The Kingdom Of Gowa
April 28, 2022
KERAJAAN
GOWA
SEJARAH
INDONESIA PRA-ISLAM
JURUSAN
SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS
ADAB DAN HUMANIORA
UIN
ALAUDDIN MAKASSAR
Oleh :
Nama:
Ana Nurwina Tanal
Nim:
40200116160
No.Hp:
085311994224
Kelas:
Ak. 8/semester 3
A. Tu-manurung ri Butta Gowa
Kerajaan Gowa merupana
suatu kerajaan terbesar di Sulawasi Selatan selain Luwu dan Bone. Awal terbentuknya kerajaan Gowa itu sendiri, diawali
dengan adanya Tu-manurung (Makassar) atau To-manurung (Bugis) yang diangkat menjadi
raja Gowa pertama. Asal mula nama Gowa tidak diketahui dengan pasti kenapa
kerajaan Gowa dinamai dengan nama “Gowa”, tak ada satupun lontara’ yang
menjelaskan tentang hal itu. Meskipun pada beberapa waktu sebelumnya, pakar lokal
berdebat soal asal-usul penamaan Gowa, tetapi sebaiknya kita sepakat dengan
Prof. Mattulada. Menurutnya, Gowa berasal dari kata ‘goari’ yang artinya
“penghimpunan”. Pendapatnya itu paling masuk akal mengingat proses terbentuknya
Gowa yang berupa persekutuan.[1]
Hanya dikatakan bahwa
jauh dari raja putri yang disebut Tu-manurung memerintah, Gowa purba pernah dikendalikan
oleh empat raja sebagaimana disebutkan dalam lontara’:
1. Batara Guru.
2. Yang dibunuh di Talali.
Nama aslinya tidak diketahui, dan dikatakan sebagai saudara Batara Guru.
3. Ratu Sapu atau I
Marancai, dan
4. Karaeng Katangka. Nama
aslinya tidak diketahui.
Dari mana asal dari
keempat raja tersebut dan bagaimana sistem pemerintahannya, juga tidak
diketahui.[2]
Akan tetapi, menurut Prof. Dr. H. A. Mattulada dalam bukunya “Sejarah, Masyarakat,
dan kebudayaan Sulawesi Selatan” dikatakana bahwa, besar dugaan Batara Guru
yang disebutkan di atas ada hubungannya dengan nama yang sama (kakek
Sowerigading) yang tersebut dalam I La Galigo.[3]
Adapun pada zaman itu
dikatakan Gowa purba setelah pemerintahan karaeng Katangka, memiliki daerah
permukiman yang terpisah-pisah yang kemudian masing-masing diberi nama tempat
permukiman merekabori’ (negeri) yaitu Tombolo’, Lakiung, Saumata,
Parang-parang, Data’, Agang Je’ne, Bisei, Kalling, dan Sero’yang
masing-masing dipimpin oleh raja-raja kecil dengan gelar-gelar seperti karaeng,
anro-guru, atau gallarang. Untuk menjaga perdamaian dari kesembilan bori’
ini, maka mereka bersama-sama memilih ketua yang disebut paccallaya
(yang mencela) dari kalangan mereka. Paccallaya berperan sebagai
penasehat dalam perdamaian, akan tetapi dia bukanlah pemimmpin tertinggi dari
kesembilan bori’ retsebut.
Seiring berjalannya
waktu, kerena mereka merasa perlu adanya pemimpin yang lebih dari pada
penasehat serta mampu menyatukan persekutuan untuk membangun suatu negeri besar
dan mereka tidak suka memilih diantara mereka sebagai pemimpin, timbullah
konflik diantara mereka dan pemerintahan menjadi kacau. Selain diantara mereka
sendiri, mereka juga mengalami serangan dari orang-orang Garassi, Untia dan
Lambengi.[4]Karena
kekacauan itu, maka mereka memberi amanah kepada dua orang ketua kaum yaitu gallarang
Tombolo dan gallarang Saumata untuk mencari tokoh yang mampu
memimpin dari kesembilan bori’ ini dalam satu persekutuan yang disebut Butta Gowa (negara Gowa).
Tak lama kemudian, menurut lontara’ patturiolonga ri
Tu-Gowaya, akhirnya kedua gallarang itu menemukan tokoh yang diinginkan.
Seorang perempuan yang dinamai Tu-manurung yg ditemukan di Taka’bassia
(sekarang Tamalate). Maka sepakatlah raja-raja kecil itu bersama paccallaya
untuk menjadikan Tu-manurung sebagai pimpinan tertinggi mereka, dengan suatu
perjanjian yang disepakati bersama. Akhirnya paccallaya bersama dengan
kesembilan bori’ tersebut membangunkan istana untuk rajanya ditempat yang
bernama Taka’bassia, diberi nama istana Tamalate (tidak layu), karena
istana itu telah selesai sebelum layu dedaunan kayu-kayu yang dijadikan bahan
istana raja.[5]
Dalam pertumbuhan
kerajaan Gowa, kesembilan pimpinan bori’ itu menjabat sebagai anggota
dewan kerajaan yang mula-mula disebut Kasuwiang salapanga (pengabdi yang
sembilan) dan kemudian menjadi Bate-Salapanga ri Gowa (Sembilan Panji di
Gowa).
Tak lama kemudian,
tersirah kabar di negeri-negeri lain bahwa ada Tu-manurung yang menjadi raja di
Gowa. Ia dikenal sebagai raja putri yang termansyur, maka datanglah raja-raja
dari negeri lain menyembah kepada Tu-manurung.[6]
Selain itu, ada juga pendatang yang tidak diketahui asal muasalnya untuk
menemui Tu-manurung. Dikatakan dalam lontara’akan kedatangan karaeng Bajo
bersama Lakipadada (menurut lontara keduanya bersaudara), untuk menghormati
kedatangan Tu-manurung ri Gowa. Karaeng Bayo membawa sebilah kalewang yang dinamakan
“Tanru’ allanga”, dan Lakipadada membawa kalewang yang di namakan “Sudanga”.
Kedua kalewang itu di persembahkan kepada Tu-manurung. Keduanya kemudian menjadi
alat kebesaran (regalia) Butta Gowa.[7]
Karena Kesuwiang salapang
merasa perlu adanya generasi dari Tu-manurung dan melihat Tu-manurug belum
memiliki pasngan, maka mereka bersama paccallaya mencoba menemui Karaeng
Bajo dan memintanya untuk memperistrikan karaeng Tu-manurung. “Ikau mae
kialle kipasikalabini Karaemmang” (kami datang ambil engkau untuk
mempersuami-istrikan engkau dengan raja kami). Berkatalah karaeng Bajo :“Nupanaung-jakinjorilantanna
buttaya ikau pannaja pa’ rasangang nakipammakkangang, alaijamamoseng
kamupanaiki’ ripucu’na kalukua, natakikate’naeng”(sedangkan engkau
siempunya negeri menurunkan-kami kedalam lubang tanah kami berdiam diri, apa
lagi engkau naikkan kami kepuncak pohon kelapa sudah tentu hal itu sangat
mengembirakan hati kami).[8]
Setelah percakapan itu,
maka tak lama kemudian diadakanlah pernikahan karaeng Tu-manurung barsama karaeng
Bajo di istana yang baru dibangun, sesuai dengan adat istiadat yang ada di
Gowa. Dari pernikahan mereka, maka lahirlah seorang putera dengan keadaan yang
luar biasa.
Dikatakan luar biasa
karena, ia dikandung oleh bundanya selama 3 tahun, bahunya tidak rata, yang
satu diatas yang satunya lagi dibawah, telinganya yang sebelah berbenjol dan
satunya lagi berbentuk lebar, pusarnya besar seperti baku’ karaeng.Ia di beri
nama oleh kedua orang tuanyaTu-massalangga Barayang (orang yang berbahu
miring), setelah lahir, ia langsung dapat bercakap-cakap, berjalan dan
berlari-lari.
Maka bersabdalah
bundanya :
“,,, Mengapa anakku
seorang-orang kerutut karena bahunya miring, telinganya seperti bukit yang
melambai-lambai ; rambut yang putus di Jawa dapat di dengarnya ; kerbau putih
mati di Selayar tercium olehnya ; burung yang terbang di Bantaeng dapat dilihatnya
; kakinya seperti timbangan ; pusarnya bagaikan mata air ; tangannya pandai
menikam, siapa yang menyembah kepadanya bertahil-tahil emasnya (akan jadi
kaya), siapa yang menyembah dia akan dimohonkannya berkat (keselamatan) ; siapa
yang menyembah dia akan menjadi rakyatnya”.
Setelah Tu-massalangga
Barayang tumbuh agak besar dan sewasa, tibahlah saatnya ibunda Tu-manurung untuk
mengambil dukuh hiasan emas yang ceper seperti piring. Dukuh emas itu di
belahnya menjadi dua bagian, yang satu
dipakainya dan yang satunya lagi ia simpan untuk puteranya dan dinamai “Tanisamanga”.
Setelah itu, masuklah karaeng Tu-manurung ke dalam kamarnya dan di situlah
baginda mairat (menghilang) untuk selamanya.[9]
Karaeng Bajo dan
Lakipadada juga masing-masing dalam keadaan mairat dengan meninggalkan
masing-masing kalewangnya untuk Tu-massalangga Barayang. Tunruballanga,
sudanga, dan tanisamanga menjadi inti kelompoang (kebesaran)
di Butta Gowa atau kerajaan Gowa mulai zaman purba sampai sekarang.
Tu-massalangga Barayang
Tu-massalangga Barayang
menggantikan ibundanya sebagai raja Gowa yang ke II.
Didalam lontara tidak dicatat
atau ditemukan tentang bagaimana hal-ihwal pemerintahannya, siapa istri atau
permaisuinya. Hanya dapat diriwayatkan, bahwa ketika sang raja dihadapkan oleh
rakyatnya maka berkatalah sang raja “duduklah engkau sekalian”.
Setelah itu,
berjalanlah raja Gowa ke sebelah utara menuju bukit yang di kampung Jonggowa
(mungkin ujung Gowa). Ketika itu, datanglah badai petir, halilintar yang silih
berganti, hujan turun dihari yang panas terik ketika itu juga, menghilanglah
baginda dari penglihatan masyarakatnya.
I-puang Loe Lembang
Setelah baginda
Tu-massalangga Barayang menghilang, beliau digantikan oleh puteranya I-Puang
LoE Lembang sebagai raja Gowa ke III.
Tuniata’banri
Kamudian setelah
I-Puang LoE Lembang, digantikan oleh puteranya Tuniata’banri sebagai raja Gowa
ke IV.
Karampang ri Gowa
Selanjutnya setelah
Tuniata’banri, beliau di gantikan oleh puteranya yang bernama Karampang ri Gowa
sebagai raja Gowa yang ke V.
Bagaimana hal-ihwal
kehidupan pribadi dan penyelenggaraan pemerintahannya, tidak dituliskan ke
dalam lontara’. Dimulai dari raja Gowa ke II Tu-massalangga Baraya sampai pada
raja Gowa ke V Karampang ri Gowa, semuanya dinyatakan mairat ke kayangan atau
kembali ke asalnya yang di percaya sebagai kayangan.
Tu-natangka Lopi
Sebagai pengganti
raja-raja Gowa sebelunya setelah raja Gowa ke V Karampang ri Gowa yang di
nyatakan mairat di kayangan, maka beliau digantikan oleh puteranya yang disebut
Tu-natangka Lopi (orang yang ditutupi perahu) sebagai raja Gowa yang ke VI.
Raja Gowa yang ke VI inilah yang keturunan Tu-manurung ri Gowa yang pertama
wafat dan dikebumikan sebagai manusia biasa. Perkiraan waktu kehadiran
Tu-manurung sebagai raja Gowa pertama sampai pada raja Gowa ke V Karampang ri
Gowa, antara tahun 1300-1400 tahun masehi.[10]
Tu-natangka Lopi memiliki
dua orang putera, yang disebut Batara Gowa dan yang bungsu disebut Karaeng LoE
ri Sero’, siapa nama asli mereka tidak di ketahui.
Pada suatu waktu,
timbul perselisihan antar kedua putranya tersebut, karena merasa khawatir bahwa
sangketa itu dapat menimbulkan perang saudara dikerajaan Gowa, maka beliau
memisahkan gallarang-gallarang di Gowa dalam dua golongan untuk mencegah
terjadinya bahaya itu.
Golongan yang pertama ditetapkan untuk dikuasai
oleh Batara Gowa yaitu :
a. Gallarang Paccellekang
b. Gallarang
Pattaallassang
c.
Gallarang Bontomana’ –Timur
d. Gallarang Bontomana’
–Barat
e.
Gallarang Tombolo’ dan
f.
Gallarang Mangasa.
Golongan yang ke dua
ditetapkan untuk dikuasai oleh Karaeng LoE ri Sero, yaitu :
a. Gallarang Saumata
b. Gallarang Pannampu’
c.
Gallarang MoncongtloE dan
d. Gallarang Parang LoE
Entah berapa lama Tu-natangka
Lopi mengendalikan pemerintahan di Gowa, maka baginda mangkat atau meninggal.[11]
Tu-natangka Lopi yang berarti orang yang ditutupi perahu. Itulah nama anumerta
baginda, karena wafat akibat perahu ditumpanginya terbalik dan baginda
terperangkap didalamnya.[12]
Sampai tiba saatnya yang mewarisi kerajaan Gowa ialah Batara Gowa.
Batara Gowa
Batara Gowa menjadi
raja Gowa yang ke VII.
Perselisiaha antara
kedua saudara ini yaitu Batara Gowa da Karaeng LoE ri Sero masih saja terjadi,
hingga akhirnya Karaeng LoE ri Sero pergi meninggalkan Gowa menuju ke Jawa.
Sehingga Batara Gowa mendaulat kekuasaan dari Karaeng LoE ri Sero atas
gallarang –gallarangnya.
Setelah Karaeng LoE ri
Sero datang dari Jawa, beliau tinggal didekat sungai dan memberikan nama tempat
itu “ passi’nang” (jangan bersedih). Lama kelamaan nama tempat itu lazim
di sebut “Patcinang”, dinamai demikian karena beliau merasa bersedih
hati atas perilaku kakaknya Batara Gowa terhadap dirinya.
Maka kedua sahabat
Karaeng LoE ri Sero mencoba menyenangkan hati beliau dengan meminta beliau untuk
tinggal di kampung Batuwa didaerah pemerintahan Karaeng LoE ri Bira. Maka
beberapa waktu kemudian, kedua sahabatnya Karaeng LoE ri Bira bersama karaeng
LoE ri Bentang bersia sekata untuk mengakui dan memperlakukan Karaeng LoE ri
Sero sebagai raja yang melebihi kedudukan mereka.
Hingga pada akhirnya,
kedua sahabatnya itu, meminta masyarakatnya untuk menebang hutan yang di namai “Talloang”,
dekat sungai Bira. Disitulah didirikan istana untuk Karaeng LoE ri Sero. Tempat
itu kemudian dinamai Tallo’, pada saat itulah mulai berdiri kerajaan Tallo’ dan
Karaeng LoE ri sero sebagai rajanya yang pertama. Hal ini bukan berarti kerajaan
Tallo’ berdiri sendiri dan lepas dari wilayah kerajaan Gowa, tetapi Tallo’
tetap berada di bawah kekuasaan kerajaan Gowa.
Kedua kerajaan ini
tidak dapat dipisahkan, karena begitu etar hubungan antar keduanya. Sehingga
kemudian penulis bangsa asing Belanda mengenai sajarah Gowa-Tallo menamakan “Zusterstaten”
yang berarti, “dua raja tetapi hanya satu rakyat”. Dikalangan raknyat Gowa pun
terdengar pribahasa :Rua karaeng nase’re ata. (dua raja tetapi hanya
satu rakyat.[13]
Kedua kerajaan ini juga
bekerja sama, yang dimana kedudukan raja Gowa selaku pemikir utama, sedangkan
raja Tallo selaku pelaksana. Sepanjang tradisi, siapa yang menjadi raja Tallo’
itu juga yang memangku jabatan sebagai mangkubumi (pabbicara-Butta) di
Gowa.
Raja Gowa ke VII
menikah dengan seorang putri dari Somba Garassi, siapa nama puteri itu tidak di
ketahui. Dari pernikahan Batara Gowa dengan puteri dari Somba Garassi,
melahirkan tiga orang anak yang masing-masing diberi nama :
1. Seorang putera yang
bernama I-Pakeretau
2. Seorang putera yang di
gelar karaeng Garassi
3. Seorang puteri yang di
gelar karanga ri Bone.
Setelah permaisurinya
wafat, Batara Gowa kembali menikah dengan perempuan yang bernama I-Rerasi yang
barasal dari Tallo’, dan melahirkan seorang putera yang bernama “Daeng Matanre”
(tidak diketahui nama kecilnya).
I-pakeretau
Kemudian setelah Batara
Gowa mangkat, maka puteranya yang bernama I-Pakeretau menggantikan ayahandanya menjadi
raja Gowa yang ke VIII.
Bagaimana system
pemerintagannya tidak diketahui. Hanya diriwayatkan, bahwa baginda mangkat
karena diamuk dengan sebilah galah oleh seorang budaknya. Oleh sebab itu maka baginda
kemudian disebut Tunijallo’ ri Pasukki (raja yang di amuk di negeri Pasukki).
Daeng Matanre
Yang menggantikan
Tunijallo’ ri Pasukki ialah saudaranya yang bernama Daeng Matanre selaku raja
Gowa yang ke IX.
Baginda memiliki
sifat-sifat istimewa, seperti : cerdas, berani, dan berbudi pekerti yang baik.
Dalam sistem pemerintahannya, beliau berusaha sekuat tenaga untuk memajukan
sejarah moderen kerajaannya dalam berbagai macam bidang. Beliau memperluas
daerah kekuasaan di Sulawesi Selatan. Baginda membuat undang-undang serta
peraturan-peraturan perang, mengangkat pejabat-pejabat dalam daerahnya,
mengadakan pengumutan-pengumutan bea dan sebagainya untuk perbelanjaan
kerajaan. Baginda mengangkat syahbandar. Yang mula-mula diangkat dalam jabatan
itu, ialah seorang yang bernama Daeng Pammate dan ini juga menjabat selakuTumailalang
di Gowa yang mengurus kepentingan-kepentingan dalam kerajaan. Dikatakan bahwa
Daeng Pammatelah yang membuat lontara Makassar atas perintah raja Gowa yang di
sebut dengan “Lontara Turiolo’’. Pada masa itulah orang Gowa mulai
mencatat dalam buku tentang kejadian-kejadian yang penting dalam kerajaan Gowa,
diantara lain “Buku harian dari raja-raja di Gowa dan Tallo’ ”.[14]
Masa pemerintahan raja
Gowa yang ke IX inilah yang mulai membuat Butta Gowa memiliki catatan tentang
peristiwa yang terjadi secara menyeluruh dalam pemerintahanyan.
Pada masa pemerintahan
raja ke-IX ini, behasil memperluas daerah kekuasaannya dengan menaklukkan
negeri-negeri lain seperti Garassi, Kalling, Parigi, Siang (Pangkaje’ne),
Sidenreng, Lempangang, Mandalle, dan kerajaan kecil lainya. Gowa menjadi
imperium maritim yang kuat. Faktanya, mereka membuat bentuk pertahanan yang
berada di kawasan dekat dengan perairan di Gowa. Tidak tanggung-tanggung
sebanyak 5 benteng pertahanan –walaupun belum mengenal racikan semen, jadi
pakai tanah liat- dibangun dimasa pemerintahannya. Proyek pertama adalah
pembangaunan Somba Opu, sebagai kubu utama perlindungan istana. Kemudian disusul
dengan pembangunan Kale Gowa, Tallo Sanrobone, dan yang paling nyentrik adalah
Ujung Pandang. Benteng yang terakhir ini seluas 3 hektar dan dibangun dipesisir
bibir pantai Makassar, bentuk seperti penyu raksasa yang menghadap kelaut yang
tentu jika melihatnya dari atas.[15]
Pada pertengahan abad
ke-16 (kira-kira 1543 atau 1546) baginda mangkat setelah mengendalikan kerajaan
Gowa kira-kira 36 tahun lamanya. Baginda mangkat karena menderita penyakit
leher. Oleh sebab itu maka baginda kemudian di gelar karaeng Tumapa’siri’
kallonna” (raja yang sakit lehernya).
I Manriogau’ Daeng
Karaeng Lakiung
Setelah raja Gowa karaeng Tumapa’siri’ kallonna mangkat,
beliau digantikan oleh I Manriogau’ Daeng Karaeng Lakiung sebagai raja Gowa
yang ke X.
Beliau bersama dengan
mangkubumi yaitu raja Tallo’ yang bernama Mappatakatana Daeng Padulung
melanjutkan usaha-usaha yang telah dicapai oleh raja sebelumnya. Dalam waktu
singkat, belau mampu memperluas kekuasaan wilayah bahkan sampai pada daerah diluar
Sulawesi Selatan. Seperti : Bajeng, Lengkese, Lamuru, Cenrana, Salo’mekko,
Bulo-bulo, Lamatti. Bulukumba, Kajang, Gantarang, Panjikokang, Wero (Hero),
Bira, Selayar, Otteng, Wajo, Sawitto, Soppeng, Alitta, beberapa negeri dalam
daerah Mandar, Kaili, dan Toli-toli di Sulawesi Tenggara. Beliau juga
menaklukkan Luwu dan membuat perjanjian persahabatan dengan raja Luwu.
Selain beberapa daerah yang sudah di kuasai dengan waktu
yang sangat singkan, membuat nama ‘Gowa’ menjadi menakutkan dikalangan
negeri-negeri lain. Bahkan dalam armada lautnya, mereka disegani di lautan
Nusantara, termasuk perampok-perampok yang berada di laut lebih baik menjauhkan
diri sebelum kapalnya menjadi sandaran karang.
Pada masa pemerintahan
I Manriogau’ Daeng Karaeng Lakiung jugalah Gowa memulai peperangan terhadap
Bone. Ketika beliau berada di Bone dalam memimpin pasukannya untuk menyerang
pasukan Bone, beliau terpaksa harus kembali ke Gowa kerena penyakit yang sudah
lama ia derita bertambah parah. Sekitar 48 hari lamanya beliau tiba di Gowa,
maka beliau mangkat karena penyakitnya itu. Baginda kemudian disebut karaeng
Tunipalangga-Ulaweng, bagindalah raja Gowa yang pertama menyuruh angkat (bawa
pergi) orang-orang bersama harta bendanya ke Gowa, bilamana baginda menaklukkan
sebuah negeri. Baginda mewajibkan raja yang ditaklukkan olehnya mengakui ikrar
yang berbunyi “Makkanama’ numammijo” (aku bertitah dan engkau tunduk
patuh).[16]
I Tajibarani Daeng
Marompa Karaeng Date’
Setelah karaeng Tunipalangga-Ulaweng
mangkat, beliau digantikan oleh saudaranya yang bernama I Tajibarani Daeng
Marompa Karaeng Date’ sebagai raja Gowa yang ke XI.
Kira-kira 20 hari
setelah diangkat menjadi raja Gowa, beliu langsung meneruskan peperangan
terhadap Bone. Sayangnya beliau gugur dalam peperangan akibat musuhnya,
sehingga beliau di sebut karaeng Tunibatta (raja yang terpancung). Peristiwa
itu terjadi kira-kira dalam tahun 1565, dan hanya memerintah sebagai raja
selama 40 hari. Karena ditinggal oleh pasukannya yang mundur, maka atas izin
dari raja Bone La Tenrirawe Bongkange MatinroE ri Gucinna dan pula atas usaha dari
Kadjao Laliddo yang pada waktu itu menjadi penasihat utama dari kerajaan Bone,
maka Arung Teko bersama Arung Biru, Arung Lamoncong dan Arung Sanrego
(keenpatnya adalah pembesar-pembesar dalam kerajaan Bone) membawa jenazah raja Gowa itu ke Gowa.
Beberapa hari kemudian
setelah karaeng Tunibatta gugur dalam peperangan, maka di lakukanlah suatu perundingan
yang dilakukan oleh raja Bone La Tenrirawe Bongkange bersama Kadjao Laliddo dipihak
lain mangkubumi I Mappataka’tana Daeng Padulung (kemudian lazim di sebut Tumenanga
ri Makkoajang) sebagai pihak dari kerajaan Gowa. Perundingan itu di lakukan di
kampung Caleppa di dalam daerah Bone.
Dalam perundingan itu,
menghasilkan suatu kesepakatan bersama, yaitu suatu perjanjian damai antara
kedua-belah pihak. Yang kemudian perjanjian itu lazim di sebut oleh rakyat Gowa
“Ulukanaya ri Caleppa”(perjanjian di Caleppa).
Manggorai Daeng Mammate
Karaeng Bontolangkasa
Yang menjadi raja Gowa yang ke XII adalah Manggorai Daeng
Mammate Karaeng Bontolangkasa, beliau adalah anak dari raja sebelumnya.
Pada masa
pemerintahannya, baginda bekerja keras untuk memajukan kerajaannya sebagaimana
yang dilakukan oleh para pemimpin sebelumnya. Dalam keadaan damai antara
kerajaan Gowa dengan kerajaan Bone, baginda menjalin persahabatan dengan
raja-raja diluar Sulawesi seperti : raja Mataram, raja Banjarmasin, taja-raja
di kepulauan Maluku, kepulauan Timor, raja Djohor dan lain-lain.
Dalam tahun 1580, Sultan
kerajaan Ternate yang bernama Baal-Ullah datang ke Somba Opu, ibu kota kerajaan
Gowa, berkunjung kepada raja Gowa. Dalam kunjungan tersebut, mereka mewujudkan suatu
perjanjian persekutuan dan Sultan Ternate menyerahkan kembali pulau Selayar kepada
raja Gowa yang pernah menguasai daerah tersebut.
Kira-kira 10 tahun
lamanya baginda mengendalikan kerajaan Gowa, entah apa sebabnya baginda mulai
tidak menepati janji persaudaraan yang dibuatnya dahulu terhadap kerajaan Bone.
Sehingga timbullah kembali peperangan antara kedua kerajaan ini yang
berlangsung sangat lama. Pada masa pemerintahan baginda raja Gowa yang ke XII
jugalah yang menanggung permusuhan terhadap persekutuan Bone, Soppeng, Wajo.
Baginda memimpin peperangan tetapi selalu gagal. Hingga pada akhirnya, ketika
baginda berada di kapal menuju Pare-pare untuk masuk kewilayah Wajo melalui
Adjatappareng, baginda tiba-tiba diamuk oleh salah seorang pengikutnya yang
diketahui sebagai saudara sesusuan bagina karena merasa jengkel dan muak atas
perilaku baginda yang frustasi dan suka marah-marah diatas kapalnya akan
kekalah yang ia alami.
Sehingga baginda
disebut dengan nama karaeng Tunijallo” (raja yang di amuk), dengan waktu
pemerintahannya selama 25 tahun (1565 – 1590).
I Tepu-Karaeng Daeng
Parabbung
Setelah kematian karaeng Tunijallo, beliau digantikan
oleh puteranya yang bernama I Tepu-Karaeng Daeng Parabbung, selaku raja Gowa
yang ke XIII.
Diusianya yang ke 15
tahun, ia harus menggantikan ayahnya yang kematiannya terlalu cepat. Dalam pemerintahannya,
beliau sangat nakal dan susah diatur. Bahkan Pabbicarabutta kewalahan
menanganinya dan sering dibuat bingung atas perilaku rajanya yang keras kepala
itu, bahkan ia membunuh siapa saya yang menurutnya menarik untuk dibunuh. Karena
perilaku yang sewenang-wenang itu, membuat beberapa kalangan bangsawan serta
beberapa rakyat Gowa meninggalkan Gowa, sehingga Gowa mengalami krisis sosial
mengerikan. Hingga pada akhirnya Hadat Gowa sepakat untuk menurun-paksakan
rajanya yang sewenang-wenang itu. Satu-satunya jalan keluar, beliau harus di
buang! Sekitar 2-3 tahun lamanya belau memerintah dan di turunkan dari
jabatannya.
Kemudian beliau meninggalkan
Gowa dan pergi berdiam diri di Luwu. Disanalah baginda mulai masuk Islam.
Baginda lazim disebut karaeng Tunipasulu” (raja yang dikeluarkan). Entah berapa
lama kemudian, beliau pergi tinggal di Buton, dimana beliau wafat pada tanggal
5 juli 1617.[17]
I Manga’rangi Daeng
Manra’bia
Yang menggantilan
beliau adalah saudaranya yang di sebut I Manga’rangi Daeng Manra’bia selaku
raja Gowa yang ke XIV.
Pada usianya baru
beranjak 7 tahun, belau sudah di angkat menjadi raja. Karena masi kecil, untuk
sementara pemerintahan Gowa dijalankan oleh mangkubumi selaku raja Tallo’
I-Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka, yang kemudian sering di sebut
karaeng Matowaya. Ibunda raja Gowa yang ke XIV ini iyalah I-Somba Daeng
Niasseng, saudara kandung dari mangkubumi I-Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng
Katangka.
Dalam pemerintahan raja
yang ke XIV inilah, Portugis mulai mengambil bagian dalam percaturan bisnis
dibadar dagang Makassar. Selain itu, pada masa inilah Islam mulai menjadi agama
tetap bagi Butta Gowa. Diawali dengan mangkubumi yang memeluk agama Islam pada
tahun 1605 yang kemudian disusul oleh keponakannya yaitu I Manga’rangi Daeng
Manra’bia selaku raja Gowa yang ke XIV yaitu pada malam jumat 9 djumadilawwal
1014 setuju dengan tanggal 22 september 1605.
Sebagai raja yang
mula-mula memeluk agama Islam di Sulawesi Selatan, maka baginda raja Tallo’
selaku mangkubumi di Gowa digelar Sultan Abdullah Awalul Islam. Dan diikuti
keponakannya dengan gelar Arab Sultan Alauddin.[18]
Dari sini, maka
berakhirlah sistem pemerintahan Butta Gowa sebelum masuknya Islam (pra-Islam)
setelah raja Gowa I Manga’rangi Daeng Manra’bia selaku raja Gowa yang ke XIV
memeluk Islam dan digelari dengan nama Arab Sultan Alauddin.
DAFTAR PUSTAKA
Mattulada.
Sejarah Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Ujungpandang:
Hasanuddin University Press, 1998.
Purnama
L.Kerajaan Gowa; Masa Demi Masa Penuh Gejolak. Makassar: Arus Timur,2014.
Patunru,
Abd Razak Daeng. Sejarah Gowa. Ujungpandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi
Selatan, 1967.
Wahyuddin.Sejarah
dan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Makassar: Alauddin Universityn Press,
2014.
[1] H. L. Purnama, Kerajaan Gowa; Masa
demi Masa Penuh Gejolak (Makassar: Arus Timur, 2014), h. 15.
[2]ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah
Gowa (Makassar: Yayasan Kebudayaan
Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 1.
[3] Prof. Dr. H. A. Mattulada, Sejarah
Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (Ujung Pandang: Hasanuddin
University Press, 1998), h. 30.
[4] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah
Gowa (Makassar: Yayasan Kebudayaan
Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 2.
[5] Drs. Wahyuddin G, M.Ag, Sejarah dan
Kebudayaan Sulawesi Selatan (Makassar: Alauddin Universityn Press, 2014),
h.58.
[6] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah
Gowa (Makassar: Yayasan Kebudayaan
Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 3.
[7] Prof. Dr. H. A. Mattulada, Sejarah
Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (Ujung Pandang: Hasanuddin
University Press, 1998), h. 35.
[8] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah
Gowa (Makassar: Yayasan Kebudayaan
Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 3-4.
[9] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah
Gowa (Makassar: Yayasan Kebudayaan
Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 6-7.
[10] Prof. Dr. H. A. Mattulada, Sejarah
Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan(Ujung Pandang: Hasanuddin
University Press, 1998), h. 36-37.
[11] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah
Gowa (Makassar: Yayasan Kebudayaan
Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 8.
[12] Prof. Dr. H. A. Mattulada, Sejarah
Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan(Ujung Pandang: Hasanuddin
University Press, 1998), h. 36.
[13] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah
Gowa (Makassar: Yayasan Kebudayaan
Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 9.
[14] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah
Gowa (Makassar: Yayasan Kebudayaan
Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h 11.
[15]H. L. Purnama, Kerajaan Gowa; Masa
demi Masa Penuh Gejolak (Makassar: Arus Timur, 2014), h. 23.
[16]ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah
Gowa (Makassar: Yayasan Kebudayaan
Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 13
[17]ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah
Gowa (Makassar: Yayasan Kebudayaan
Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h 19.
[18]ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah
Gowa (Makassar: Yayasan Kebudayaan
Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h 19.