Aspirasi Idealis
April 27, 2022
(Ketua II
Hipma Gowa Kord. Pattallassang,
PLT Ketua Karang Taruna Desa Panaikang)
PLT Ketua Karang Taruna Desa Panaikang)
Beberapa media yang dipasang dan ditempel sepanjang
sisi jalan, membuat mata serasa tak luput dari penglihatan ketika hendak
berlalu. Pepohonan dan pagar yang dulunya kosong, kini dipenuhi dengan
beberapa jejeran material berisikan gambar-gambar, lengkap dengan jargon
politiknya. Pada tahun 2019 mendatang setidaknya ada 4 jenis pemilihan, mulai
dari DPRD, DPD, DPR-RI, dan pemilihan Presiden. Spanduk dan baliho menjadi
sebuah andalan dalam memperkenalkan bahwa kontestasi demokrasi tidak lama lagi.
Disamping itu aksi gencar para kandidat mempromosikan diri mereka dengan
berbagai alat peraga dan media pendukung lainnya, sedikit demi sedikit mulai
nampak. Dan beberapa waktu yang lalu, belum lama sesaat setelah euforia
pemilihan kepala desa (PILKADES) yang dilaksanakan lebih cepat, khususnya di 69
desa se Kab Gowa. Hingga tulisan saya akan sedikit mengerucut pada fenomena
elemen pemerintahan yang menaungi desa tempat saya tinggal.
Dibalik sebuah lembaga dalam hal ini
perangkat pedesaan yang ideal, terdapat satu pihak
oposisi dan saran masyarakat yang bersifat membangun untuk kemajuan desa, yang menjadi tempatnya melakukan aktivitas keseharian
dalam berinteraksi. Masyarakat
pedesaan yang notabenenya bersifat acuh tak acuh, atau bermasa bodoh terhadap persoalan sistem jalannya
kepemerintahan dan perkara politik didalamnya menjadi refleksi tersendiri bagi seorang yang
terpelajar yang ingin melihat suatu perubahan agar terlepas dari sifat stagnan
dan ketidakmajuan yang cenderung lama. Berangkat dari elemen
pemerintahan ditingkat desa dalam manajemen pengelolaan anggaran desa,
dikarenakan minimnya sebuah pengetahuan politik dalam mengatur
kehidupan mereka yang seharusnya dikurangi dan berusaha bagaimana upaya untuk
memberikan pemahaman yang dilakukan oleh orang-orang yang peduli akan
pentingnya kemajuan desa terutama kesesuaian penggunaan anggaraan pedesaan. Melihat
fenomena yang telah terjadi, pada beberapa periode
tidak mengalami suatu perkembangan signifikan menurut pengamatan saya. Contoh
kecilnya ada pada dana kepemudaan yang cair tidak sesuai dengan catatan
keuangan di spanduk terpasang. Kemudian
bergeser ke sektor pembangunan infrastruktur jalan, yang tergolong tidak efektif dan masih jauh dari kata mumpuni, Selama kurang lebih sepuluh tahun. Seperti pengukuran jalan dan sertu
yang berada dilokasi strategis, sekitar
sekolah yang sudah beberapa tahun rencana akan dilakukan alternatif pengaspalan untuk mendekati kata layak dan mumpuni sebagai jalan
pendidikan. Dan beberapa waktu yang lalu masih terlintas
difikiran, saya sudah mendengar langsung dari sebuah rapat bahwa akan masuknya
perbaikan. tapi toh nyatanya sampai hari ini cibiran itu
mungkin hanya sebuah perkataan manis, yang membuat masyarakat merasa terkelabui.
Salah
satu gambar jalan berbatu setapak yang sudah belasan tahun, melewati
beberapa masa pemerintahan dan masih belum diperhatikan serta tidak
ditindak lanjuti.
Menampung
aspirasi dari masyarakat setempat yang mengatakan dalam bahasa Makassar, "Nacalla
mentongmaki kapang pammarenta, ka niamo la'bi sampulo taung kamma tarrusuji
anne oloanga". Yang berarti, "Pemerintah betul-betul telah
mendiskriminasi kita, soalnya sudah hampir lebih 10 tahun begini-begini saja
jalanan kita". Cukup miris yah, apalagi sudah lebih sepuluh tahun, waktu
yang tidak sebentar untuk membenahi infrastruktur yang telah dijanjikan.
Harapan saya ditahun politik, dalam
kontestasi demokrasi yang telah bersebaran dimana-mana dengan beberapa media, lengkap dengan isi segelintir
janji menuju kesejahteraan, agar setidaknya ada 1 janji yang bisa terealisasi
masuk dalam kampung kami di daerah sekitar sekolah SMKN 5 GOWA. apabila pihak yang seharusnya berperan penting yang
membaca opini saya yang masih jauh
dari kata sempurna, baik itu dari elemen atas
hingga kebawah, semoga kedepannya pemerintah setempat yang akan terpilih dan dilantik terkhusus pada elemen perangkat di desa agar lebih akuntabel, berkompeten, bijak, transparan, serta tidak tebang pilih dan
mengetahui betul kebutuhan masyarakat persoalan pengembangan sumber daya
manusia dan alam, dan infrastruktur yang cenderung belum memuaskan agar segera
dibenahi sesuai harapan masyarakat.
