke Indonesia tahun 1595, terdiri dari empat kapal,
dibawah pimpinan Cornelis de Houtman. Menyusul kemudian Menurut Erkelens sejak
tahun 1532 beberapa orang Portugis telah diberi ijin oleh raja Gowa untuk
tinggal di wilayahnya. angkatan kedua tahun 1598 dibawah pimpinan van Nede, van
Heemskerk, dan van Warwijk. Selain dari Amsterdam, juga datang beberapa kapal
dari berbagai kota Belanda. Angkatan ketiga berangkat tahun 1599 dibawah
pimpinan van der Hagen, dan angkatan keempat tahun 1600 dibawah pimpinan van
Neck.[26]Melihat
hasil yang diperoleh Perseroan Amsterdam itu, banyak perseroan lain berdiri
yang juga ingin berdagang, dan berlayar ke Indonesia.
Pada
bulan Maret 1602 perseroan-perseroan itu bergabung dan disahkan oleh
Staten_General Republik dengan satu piagam yang memberi hak khusus kepada
perseroan gabungan tersebut untuk berdagang, berlayar, dan memegang kekuasaan
di kawasan antara Tanjung Harapan, dan Kepulauan Solomon, termasuk kepulauan Nusantara.
Perseroan itu bernama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC).[27]
Dalam
perjalanan pertama mereka ke kepulauan Nusantara, orang-orang Belanda hanya
menyinggahi Jawa (Banten, Tuban, dan Gresik), serta Maluku; Sulawesi mereka
tinggalkan, baik dalam arti sebenarnya, maupun perintah dariatas. Baru setelah
beberapa tahun kemudian, sesudah mereka mempelajari arti penting Makassar
sebagai tempat persinggahan bagi kapal, dan sebagai pusat perdagangan
rempah-rempah, barulah mereka tertarik dengan Makassar.[28]
Perhatian
orang Belanda ke Makassar untuk berdagang dimulai sejak tahun 1603,yakni
ditandai oleh ketika orang Belanda mengirimkan sebuah surat dari Bandakepada
raja Gowa untuk berdagang di Makassar, permohonan ini dikabulkan dengan senang
hati, tetapi dengan satu syarat, yakni ”hanya untuk berdagang”, karena mereka
mengetahui bahwa Belanda adalah musuh besar orang Portugis, dan mereka tidak
menghendaki Makassar dijadikan sebagai tempat pertahanan kedua bangsa itu,
Kemudian berturut-turut orang-orang asing yang datang ke Makassar dan
mendirikan perwakilan dagangnya secara resmi adalah orang Inggris, Denmark,
Cina, dan lain-lain.
D. Alat
Transportasi Perdagangan
Berbicara
tentang pelayaran niaga perlu dikemukakan di sini bahwa pada zaman itu agaksukar
dibeda-bedakan antara kapal atau perahu kerajaan dan milik pribadi. Biasanya
pejabat kerajaan seperti Bendahara dan Temenggung, malahan Sultan pun, memiliki
kapal atau perahu yang dipergunakan untuk berniaga.
Adapun
alat transportasi yang digunakan dalam pelayaran dan perdagangan antara lain:
a.
Pedagang pribumi menggunakan perahu tradisional seperti:
1).
Lepa-lepa, yaitu jenis perahu yang digunakan di daerah-daerah teluk yang
tenang, Di mana laut tidak bergelombang, di sekitar pantai atau di air payau,
Untuk menyeberangkan penumpang atau menangkap ikan. Di samping itu perahu yang
dibuat dari batang kayu pohon yang lurus itu, juga dapat difungsikan sebagai
sekoci pada kapal-kapal atau perahu-perahu yang besar. Bentuk perahu tersebut
sangat tergantung pada besarnya pohon. Namun umumnya panjang sebuah perahu lepa-lepa
itu sekitar 3-4 meter dengan lebar 0,5 meter serta dalamnya sekitar 0,40 meter.[29]
2).
Soppe. Perahu ini merupakan jenis perahu nelayan yang berukuran kecil. Bentuk
dan ukurannya bervariasi, seperti panjangnya antara 5-7 meter, lebarnya
0,80-1,5 meter dan dalamnya 0,70-0,90 meter. Perahu ini dijalankan dengan
dayung oleh dua orang nelayan yang dilengkapi jala atau pun pancing bila akan
pergi menangkap ikan.
3).
Biseang pajala. Ini merupakan salah satu jenis perahu nelayan, yang digunakan
untuk mencari ikan di perairan lepas pantai. Perahu tersebut terbuat dari papan
jenis kayu bitti-bitti atau jati, yang disusun rapi. Perahu pajala ini, sedikit
lebih besar dari perahu lepa-lepa maupun perahu soppe dan daya angkut bisa
sampai 100 ton. Perahu tersebut menggunakan sebuah layar yang disebut sombala.
Di atas geladaknya terdapat bangunan rumah-rumah yang sekaligus digunakan
sebagai dapur.
4).
Patorani dan Pedewakan. Jenis perahu patorani ini digunakan untuk menangkap
ikan terbang (tuing-tuing) di perairan Selat Makassar, sedangkan perahu
Pedewakang merupakan perahu nelayan yang dipakai untuk menangkap teripang jauh
ke tengah laut.
5).
Lete. Jenis perahu ini digunakan sebagai perahu angkutan niaga jarak jauh antar
pulau, bahkan antar benua. Panjang perahu berukuran antara 10-15 meter, lebar
dan dalamnya masing-masing 5 meter dan 1,5 – 2 meter. Bentuk balok tiangnya
besar dan tebal serta menonjol pada haluan dan buritannya.
6).
Lambo. Perahu jenis ini juga dipergunakan sebagai alat angkutan, perahu niaga
jarak jauh. Perahu ini memiliki ukuran panjang antara 15-20 meter, lebar 3,50 –
4 meter dan tinggi 1,5 – 2 meter. Disamping itu perahu tersebut juga memiliki
tenaga (awak perahu) sebanyak 7-12 orang, dan diperlengkapi dengan 2 buah
kemudi yang letaknya di bagian buritan.
b.
Perahu Pedagang Melayu dan Jawa
Kelompok
pedagang ini menggunakan perahu yang jauh lebih besar yang dapat mengangkut
macam-macam muatan. Jumlah awak perahu ini 10 sampai 20 orang, bahkan ada yang
hanya 5 atau 6 orang, perahu tersebut mem[unyai bentuk yang bermacam-macam dengan
namanya sendiri antara lain: ”Contingh”, ”tingangh”, ”Gorap”, ”Galjoot”,
”Gallioen” dan lainnya.
c.
Perahu Pedagang Asing
1).
Perahu Pedagang Cina
Pedagang
Cina ini mempergunakan Jung untuk berdagang. Jung Cina yang besar sangat
menarik perhatian. Tinggi haluan dan buritannya tidak sama, sedangkan bagian
tengah sangat rendah. Di atas buritan terdapat sejumlah rumah-rumah kecil dan
cukup menyolok pula umbul-umbulnya yang berwarna coreng moreng, sedang ke dua
layarnya yang lebar dan tebal dibuat dari sebangsa daun rumput yang dianyam.
2).
Perahu Pedagang Kompeni VOC (Belanda)
Kompeni
ini mempergunakan kapal dagang yang besar dan sesuai standar keamanan pelayaran
perdagangan dalam arti sesuai dengan standar keselamatan pelayaran.
3).
Perahu Pedagang Spanyol dan Portugis
Menggunakan
kapal-kapal dagangnya yang lebih besar dari perahu-perahu pribumi, hanya saja
berbeda dengan kapal dagang yang dipergunakan oleh VOC, kapal dagang yang
digunakan oleh Spanyol dan Portugis biasanya tidak sesuai dengan standar
keselamatan pelayaran perdagangan dan tidak diperlengkapi dengan peralatan
pengamanan kapal.
4).
Perahu Pedagang Inggris, Vietnam dan Thailand
Inggris, Vietnam, dan Thailand
menggunakan
kapal-kapal dagang yang dapat memuat berjenis-jenis barang dagangan yang dapat
diperdagangkan di tempat tujuan.
E. Peran Kerajaan Gowa dalam Jaringan Pelayaran dan Perdagangan
Nusantara
Politik
pintu terbuka yang dijalankan oleh Kerajaan Gowa bukan hanya diarahkan untuk
memikat pedagang dan pelaut di daerah sekitar (Bugis, Makassar, Mandar,
Selayar, dan Bajo) atau Portugis di Malaka dan Melayu, tetapi juga mereka yang
bergiat di Asia Timur dan Asia Tenggara (pedagang Eropa, Asia Timur, dan Asia
Tenggara). Dalam hal ini peran pelaut dan pedagang Sulawesi Selatan tidak dapat
diabaikan. Mereka melakukan pelayaran niaga antara Makassar dan daerah
penghasil komoditas terpenting ketika itu: Maluku (rempah-rempah) dan Timor
serta Sumba (kayu Cendana). Kedua komoditas ini telah memikat pedagang lain
untuk datang ke Makassar.
Keterbukaan
Kerajaan Gowa terhadap semua pedagang memperlancar hubungan dagang dengan pusat
perdagangan lain. I Malikang Daeng Manyonri (1593-1636), Mangkubumi Kerajaan
Gowa, diberitakan mendapat izin dari penguasa Banda untuk menempatkan wakilnya
di Banda pada 1607. Selain itu, atas izin pemerintah Spanyol di Filipina,
penguasa Gowa mendirikan perwakilan dagang di Manila. Menurut Speelman,
perwakilan dagang Gowa di Manila didirikan karena pedagang Melayu dan Jawa
dilarang mengunjungi Manila dengan mengatasnamakan Makassar (Gowa).
Pemerintah
Spanyol hanya menerima pedagang Makassar karena mereka, selain memiliki
hubungan dagang,mereka juga dapat memenuhi permintaan rempah-rempah dan
komoditas lain sepertiberas.
Adapun
taktik dagang yang di ungkapkan catatan Van der Chijs di Banda:
(Ia)
setiap tahun menyediakan beras, pakaian, dan segala sesuatu yang disenangi di
sana (Banda) agar dapat mengumpulkan pala sebanyak mungkin bagi negerinya,
sehingga memikat sejumlah pedagang serta dapat memborong dalam jumlah besar;
(ia) juga tahubagaimana memberikan hadiah kepada para ulama Banda agar dapat
mengeruk keuntungan besar.[30]
Cara
berdagang semacam itu memudahkan pelaut dan pedagang Makassar memperoleh
rempah-rempah dari Maluku dalam jumlah besar dan murah, sehingga harga jualnya
di Makassar lebih murah daripada di daerah produksinya sendiri. Stapel yang
mengkaji tentang Makassar, menggambarkan perdagangan Makassar pada permulaan
abad ke XVI kedalam beberapa bagian: pertama, pusat perniagaan dan pangkalan
bagi pedagang dan pelaut Makassar. Kedua, pelabuhan transit terpenting bagi
komoditas rempah-rempah dan kayu cendana. Ketiga, daerah yang berlimpah dengan
produk pangan (beras dan ternak). Keempat, bandar niaga internasional.[31]
Kemajuan
yang dicapai Makassar ternyata tidak memuaskan pedagang Belanda. Mereka tidak
menginginkan pedagang Eropa lainnya berkeliaran di Makassar. Bagi pedagang
Belanda, pedagang Eropa lainnya adalah saingan.
Belanda,
yang menanamkan kekuasaannya di Maluku setelah mengusir orang Portugis dan
Spanyol, menghalau perahu-perahu dagang Makassar di dekat perairan Ambon agar
dapat memonopoli rempah-rempah. Penguasa Makassar melaporkan hal itu kepada
perwakilan dagang VOC namun tidak digubris.
Belum
cukup, VOC mendesak Raja I Mangarrangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin
(1593-1639) agar tidak menjual beras lagi kepada orang Portugis di Malaka.
Tuntutan itu dijawab oleh raja. ”Negeri saya terbuka untuk semua bangsa dan
tidak ada perlakuan istimewa untuk Tuan sebagaimana juga untuk orang Portugis.”
Tidak
lama setelah peristiwa itu pecah, utusan VOC dari Maluku, yang tidak mengetahui
hal-ihwal peristiwa Enckhuyzen, datang dengan menggunakan kapal De Eendrach
pada 10 Desember 1616. Utusan ini menyampaikan pesan kepada penguasa Makassar
untuk melarang orang Makassar berdagang di kepulauan rempah-rempah, tapi
ditolak oleh penguasa Makassar.
Pada
masa pemerintahan Sultan Alauddin (1593-1639), Makassar mengadakan perjanjian
persahabatan dengan Kerajaan Mataram dan Aceh.5Selanjutnya, pada masa
pemerintahan Sultan Muhammad Said (1639-1653) terjalin hubungan dengan Gubernur
Spanyol di Manila, Gubernur Portugis di Goa (India), penguasa Keling di
Koromandel, Raja Inggris, Raja Portugal, Raja Kastalia (Spanyol), dan Mufti di
Mekkah. Jelas, hubungan persahabatan ini merupakan langkah Makassar untuk
setara dengan kerajaan-kerajaan yang dipandang kuat dan besar pada waktu itu.
Oleh karena itu ketika perdagangan rempah-rempah di Maluku terancam oleh VOC,
Kerajaan Makassar mempersiapkan bantuan keamanan bagi para pedagang.
Dalam
salah satu catatan harian VOC tahun 1624, sebagaimana dikutip oleh Jacob
Cornelis van Leur, memberikan gambaran bahwa perdagangan ke Maluku dilakukan
bersama di bawah perlindungan Kerajaan Makassar. Semua pedagang dilindungi
tanpa kecuali. Kebijakan ini menjadi salah satu faktor yang memikat pedagang
untuk selalu melakukan kegiatan di Makassar.
Strategi
Kerajaan Makassar tersebut menjadikan kota pelabuhannya tetap menjadi pelabuhan
Internasional dan pelabuhan transito besar di wilayah Kepulauan Indonesia
bagian timur dalam perdagangan di Asia Tenggara.
Kedudukan
politik dan ekonomi Kerajaan Makassar yang kuat menjadi ancaman besar bagi VOC,
yang menjalankan kebijakan monopoli. Pertentangan dan permusuhan di antara
mereka, yang berlangsung sejak 1615, mencapai puncaknya dalam bentuk Perang
Makassar pada Desember 1666 sampai 18 November 1667.
VOC
unggul dan berhasil memaksa Gowa untuk menandatangani Perjanjian Bungaya (Het
Bongaais Verdrag). Perjanjian perdamaian ini sangat menguntungkan VOC. Kerajaan
Gowa diwajibkan membayar kerugian perang, melepaskan seluruh tawanan pegawai
VOC, menyerahkan barang VOC yangdisita, melepaskan koloni-koloninya, membongkar
benteng-benteng pertahanannya, mengusir semua bangsa Eropa yang berdagang di
Makassar, melarang orang Makassar berlayar ke Maluku, hanya membolehkan VOC
yang berdagang di Makassar tanpa macam-macam kewajiban, dan menyerahkan Benteng
Ujung Pandang berikut perkampungan dan lingkungannya kepada VOC.Perubahan wajah
dan kedudukan Makassar berkaitan erat dengan usaha Belanda menguasai kota
tersebut untuk menjamin monopoli di Maluku. Tak mengherankan bila Makassar
lantas dijadikan pos pengawasan bagi pelayaran ke bagian timur. Para pegawai
yang ditempatkan di kota ini diberi tugas utama mengawasi pelayaran ke Maluku.
Dan masa keemasan Makassar pun sirna. Dari waktu ke waktu Makassar terbentuk
dan semakin meluas sehingga berkembang sebagai kota dagang dan banyak menerima
pengaruh dari luar.
Perkembangan
Makassar sebagai kota dagang dan kota yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan
Belanda di sulawesi pada khususnya dan kawasan Timur Nusantara pada umumnya
sesudah kejatuhan Gowa 1667, secara otomatis menimbulkan konsekuensi logis di
bidang pembangunan perumahan dan gedung-gedung, pembuatan dan perbaikan jalanan,
pembangunan sarana-sarana peribadatan dan sarana-sarana sosial lainnya dan
sebagainya.
BAB III
PENUTUP
perdagangan
rempah-rempah yang sangat popular ketika itu, yang mana rempah-rempah pada waktu
itu sangat dibutuhkan oleh bangsa Eropa dan juga Asia lainnya. Bahkan harganya
lebih mahal dibandingkan dengan komoditas lainnya seperti keramik, beras, lada,
dan lain sebagainnya.
Politik
perluasan kekuasaan dan besarnya perhatian yang dilandasi oleh sikap terbuka
dari penguasa Gowa terhadap kehidupan perniagaan akhirnya berhasil menempatkan
Makassar sebagai satu-satunya pusat perdagangan dan pangkalan kegiatan maritim
di wilayah itu. Disamping itu tidak dapat diabaikan begitu saja peranan para
pedagang dan pelaut yang melakukan aktifitas niaga disana, yang telah berhasil
menjadikan Makassar sebagai Bandar niaga tempat pemasaran produksi perdagangan.
Karena itu Pelabuhan Makassar tampil sebagai Bandar utama mereka dalam hubungan
dengan Bandar niaga lain.Kemajuan yang dicapai itu ternyata tidak memberikan
kepuasan bagi pedagang Belanda. Ini disebabkan karena pihak Belanda tidak
menginginkan keberadaan pedagang Eropa dalam perdagangan rempah-rempah di
Makassar.
Referensi
[2]H.D. Mangemba, Kota Makassar Dalam Lintasan Sejarah (Makassar, Lembaga
Sejarah Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, 1972). Hal. 1; Anthony Reid,
“The Rise of Makassar”.Hal. 131-134.
[3]Pejabat syahbandar yang diangkat adalah pejabat tumailalang lolo
yang bernama I daeng Pamatte; Abdurrazak Daeng Patunru, Sejarah Gowa, (Ujung
Pandang: YKSS, 1993). Hal. 11-12.
[4]G. J. Wolhoff dan Abdurrahim, Bingkisan Seri A: Sejarah Gowa, hal.
25; Abdurrazak Daeng Patunru, Sejarah Gowa (Ujung Pandang: YKSS, 1993). Hal.
13.
[5]P. A. Tiele, “De Europpeers in den Malaischen archipel”, dalam BKI
(vol. 28, No. I, 1980). Hal. 423.
[6]Christian Pelras, “Sulawesi Selatan Sebelum Datangnya Islam
Berdasarkan Kesaksian Bangsa Asing”, dalam: Gilbert Hamonic, ed. Citra Masyarakat
Indonesia (Jakarta: Sinar Harapan, 1983). Hal. 60-61.
[7]C. Nooteboom, Aziatische Galein. (Rotterdam: Het Museum voor Land-
en Volkenkunde en het Maritiem Museum Prins Hendrik, 1951). Hal. 1. Usaha
pembangunan kapal (dalam hal ini konstruksi serta gaya arsitekturnya) itu
merupakan bantuan dari orang-orang Portugis, Melayu dan Arab.
[8]H.A. Sutherland, Power, Trade and Islam in the Eastern Archipelago,
1700-1850,dalam Philip Quarles van Ufford and Mattew Schoffeleers, ed.,
Religion Development : Toward An Integrated Approach. (Amsterdam: Free
University Press, 1988). Hal. 145-146
[9]J. C. van Leur, Indonesian trade and society Lessays in asian
social and economichistory, (Bandung: Sumur Bandung, 1960). Hal. 111
[11]Uka Thandrasasmita, “Les Fouilles et l’Histoire A Celebes Sud”,
(dalam Archipel 3, Paris, 1972). Hal. 283.
[12]Anthony Reid, Dari Ekspansi Hingga Krisis: Jaringan Perdagangan
Global Asia Tenggara 1450-1680, Jilid II, Terjemahan. (Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 1998). Hal. 12.
[13]J. C. van Leur, Indonesian trade and society Lessays in asian
social and economic history……op.cit, (Bandung: Sumur Bandung, 1960). Hal.
228-229.
[14]Wayne A. Bougas, “Bantayan: An Early Makassarese Kingdom 1200-1600
A.D.”, dalam Archipel 55, Paris, 1998. hal 88.
[15]B. Schrieke, Indonesian sociological Studies, part one, (Bandung:
Sumur Bandung Formerly, N.V. Mij Vorkink-Van Hoeve, 1960). Hal. 66-67.
[16]J. Noorduyn, “De Handelsrelaties van het Makassaarse Rijk Volgens
de Notitie van Cornelis Speelman uit 1670”, dalam Nederlandse Historische
Bronnen 3, 1983. hal. 97.
[18]Anthony Reid,
“The Rise of Makassar”, dalam RIMA Vol. 17, 1983. Hal. 137-138.
[21]John Villiers, “Makassar: The Rise and Fall of an East Indonesian
Maritime Trading State: 1512-1669”, dalam J. Kathirithamby-Wells, John
Villiers, (ed.)., The Southeast Asian Port and Polity: Rise and Demise,
(Singapore: University of Singapore Press, 1974). Hal. 146.
[22]Abd. Rahman Daeng Palallo, “Memperkenalkan Kampung Melayu dan Penduduknya”,
dalam 60 Tahun Kota Makassar. (Makassar: Percetakan Sejahtera, 1966). Hal. 54;
[23]Damai N. Toda, “Manggarai Mencari Pencerahan Historiografi”,
(Flores: Nusa Indah, 1999). Hal. 53.
[24]Keberadaan Loji
Portugis di Makassar juga disebutkan dalam ANRI: Bundel Makassar No. 153.
[25]Mattulada, Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah
(1510-1700), (Ujung Pandang: Bakti Baru-Berita Utama, 1982). Hal. 29; Harun
Kadir, dkk., Sejarah Daerah Sulawesi-Selatan, (Jakarta: Depdikbud, 1978). Hal.
41-42.
[26]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiah II, (Jakarta:
Rajawali Press, 2000). Hal. 234-235.
[27]Ibid. Lihat juga: Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya
Batas-batas Pembaratan jilid I, (Jakarta: PT. Gramedia, 2000). Hal. 61.
[28]Dewan Redaksi/Tim Penulis PUSPINDO, Sejarah Pelayaran Niaga Di
Indonesia jilid I: ”Pra Sejarah Hingga 17 Agustus 1945”, (Jakarta: Yayasan
PUSPINDO, 1990). Hal. 62.
[29]Adrian B. Lapian, Orang Laut,Bajak Laut,Raja Laut: Sejarah Kawasan
Laut Sulawesi Abad XIX, (Depok: Komunitas Bambu, 2009). Hal. 87. 53
[30]J. C. van Leur, Indonesian trade and society Lessays in asian
social and economic history, (Bandung: Sumur Bandung, 1960). Hal. 134.
[31]Leonard Y. Andaya, The Heritage of Arung Palakka,A History of South
Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century, (The Hague: Martinus Nijhoff, 1981.
VKI, No. 91). Hal. 45