Akulturasi dan Nilai Islam dalam Tradisi Maudu Lompoa Cikoang Takalar
Februari 29, 2024
Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di
masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Di
Cikoang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan perayaan maulid biasanya dilakukan
secara besar-besaran, dan disebut Maudu’
Lompoa. Kehadiran tradisi Maudu’
Lompoa di Cikoang diawali dari kedatangan Sayyid Djalaluddin bin Muhammad
Wahid Al’ Aidid. Beliau adalah seorang ulama besar asal Aceh, cucu Sultan
Iskandar Muda Mahkota Alam, keturunan Arab Hadramaut, Arab Selatan, dan masih
keturunan Nabi Muhammad SAW yang ke-27. Sayyid
Djalaluddin Al’ Aidid tiba di kerajaan Gowa-Makassar pada abad 17, masa
pemerintahan Sultan Alauddin. Beliau kemudian diangkat menjadi Mufti kerajaan.
Putra Mahkota kerajaan Gowa oleh Sayyid Djalaluddin diberi nama Muhammad
al-Baqir I Mallombassi Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin.
Diberitakan bahwa Syekh Yusuf berguru kepadanya selama 3 tahun dan
atas petunjuknya kemudian Syekh Yusuf diberangkatkan ke Timur Tengah untuk
memperdalam ilmunya. Salah satu bukti yang menunjukkan bahwa beliau berasal
dari Aceh adalah naskah-naskah agama yang beliau bawa. Naskah
tersebut merupakan karangan-karangan Nuruddin ar-Raniriy, yaitu Akhbarul
Akhirah dan Ash-Shiratal Mustaqim. Sampai sekarang naskah-naskah tersebut masih
digunakan oleh anak keturunan beliau di Cikoang dan telah disalin
berulang-ulang. Kedatangan beliau ke Sulawesi Selatan, seperti dikutip Abd Majid
Ismail dari Andi Rasdiyanah Amir, dan kawan-kawan (dkk) dalam Bugis-Makassar
pada Peta Islamisasi, 1982, merupakan gelombang lanjutan dari proses Islamisasi
kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar sesudah periode Dato’ ri Bandang.
Dalam mengajarkan Islam di Sulawesi Selatan, Sayyid Djalaluddin
Al’ Aidid mengajarkan tiga hal penting yang kemudian menjadi faktor utama
terwujudnya upacara Maudu’ Lompoa, yaitu prinsip al-ma’rifah, al-iman dan
al-mahabbah. Dengan prinsip itu diyakini bahwa pemahaman ruhaniah secara
hakekat terhadap Allah terlebih dahulu harus didahului dengan pemahaman
mendalam atas kejadian dan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Masyarakat Cikoang mengenal
dua proses kelahiran beliau, yaitu kelahiran di alam ghaib (arwah) dan
kelahiran di alam syahadah (dunia). Kejadian
di alam ghaib berwujud “Nur Muhammad” yang diciptakan Allah sebagai sumber
segala makhluk yang daripada-Nyalah tercipta alam semesta ini.
Masyarakat di Cikoang, khususnya para Sayyid, percaya bahwa Allah
menyinari dan memberi cahaya langit dan bumi (bertajalli) melalui “Nur
Muhammad” yang diciptakan Allah sebagai pokok kejadian segala makhluk dan
rahmat bagi seluruh Alam. Sedangkan kelahiran beliau di alam syahadah ini
diyakini merupakan kelahiran dengan membawa kebenaran yang mutlak untuk
dipegangi. Sebagai upaya untuk menyinambungkan ikatan pada dua konsepsi dasar
kelahiran Nabi, prosesi peringatan maulid menjadi sesuatu yang amat sakral.
Masyarakat Takalar, khususnya keturunan Sayyid, meyakini sepenuhnya kelahiran
Rasulullah SAW merupakan isyarat kemenangan, dan harus diwujudkan dalam
penguatan ikatan cinta melalui maudu’ lompoa, kepada hazrat suci Nabi
Pendaratan Sayyid Djalaluddin Di Cikoang.
Dikisahkan, Sayyid Djalaluddin menikah dengan I Acara’ Daeng
Tamami Binti Sultan Abdul Kadir Alauddin, seorang putri bangsawan kerajaan
Gowa. Beliau tidak mendapatkan respon yang layak dari Sombaya di Gowa, karena
ketidakjelasan identitas keturunan Sayyid. Beliau pamit pada Sombaya di Gowa
dan kemudian menitipkan istrinya di Balla Lompoa, Gowa. Atas
izin Allah SWT, Sayyid meninggalkan Balla Lompoa dengan menggunakan sehelai
sajadah (tikar sembahyang) sebagai kendaraan pribadinya dan sebuah tempat air
wudhu (cerek) menemaninya. Dalam waktu sekejab, Sayyid sudah sampai di sebelah
utara pulau Tanakeke, kemudian sebelah utara Sungai Bontolanra, Parappa,
Sanrobone, dan Sungai Maccinibaji.
Pada saat yang sama, di muara sungai Cikoang, sebelah utara hulu sungai,
I Bunrang (kesatria Cikoang) memasang kuala (bila). Lalu, di sebelah selatan
hulu sungai, I Danda (kesatria Cikoang) juga memasang kuala. Esoknya, I Danda
dan I Bunrang melihat sebuah benda berbentuk kapal laut besar lewat do sebelah
utara Tompo’tanah.
Hanya dalam waktu sekejap, benda tersebut berubah bentuk menjadi benda bercahaya. Melihat itu, kedua kesatria Cikoang itu berlomba mendayung lepa-lepanya (perahu) mendekati benda itu. Saat mendekat, keduanya tercengang melihat seorang manusia memakai jubah, duduk bersila di atas sajadah ditemani cerek. Melihat keajaiban pada orang itu, Sayyid Djalaluddin, I Danda dan I Bunrang lalu menawarkan jasa pada Sayyid. Kedua perahu itu lalu dirapatkan. Sayyid kemudian meletakkan kaki kanannya di atas perahu I Danda dan kaki kirinya di perahu I Bunrang.
Hanya dalam waktu sekejap, benda tersebut berubah bentuk menjadi benda bercahaya. Melihat itu, kedua kesatria Cikoang itu berlomba mendayung lepa-lepanya (perahu) mendekati benda itu. Saat mendekat, keduanya tercengang melihat seorang manusia memakai jubah, duduk bersila di atas sajadah ditemani cerek. Melihat keajaiban pada orang itu, Sayyid Djalaluddin, I Danda dan I Bunrang lalu menawarkan jasa pada Sayyid. Kedua perahu itu lalu dirapatkan. Sayyid kemudian meletakkan kaki kanannya di atas perahu I Danda dan kaki kirinya di perahu I Bunrang.
Kedua satria itu kemudian mendayung perahunya ke pinggiran sungai
Cikoang. Mereka lalu mengabdi pada Sayyid. Selanjutnya, I Bunrang diutus untuk
menjemput istri Sayyid, I Acara’ Daeng Tammami, di Balla Lompoa, Gowa. Dua
bulan setelah Daeng Tamami berada di Cikoang, tepatnya saat tarikh 10 Syafar
1025 H, mulailah dilaksanakan mandi Syafar untuk pertama kalinya sebagai
rangkaian peringatan maulid Nabi Muhammad SAW atau dikenal sebagai Maudu’
Lompoa (maulid besar). Kegiatan itu dilaksanakan
pada tanggal 12 Rabiul Awal 1025 Hijriah atau 11 November 1605 Masehi oleh
Sayyid, I Danda, I Bunrang, serta jamaah ajarannya.
Peringatan itu berdasarkan tiga faktor keyakinan dan keikhlasan.
Ketiga faktor itu, yaitu, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kejadian di
alam Nur, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW keadaan di alam rahim, dan
memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kelahiran di alam dunia. Perayaan
Maudu Lompoa di Cikoang sendiri, sudah berlangsung sejak tahun 1632 Masehi.
Setiap keturunan Sayyid tiap tahunnya berusaha mengadakan perayaan yang kini
menjadi agenda pariwisata Sulawesi Selatan itu.
Keluarga keturunan yang merantau, biasanya berusaha kembali untuk menggelar acara kegiatan sebagai kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW ini. Kegiatan ini kerap menjadi pengobat rindu bagi warga Cikoang yang lama merantau dan kembali bergabung bersama keluarganya ( makassarterkini.com).
Keluarga keturunan yang merantau, biasanya berusaha kembali untuk menggelar acara kegiatan sebagai kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW ini. Kegiatan ini kerap menjadi pengobat rindu bagi warga Cikoang yang lama merantau dan kembali bergabung bersama keluarganya ( makassarterkini.com).
1
Hikmah Maudu Lompoa,
Cikoang, 28 Rabiul Awal 1440H-6 Desember 2018
Maudu’ sebagai media menghadirkan akhlak Rasulullah SAW
Oleh:
Prof. Dr. Ir. H. Fathurrahman Shahib Al-Aidid, MP
Gurubesar Universitas Tadulako, Palu
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wr.wb
Kembali lantunan shalawat dan syair cinta menggema ke penjuru negeri
Sebagai bukti sukacita atas lahirnya Rasul Mulia.
Muhammad Nabi Kita, Sang Rahmat Alam Semesta.
Meski telah berlalu 15an abad lamanya, rasa cinta kepada Rasulullah SAW telah
terbukti mampu membawa agama ini hadir dan terus bertahan serta berkembang di
tengah-tengah kita. Tidak terhitung para penyebar Islam dari generasi awal hingga
sekarang yang rela meninggalkan kampung halamannya, demi menyebarkan risalah
mulia ini ke berbagai anak bangsa di dunia. Rasa Cinta kepada Nabi-lah yang juga
mengantarkan Sayyid Jalaluddin Al-Aidid, di awal abad ke 17 dahulu, rela
meninggalkan tanah kelahirannya di Aceh hingga kemudian menjadi Muballigh Islam di
wilayah ini.
Hal tersebut seolah menegaskan manifestasi dari ayat Qur’an berikut:
رٌ ُ غَفُ َّ َ ُْ َ ذُنُ ْ لَ ُ غْفِْ ُ وََ َّ ُُ ِْْ نِي ُ عُ َ فَاتَِّ نَ َّ ُّ تُ ِ ُْْ قُلْ إِنْ ُ
ٌ رَحِ
2
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS. Ali-Imran:31)
Dan Hadis:
◌َ عِْ اسِ أَجَْ هِ وَالَّ هِ وَوَلَِ وَالِِ هِ مِ ْ إِلَْ نَ أَحَ َّ َّى أَكُْ حَ كُْ أَحَُ مِ ُ لَايُْ
“Belum sempurna iman kalian, hingga aku lebih dicintainya, dari ayah ibunya, dan
anaknya, dan seluruh manusia” (Shahih Bukhari)
Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa mencintai Rasulullah dengan mengikuti
Risalahnya adalah jalan untuk mencintai dan menaati Allah Rabbulalamin.
Acuan ini jugalah yang mendasari Tarikat Baharunnur (samudera cahaya Ilahi),
ajaran dari Sayyid Jalaluddin Al-Aidid yang menekankan esensi cinta kepada Nabi
Muhammad sebagai tonggak mengenalkan Islam ke masyarakat Islam di Sulawesi
Selatan dahulu hingga sekarang, sebab tanpa cinta kepada Nabi, bagaimana mungkin
kita dapat dengan rela mengikuti ajarannya dan tanpa kehadiran nabi, bagaimana
mungkin kita bisa mengenal Allah dan mengesakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad wa ala ali Sayyidina Muhammad!
Menjadi menarik kemudian untuk melihat relevansi Upacara Maudu’ atau maulid
besar ini dengan kondisi kekinian. Ketika tugas menyebarkan Islam sudah bukan lagi
tujuan utama. Karena kita semua telah menjadi Muslim. Maudu’ kemudian berubah
menjadi sarana pengingat sebagaimana Al-Qur’an menjelaskan:
3
ٍ انَ لَفِي خُ ْ إِنَّ الْإِنْ ِ .وَالْعَ ْ
ِْ ال َّ ا ِ اصَْ وَتَ ِّ الْ َ ا ِ اصَْ اتِ وَتَ الِ ا ال َّ لُ ا وَعَِ آمَُ ي َ .إِلاَّ الَِّ
Artinya : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya
mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya selalu sabar. (QS. Al-Ashr: 1-3)
Menurut Prof Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah, dalam surah ini, Allah Swt.
bersumpah demi masa--karena masa mengandung banyak keajaiban dan pelajaran
yang menunjukkan kemahakuasaan dan kemahabijaksanaan-Nya—selain itu, surah ini
berfokus pada pentingnya saling menasihati sesama umat untuk berpegang teguh
dalam kebenaran yang mengandung semua kebaikan, dan saling menasihati untuk
bersabar dalam melaksanakan apa yang diperintahkan kepada kita dan dalam
menjauhi larangannya.
Hal mana dapat menjadi napas baru semangat Upacara Maudu’ atau maulid di
era ini. Era ketika semua manusia begitu bersemangat dan berlomba-lomba mengejar
dunianya dan cenderung lupa akan tugasnya sebagai hamba Allah dan Umat
Muhammad SAW.
Maulid harus kemudian dilihat dan dimaknai sebagai sarana pengingat bersama,
bahwa Nabi Muhammad adalah uswatun hasanah dalam seluruh sendi kehidupan ini.
Sebagaimana filosofi yang digambarkan di perayaan maulid besar (Maudu’ lompoa) ini
sebagai manifestasi kehadiran Rasululullah mulai dari awal mula semesta sebagai “Nur
Muhammad” yang disimbolkan sebagai isi/Kanre Maudu’ dari Bakul Duduk. Merujuk
pada kisah Nur Muhammad yang ditempatkan Allah di dalam gelas kristal dan
4
kemudian ditempatkan pada Shajaratul-Yaqin (pohon keimanan) yang disimbolkan
dengan dudukan kayu segi empat. Dekorasi disekitarnya disimbolkan sebagai
keagungan dan keindahan Nur Muhammad. Telur merah dan putih yang
mengelilinginya disimbolkan sebagai ruh-ruh umatnya yang sudah mengikutinya sejak
di awal mula alam semesta.
Gambaran Nur Muhammad ini merupakan gambaran yang lumrah ditemukan
dalam literatur kaum tarekat sufistik, sebagaimana salah satunya diriwayatkan oleh
Imam Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi dalam kitabnya, Daqaiq al-Akhbar :
“ Sesungguhnya telah datang khabar bahwa Allah Ta’ala menciptakan pohon dengan
empat cabang. Allah Ta’ala menamakannya Syajaratulyaqin. Kemudian dalam hijab,
Allah menciptakan Nur Muhammad dari permata putih seperti bentuk burung Merak dan
Allah meletakkannya di atas pohon tersebut…”
Shalawat dan sirah nabi yang disenandungkan dengan dialek Makassar
berdasar pada kitab Barzanji dan kitab Sharaful-Anam yang menjadi warisan Sayyid
Jalaluddin Al-Aidid. Asimilasi budaya ini mengambil hikmah dari ayat Qur’an Surat Al-
Ahzab ayat 56 dan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim agar umat Islam terbiasa dan
senantiasa bershalawat kepada Baginda Nabi SAW.
ا ا صَلُّ آمَُ ي َ ا أَيُّهَا الَِّ يِّ َ ِ نَ عَلَى الَّ لَُّ َهُ ُ َ وَمَلَائِ َ إِنَّ َّ
اً لِ ا تَْ هِ وَسَلُِّ عَلَْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu membaca shalawat kepada
Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan
bersalamlah dengan sebenar-benarnya salam.”
5
اً هِ عَ ْ ُ عَلَْ ةً صَلَّى َّ صَلَّى عَلَىَّ وَاحَِ مَ ْ
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat
kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)
Juga, bentukan perahu tempat diletakkannya Kanre Maudu’ yang diumpamakan
sebagai perahu (ajaran) ahlulbait nabi yang tersambung langsung mata rantai sanad
ilmunya kepada Rasulullah SAW. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Thabrani, Al-
Mustaddrak Al-Hakim dan kitab hadis muktabar lainnya, dari jalur Abu Dzar Al-Gifari RA
dan sahabat-sahabat nabi lainnya:
Abu dzar sami’tunnabiyya shollallahualaihiwassalam yaqul: Inna matsala ahla baitii
fiikum matsalu safiinati Nuuhin min kaumihi, man rokibahaa najan, wa man takhollafa
‘anhaa ghoriqo
Abu dzar pernah mendengar nabi bersabda: “Ingatlah, sesungguhnya
perumpamaan Ahlulbaitku bagi kalian seperti bahtera Nuh di tengah kaumnya. Siapa
yang menaikinya akan selamat dan siapa yang tertinggal akan tenggelam”.
Dan juga kain-kain berwarna cerah yang menghiasi model perahu-perahu
tersebut, melambangkan bendera al-Mu'minin di padang masyhar sebagaimana ajaran
dari Sayyid Jalaluddin Al-Aidid di dalam kitab Bayanul Bayan (penjelasan atas
6
penjelasan). Atau merujuk riwayat lain dari kitab Syakhshiyatur Rasul adalah bendera
Al-Hamdu bendera yang dibawa Rasulullah SAW. Umat Islam akan berkumpul di
bawah bendera Rasulullah yang diikutinya dan dicintainya itu, yang akan melindungi
orang-orang beriman pada Hari Kiamat (Yaumul-Masyar).
Allamah Sayyid Jalaluddin Al-Aidid melalui proses Islamisasi kebudayaannya,
dengan menggunakan media Maudu’, beliau berhasil menanamkan keimanan di tengah
masyarakat yang terus bertahan dan tumbuh hingga hari ini. Sebagaimana juga selaras
dengan hikmah ayat Al-Qur’an di surah Ibrahim, ayat 24 sampai 25:
:
ةٍ أَصْلُهَا ثَابِ ٌ َِّ ة َ ٍَ َ َ ةً َ َِّ ةً َ لَِ َلًا َ ُ مَ بَ َّ فَ ضََ ْ َ تََ أَلَْ
ُ بُ َّ ْ هَا وََ إِذْنِ رَِّ ِ ٍ لَّ حِ تِي أُكُلَهَا ُ اءِ﴿ ٢٤ ﴾تُْ َ عُهَا فِي ال َّ وَفَْ
ونَ كَُّ ََ يَ اسِ لَعَلَّهُْ َالَ لِلَّ الْأَمْ
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang
baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah
membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
Menurut Tafsir Ibnu Katsir kata “Matsala Kalimatan Toyyibatan” atau
perumpamaan “kalimat yang baik” juga semisal dengan perumpamaan amal perbuatan,
perkataan yang baik dan amal shalih orang mukmin. Begitu juga dengan Tafsir Al-
Misbah dari Quraish Shihab yang memaknainya bahwa kunci kalimat yang baik adalah
kalimat Tauhid: yakni Lailahaillallah yang akan melahirkan amal perbuatan yang baik.
Begitu juga dengan upacara Maudu’ ini dapat diumpakan sebagai perbuatan yang baik
7
yang akan terus memberikan buah-“pengingat dan pembaruan keimanan”-di tiap bulan
rabiul awal, hingga akhir zaman nanti Insya Allah.
Allahummashalli ala Sayyidina Muhammad wa ala ali Sayyidina Muhammad!
Lebih jauh, bagaimana kemudian menghadirkan hikmah dari pelaksanaan
upacara Maudu’ (maulid besar) di era modern ini?. Jawabannya, dapat kita temukan
dengan menyelami esensi pengajaran sufistik dari Sayyid Jalaluddin Al-Aidid. Tentu
dengan mendekatkannya dengan simbol-simbol kekinian, sebab zaman terus berubah,
dan meniscayakan terjadinya pembaharuan pemaknaan dan pengaplikasian ajaranajaran
agama, yang tentu tidak dapat dipisahkan dari substansi ajaran Islam itu sendiri.
Arah tujuan dari pengajaran sufistik Tarikat Baharunnur (samudra cahaya ilahi),
dari Sayyid Jalaluddin Al-Aidid, serupa dengan tujuan pengajaran sufistik lainnya yakni
berorientasi pada dicapainya Ma’rifatullah (gnosis-Bahasa Inggris) atau mencapai
kesadaran puncak atas kebenaran spritual sejati yakni mengenal Allah dan sifat-sifat
sejatinya beserta posisi sejati hamba tersebut di sisi Allah. Tentu dengan melalui
tahapan syariat-tarikat (fokus kepada ibadah lahiriah-penyucian lahir)-hakikat-makrifat
(fokus kepada Ibadah ruhaniah-penyucian jiwa/hati) sebagai satu kesatuan yang saling
berkaitan. Sebagaimana yang dianalogikan oleh Syekh Yusuf Al-Makassari Ulama Sufi
besar dunia, yang juga salah satu murid Sayyid Jalaluddin Al-Aidid. “Perumpamaan
ibadah lahiriah dan ruhaniah ini serupa dengan susu dicampurkan air. Begitu saling
berkaitan, jika salah satunya baik, maka baiklah semuanya, begitu pun sebaliknya, jika
salah satunya buruk. Buruklah semuanya.
Lebih jauh, banyak ulama menjelaskan buah dari makrifat sebagai hadirnya
perilaku yang meneladani sifat-sifat Allah swt dari tingah lakunya –lahir dan batin–
8
secercah dari sifat-sifat Allah yang diteladaninya. Yang digambarkan dengan syair
Indah dari Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul “Yang Hilang dari kita: Akhlak”
Ma’rifat adalah modalnya. Keadilan adalah tumpuan ajarannya. Pengendalian
diri dasar aktifitasnya. Kasih asas pergaulannya. Kerinduan kepada ilahi
kendaraannya. Zikir pelipur laranya. Kepuasan setelah usaha maksimal adalah
harta simpanannya. Kesadaran akan kelemahan di hadapan Allah adalah
kebanggaannya. Sabar adalah busananya. Zuhud merupakan profesinya.
Kepercayaan diri kekuatannya. Keprihatinan tunggangannya. Kebenaran
andalannya. Ketaatan adalah kecintaannya. Jihad/perjuangan kesehariannya.
Sedang buah matanya adalah ketika menghadap Allah SWT di dalam shalat.
Tentu pertanyaan akan muncul di benak hadirin sekalian yang mulia,
sebagaimana yang telah saya kemukakan sebelumnya, bagaimana kita dapat
mencapai puncak makrifatullah, jika kita begitu dilenakan oleh kehidupan dunia yang
semakin keras saat ini, juga begitu menyita waktu, sehingga kita tidak memiliki waktu
untuk belajar agama dengan serius. Jawaban saya, yaitu kita tetap harus berusaha
untuk terus belajar agama melalui jalan tariqat yang jelas sanadnya hingga Rasulullah.
Sebagaimana yang diajarkan oleh Sayyid Jalaluddin Al-Aidid dan banyak ulama
muktabar lainnya. Namun, sambil mencari atau berupaya belajar agama, hendaklah kita
terus mencoba meneladani akhlak dan perilaku Rasulullah SAW yang begitu
menyelaraskan kesucian batin dan kesucian lahiriah, yang Insya Allah akan
memudahkan kita untuk dilimpahi hidayah oleh Allah SWT. Sebagaimana sabda
Rasulullah SAW:
“Ilmu diperoleh dengan belajar (memaksakan diri dan mengulang-ulangi belajar).
Kelapangan dada melalui pembiasaan melapangkan dada. Siapapun yang selalu
berusaha mencari kebaikan, ia akan dianugrahi dan siapa yang senantiasa berusaha
menghindarkan diri dari keburukan, ia akan dihindari darinya” (HR. Al-khathib).
Adapun beberapa hal penting yang wajib untuk terus kita pupuk dan jaga
sebagai ciri akhlak umat Muhammad di zaman ini adalah, menurut hemat saya, dapat
9
kita merujuk pada pandangan Mufassir Al-Qur’an, intelektual muslim, yang juga Habaib
yakni Prof Habib Quraish Shihab, yang berpendapat bahwa Akhlak dalam Islam itu
bersifat menyeluruh dalam aqidah, syariah dan perilaku, sehingga akan menghadirkan
kesan atau rasa “selamat” dan “kasih” dari tiap prilaku muslimimin dan muslimat kepada
lingkungan sekitarnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
ارِمَ الأَخَلاقِ مَ َ َ لأُتَِّ ُ عِْ ا ُ إنََّ
“Sungguh aku diutus menjadi Rasul untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR:
Bukhari, Baihaqi, dan Hakim)
Yang juga merupakan manifestasi dari firman Allah dalam QS. Al Anbiya: 107
َ ةً لِلْعالَِ اكَ إِلاَّ رَحَْ وَما أَرْسَلْ
“Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi
seluruh alam”
Secara umum dapat dikatakan bahwa akhlak dalam kondisi kekinian dapat
dianalogikan sebagai sopan-santun dan norma utama. Tolak ukur akhlak adalah adil,
yakni menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Sebagaimana contoh
penghormatan, tentu kita tidak dapat menyamakan sikap hormat kita kepada semua
manusia, kita tentu tidak bisa menyamakan sikap hormat kita kepada orang tua, alimulama
dan kepada teman sebaya. Begitu juga dengan sikap hormat kita pada Allah
tentu sangat berbeda dengan sikap hormat kita kepada sesama manusia. Kita haruslah
10
berhati-hati dalam bersikap, dikarenakan melakukan penghormatan yang bukan pada
tempatnya, dapat menjatuhkan kita pada posisi sadar-atau-tidak sadar dalam posisi
menghinakan subjek/objek yang sebenarnya ingin kita hormati.
Atas dasar tersebut, dikategorikanlah enam objek utama akhlak atau prilaku
sopan-santun dalam islam:
Pertama, sopan-santun kepada Allah SWT, ini adalah hulu sikap kaum beriman,
yakni (1) membenarkan informasi-Nya; (2) Melaksanakan dengan tulus perintah-Nya
dan (3) menerima takdir-Nya dengan syukur, sabar, dan Rida.
Kedua, sopan-santun kepada Rasulullah Muhammad SAW. Dikarenakan umat
Islam memercayai Nabi Muhammad SAW sebagai rasul yang harus diagungkan, maka
kita harus memiliki penghormatan berganda kepada beliau. Di samping itu kita juga
harus mencintainya yang memiliki konsekuensi meneladani perilaku terpuji beliau di
kehidupan sehari-hari. Sebagaimana Ulama-Ulama terdahulu hingga sekarang
membudayakan untuk menghadirkan majelis-majelis Maulid Rasulullah dan majelismajelis
zikir dan shalawat sebagai sarana untuk terus dapat mengingat dan meneladani
keagungan akhlak beliau.
Ketiga, Sopan santun terhadap sesama manusia, mulai dari orang tua, dimana
meskipun orang tua kita memaksa melakukan pelanggaran agama yang kita harus
menolaknya tapi kita tetap diperintahkan untuk menghormati dan berbakti kepada
mereka. Sahabat yang harus kita perlakukan dengan baik sebagaimana kita ingin
diperlakukan. Dan dalam konteks hari ini dimana fitnah dan kabar buruk begitu mudah
beredar melalui media sosial. Sebaiknya kita selalu mendahulukan prasangka baik dengan melakukan Tabayyun (check and recheck).
Tetangga dan tamu yang di dalam Islam yang haknya-meski seorang non muslim dijadikan salah satu tanda keberimanan seseorang sesuai sabda nabi “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman.” “Siapakah, Rasulullah?” Tanya sahabat. “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya,” jawab beliau” (HR. Bukhari). Juga hadis lain Bukanlah seorang mukmin yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangga sebelahnya kelaparan” (HR: Bukhari), dan hadis yang berbunyi “siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamunya”. "Pekerja” yang mana kita diperintahkan oleh Nabi untuk diperlakukan adil dan membayar upah sebelum keringat mereka kering. Bahkan untuk seorang musuh, kita diharuskan Al-Quran dan hadis untuk berlaku adil dan bahkan tetap menghargai hak-hak mereka sebagai manusia, meski dalam peperangan. Terakhir, kita juga diharuskan untuk berakhlak kepada diri kita sendiri sebagaimana begitu banyak anjuran bahkan doa untuk aktifitas kita sendiri mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali.
Keempat, hendaknya kita juga berlaku sopan santun terhadap mahluk hidup lainnya, seperti binatang dan tumbuhan yang juga memiliki hak untuk kita perlakukan baik bahkan ketika kita ingin menyembelih hewan, kita diperintahkan untuk menajamkan pisau untuk mempersingkat rasa sakit kematiannya.
Kelima, begitu juga dengan benda tidak bernyawa, serupa perkakas,peralatan, dan kendaraan kita haruslah kita perlakukan dengan baik, salah satu yang dapat kita jadikan contoh dari laku Rasulullah adalah menamakan tiap hewan dan benda yang beliau miliki, mulai dari pedang, sisir, cermin, bahkan gelas, untuk menciptakan hubungan baik dengan benda-benda tersebut.
Keenam, pun kepada mahluk gaib, kita dianjurkan untuk tetap mengedepankan akhlak bukan dalam rangka untuk bersekutu dan berbuat kesyirikan dengannya tentunya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ada anjuran dari rasulullah dan ulama terdahulu untuk berta-audz terlebih dahulu dan tidak langsung membuang air panas ke lubang pembuangan kotoran. Dikarenakan dikhawatirkan air panas tersebut akan membunuh jin-jin yang menjadikan lubang kotoran tersebut sebagai tempat tinggalnya. Begitu juga kepada malaikat, khususnya malaikat Rakib-Atid pencatat perbuatan kita. Sebaiknya kita mengedepankan akhlak khususnya rasa malu melakukan dosa sebab kita sadar setiap kegiatan kita dilihat dan dicatat oleh mereka semoga kita senantiasa berupaya konsisten dan ikhlas untuk mengamalkannya dengan berharap mendapatkan hidayah dari Allah SWT untuk dapat terus menyempurnakannya, sebagaimana sabda rasulullah yang diriwayatkan oleh para ulama bahwa puncak keimanan adalah akhlak, sekaligus menjadi penekanan diutusnya Rasulullah sebagai rahmat semesta. Dan dengan kebiasaan-kebiasaan baik itu semoga kita juga dihindarkan dari keburukan kehidupan dunia dan berujung kebahagian di akhirat yang kekal abadi. Akhirnya, marilah kita senantiasa berbuat baik, benar, dan indah. Karena berbuat baik melahirkan etika, berbuat benar melahirkan ilmu, dan berbuat indah melahirkan seni. Itulah esensi atau pancaran dari makrifatullah, kita akan mengenal Allah dan RasulNya dan akan berusaha menyelaraskan laku kita dengan perintah Allah dan akhlak-prilaku Nabi-Nya. Yang juga begitu selaras dengan simbol perahu yang digunakan dalam prosesi maudu ini. Perahu yang disimbolkan sebagai ajaran Nabi melalui AhlulBaitnya yang akan terus membawa dan menuntun umat ini hingga ke yaumil Mashar dalam bingkai menyempurnakan akhlaknya, hingga nanti kita bertemu
kembali dengan Rasulullah di bawah bendaranya sambil berharap syafaatnya dan dimasukkan ke dalam Surga Jannatunnaim bersama beliau dan seluruh orang beriman.
Aamiin-Aamiin Ya RabbalAlamin.
Wallahu a’lam bissawab
Ila hadrati Nabi Mustafa Sayyidina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wabarik
wasallam.
Al-Fatihah.
Wassalamualaikum wr.wb.
Penulis: Fian Anawagis (Ketua Angkatan Sejarah Peradaban Islam 2016)
