The Kingdom Of Gowa



KERAJAAN GOWA

SEJARAH INDONESIA PRA-ISLAM
JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UIN ALAUDDIN MAKASSAR

Oleh :




Nama: Ana Nurwina Tanal
Nim: 40200116160
No.Hp: 085311994224
Kelas: Ak. 8/semester 3







KERAJAAN GOWA
A.  Tu-manurung ri Butta Gowa
Kerajaan Gowa merupana suatu kerajaan terbesar di Sulawasi Selatan selain Luwu dan Bone. Awal  terbentuknya kerajaan Gowa itu sendiri, diawali dengan adanya Tu-manurung (Makassar) atau To-manurung (Bugis) yang diangkat menjadi raja Gowa pertama. Asal mula nama Gowa tidak diketahui dengan pasti kenapa kerajaan Gowa dinamai dengan nama “Gowa”, tak ada satupun lontara’ yang menjelaskan tentang hal itu. Meskipun pada beberapa waktu sebelumnya, pakar lokal berdebat soal asal-usul penamaan Gowa, tetapi sebaiknya kita sepakat dengan Prof. Mattulada. Menurutnya, Gowa berasal dari kata ‘goari’ yang artinya “penghimpunan”. Pendapatnya itu paling masuk akal mengingat proses terbentuknya Gowa yang berupa persekutuan.[1]
Hanya dikatakan bahwa jauh dari raja putri yang disebut Tu-manurung memerintah, Gowa purba pernah dikendalikan oleh empat raja sebagaimana disebutkan dalam lontara’:
1.      Batara Guru.
2.      Yang dibunuh di Talali. Nama aslinya tidak diketahui, dan dikatakan sebagai saudara Batara Guru.
3.      Ratu Sapu atau I Marancai, dan
4.      Karaeng Katangka. Nama aslinya tidak diketahui.
Dari mana asal dari keempat raja tersebut dan bagaimana sistem pemerintahannya, juga tidak diketahui.[2] Akan tetapi, menurut Prof. Dr. H. A. Mattulada dalam bukunya “Sejarah, Masyarakat, dan kebudayaan Sulawesi Selatan” dikatakana bahwa, besar dugaan Batara Guru yang disebutkan di atas ada hubungannya dengan nama yang sama (kakek Sowerigading) yang tersebut dalam I La Galigo.[3]
Adapun pada zaman itu dikatakan Gowa purba setelah pemerintahan karaeng Katangka, memiliki daerah permukiman yang terpisah-pisah yang kemudian masing-masing diberi nama tempat permukiman merekabori’ (negeri) yaitu Tombolo’, Lakiung, Saumata, Parang-parang, Data’, Agang Je’ne, Bisei, Kalling, dan Sero’yang masing-masing dipimpin oleh raja-raja kecil dengan gelar-gelar seperti karaeng, anro-guru, atau gallarang. Untuk menjaga perdamaian dari kesembilan bori’ ini, maka mereka bersama-sama memilih ketua yang disebut paccallaya (yang mencela) dari kalangan mereka. Paccallaya berperan sebagai penasehat dalam perdamaian, akan tetapi dia bukanlah pemimmpin tertinggi dari kesembilan bori’ retsebut.
Seiring berjalannya waktu, kerena mereka merasa perlu adanya pemimpin yang lebih dari pada penasehat serta mampu menyatukan persekutuan untuk membangun suatu negeri besar dan mereka tidak suka memilih diantara mereka sebagai pemimpin, timbullah konflik diantara mereka dan pemerintahan menjadi kacau. Selain diantara mereka sendiri, mereka juga mengalami serangan dari orang-orang Garassi, Untia dan Lambengi.[4]Karena kekacauan itu, maka mereka memberi amanah kepada dua orang ketua kaum yaitu gallarang Tombolo dan gallarang Saumata untuk mencari tokoh yang mampu memimpin dari kesembilan bori’ ini dalam satu persekutuan yang disebut  Butta Gowa (negara Gowa).
            Tak lama kemudian, menurut lontara’ patturiolonga ri Tu-Gowaya, akhirnya kedua gallarang itu menemukan tokoh yang diinginkan. Seorang perempuan yang dinamai Tu-manurung yg ditemukan di Taka’bassia (sekarang Tamalate). Maka sepakatlah raja-raja kecil itu bersama paccallaya untuk menjadikan Tu-manurung sebagai pimpinan tertinggi mereka, dengan suatu perjanjian yang disepakati bersama. Akhirnya paccallaya bersama dengan kesembilan bori’ tersebut membangunkan istana untuk rajanya ditempat yang bernama Taka’bassia, diberi nama istana Tamalate (tidak layu), karena istana itu telah selesai sebelum layu dedaunan kayu-kayu yang dijadikan bahan istana raja.[5]
Dalam pertumbuhan kerajaan Gowa, kesembilan pimpinan bori’ itu menjabat sebagai anggota dewan kerajaan yang mula-mula disebut Kasuwiang salapanga (pengabdi yang sembilan) dan kemudian menjadi Bate-Salapanga ri Gowa (Sembilan Panji di Gowa).
Tak lama kemudian, tersirah kabar di negeri-negeri lain bahwa ada Tu-manurung yang menjadi raja di Gowa. Ia dikenal sebagai raja putri yang termansyur, maka datanglah raja-raja dari negeri lain menyembah kepada Tu-manurung.[6] Selain itu, ada juga pendatang yang tidak diketahui asal muasalnya untuk menemui Tu-manurung. Dikatakan dalam lontara’akan kedatangan karaeng Bajo bersama Lakipadada (menurut lontara keduanya bersaudara), untuk menghormati kedatangan Tu-manurung ri Gowa. Karaeng Bayo membawa sebilah kalewang yang dinamakan “Tanru’ allanga”, dan Lakipadada membawa kalewang yang di namakan “Sudanga”. Kedua kalewang itu di persembahkan kepada Tu-manurung. Keduanya kemudian menjadi alat kebesaran (regalia) Butta Gowa.[7]
Karena Kesuwiang salapang merasa perlu adanya generasi dari Tu-manurung dan melihat Tu-manurug belum memiliki pasngan, maka mereka bersama paccallaya mencoba menemui Karaeng Bajo dan memintanya untuk memperistrikan karaeng Tu-manurung. “Ikau mae kialle kipasikalabini Karaemmang” (kami datang ambil engkau untuk mempersuami-istrikan engkau dengan raja kami). Berkatalah karaeng Bajo :“Nupanaung-jakinjorilantanna buttaya ikau pannaja pa’ rasangang nakipammakkangang, alaijamamoseng kamupanaiki’ ripucu’na kalukua, natakikate’naeng”(sedangkan engkau siempunya negeri menurunkan-kami kedalam lubang tanah kami berdiam diri, apa lagi engkau naikkan kami kepuncak pohon kelapa sudah tentu hal itu sangat mengembirakan hati kami).[8]
Setelah percakapan itu, maka tak lama kemudian diadakanlah pernikahan karaeng Tu-manurung barsama karaeng Bajo di istana yang baru dibangun, sesuai dengan adat istiadat yang ada di Gowa. Dari pernikahan mereka, maka lahirlah seorang putera dengan keadaan yang luar biasa.
Dikatakan luar biasa karena, ia dikandung oleh bundanya selama 3 tahun, bahunya tidak rata, yang satu diatas yang satunya lagi dibawah, telinganya yang sebelah berbenjol dan satunya lagi berbentuk lebar, pusarnya besar seperti baku’ karaeng.Ia di beri nama oleh kedua orang tuanyaTu-massalangga Barayang (orang yang berbahu miring), setelah lahir, ia langsung dapat bercakap-cakap, berjalan dan berlari-lari.
Maka bersabdalah bundanya :
“,,, Mengapa anakku seorang-orang kerutut karena bahunya miring, telinganya seperti bukit yang melambai-lambai ; rambut yang putus di Jawa dapat di dengarnya ; kerbau putih mati di Selayar tercium olehnya ; burung yang terbang di Bantaeng dapat dilihatnya ; kakinya seperti timbangan ; pusarnya bagaikan mata air ; tangannya pandai menikam, siapa yang menyembah kepadanya bertahil-tahil emasnya (akan jadi kaya), siapa yang menyembah dia akan dimohonkannya berkat (keselamatan) ; siapa yang menyembah dia akan menjadi rakyatnya”.
Setelah Tu-massalangga Barayang tumbuh agak besar dan sewasa, tibahlah saatnya ibunda Tu-manurung untuk mengambil dukuh hiasan emas yang ceper seperti piring. Dukuh emas itu di belahnya menjadi  dua bagian, yang satu dipakainya dan yang satunya lagi ia simpan untuk puteranya dan dinamai “Tanisamanga”. Setelah itu, masuklah karaeng Tu-manurung ke dalam kamarnya dan di situlah baginda mairat (menghilang) untuk selamanya.[9]
Karaeng Bajo dan Lakipadada juga masing-masing dalam keadaan mairat dengan meninggalkan masing-masing kalewangnya untuk Tu-massalangga Barayang. Tunruballanga, sudanga, dan tanisamanga menjadi inti kelompoang (kebesaran) di Butta Gowa atau kerajaan Gowa mulai zaman purba sampai sekarang.
Tu-massalangga Barayang
Tu-massalangga Barayang menggantikan ibundanya sebagai raja Gowa yang ke II.
Didalam lontara tidak dicatat atau ditemukan tentang bagaimana hal-ihwal pemerintahannya, siapa istri atau permaisuinya. Hanya dapat diriwayatkan, bahwa ketika sang raja dihadapkan oleh rakyatnya maka berkatalah sang raja “duduklah engkau sekalian”.
Setelah itu, berjalanlah raja Gowa ke sebelah utara menuju bukit yang di kampung Jonggowa (mungkin ujung Gowa). Ketika itu, datanglah badai petir, halilintar yang silih berganti, hujan turun dihari yang panas terik ketika itu juga, menghilanglah baginda dari penglihatan masyarakatnya.
I-puang Loe Lembang
Setelah baginda Tu-massalangga Barayang menghilang, beliau digantikan oleh puteranya I-Puang LoE Lembang sebagai raja Gowa ke III.
Tuniata’banri
Kamudian setelah I-Puang LoE Lembang, digantikan oleh puteranya Tuniata’banri sebagai raja Gowa ke IV.
Karampang ri Gowa
Selanjutnya setelah Tuniata’banri, beliau di gantikan oleh puteranya yang bernama Karampang ri Gowa sebagai raja Gowa yang ke V.
Bagaimana hal-ihwal kehidupan pribadi dan penyelenggaraan pemerintahannya, tidak dituliskan ke dalam lontara’. Dimulai dari raja Gowa ke II Tu-massalangga Baraya sampai pada raja Gowa ke V Karampang ri Gowa, semuanya dinyatakan mairat ke kayangan atau kembali ke asalnya yang di percaya sebagai kayangan.
Tu-natangka Lopi
Sebagai pengganti raja-raja Gowa sebelunya setelah raja Gowa ke V Karampang ri Gowa yang di nyatakan mairat di kayangan, maka beliau digantikan oleh puteranya yang disebut Tu-natangka Lopi (orang yang ditutupi perahu) sebagai raja Gowa yang ke VI. Raja Gowa yang ke VI inilah yang keturunan Tu-manurung ri Gowa yang pertama wafat dan dikebumikan sebagai manusia biasa. Perkiraan waktu kehadiran Tu-manurung sebagai raja Gowa pertama sampai pada raja Gowa ke V Karampang ri Gowa, antara tahun 1300-1400 tahun masehi.[10]
Tu-natangka Lopi memiliki dua orang putera, yang disebut Batara Gowa dan yang bungsu disebut Karaeng LoE ri Sero’, siapa nama asli mereka tidak di ketahui.
Pada suatu waktu, timbul perselisihan antar kedua putranya tersebut, karena merasa khawatir bahwa sangketa itu dapat menimbulkan perang saudara dikerajaan Gowa, maka beliau memisahkan gallarang-gallarang di Gowa dalam dua golongan untuk mencegah terjadinya bahaya itu.
 Golongan yang pertama ditetapkan untuk dikuasai oleh Batara Gowa yaitu :
a.       Gallarang Paccellekang
b.       Gallarang Pattaallassang
c.        Gallarang Bontomana’ –Timur
d.       Gallarang Bontomana’ –Barat
e.        Gallarang Tombolo’ dan
f.        Gallarang Mangasa.
Golongan yang ke dua ditetapkan untuk dikuasai oleh Karaeng LoE ri Sero, yaitu :
a.       Gallarang Saumata
b.       Gallarang Pannampu’
c.        Gallarang MoncongtloE dan
d.       Gallarang Parang LoE
Entah berapa lama Tu-natangka Lopi mengendalikan pemerintahan di Gowa, maka baginda mangkat atau meninggal.[11] Tu-natangka Lopi yang berarti orang yang ditutupi perahu. Itulah nama anumerta baginda, karena wafat akibat perahu ditumpanginya terbalik dan baginda terperangkap didalamnya.[12] Sampai tiba saatnya yang mewarisi kerajaan Gowa ialah Batara Gowa.
Batara Gowa
Batara Gowa menjadi raja Gowa yang ke VII.
Perselisiaha antara kedua saudara ini yaitu Batara Gowa da Karaeng LoE ri Sero masih saja terjadi, hingga akhirnya Karaeng LoE ri Sero pergi meninggalkan Gowa menuju ke Jawa. Sehingga Batara Gowa mendaulat kekuasaan dari Karaeng LoE ri Sero atas gallarang –gallarangnya.
Setelah Karaeng LoE ri Sero datang dari Jawa, beliau tinggal didekat sungai dan memberikan nama tempat itu “ passi’nang” (jangan bersedih). Lama kelamaan nama tempat itu lazim di sebut “Patcinang”, dinamai demikian karena beliau merasa bersedih hati atas perilaku kakaknya Batara Gowa terhadap dirinya.
Maka kedua sahabat Karaeng LoE ri Sero mencoba menyenangkan hati beliau dengan meminta beliau untuk tinggal di kampung Batuwa didaerah pemerintahan Karaeng LoE ri Bira. Maka beberapa waktu kemudian, kedua sahabatnya Karaeng LoE ri Bira bersama karaeng LoE ri Bentang bersia sekata untuk mengakui dan memperlakukan Karaeng LoE ri Sero sebagai raja yang melebihi kedudukan mereka.
Hingga pada akhirnya, kedua sahabatnya itu, meminta masyarakatnya untuk menebang hutan yang di namai “Talloang”, dekat sungai Bira. Disitulah didirikan istana untuk Karaeng LoE ri Sero. Tempat itu kemudian dinamai Tallo’, pada saat itulah mulai berdiri kerajaan Tallo’ dan Karaeng LoE ri sero sebagai rajanya yang pertama. Hal ini bukan berarti kerajaan Tallo’ berdiri sendiri dan lepas dari wilayah kerajaan Gowa, tetapi Tallo’ tetap berada di bawah kekuasaan kerajaan Gowa.
Kedua kerajaan ini tidak dapat dipisahkan, karena begitu etar hubungan antar keduanya. Sehingga kemudian penulis bangsa asing Belanda mengenai sajarah Gowa-Tallo menamakan “Zusterstaten” yang berarti, “dua raja tetapi hanya satu rakyat”. Dikalangan raknyat Gowa pun terdengar pribahasa :Rua karaeng nase’re ata. (dua raja tetapi hanya satu rakyat.[13]
Kedua kerajaan ini juga bekerja sama, yang dimana kedudukan raja Gowa selaku pemikir utama, sedangkan raja Tallo selaku pelaksana. Sepanjang tradisi, siapa yang menjadi raja Tallo’ itu juga yang memangku jabatan sebagai mangkubumi (pabbicara-Butta) di Gowa.
Raja Gowa ke VII menikah dengan seorang putri dari Somba Garassi, siapa nama puteri itu tidak di ketahui. Dari pernikahan Batara Gowa dengan puteri dari Somba Garassi, melahirkan tiga orang anak yang masing-masing diberi nama :
1.      Seorang putera yang bernama I-Pakeretau
2.      Seorang putera yang di gelar karaeng Garassi
3.      Seorang puteri yang di gelar karanga ri Bone.
Setelah permaisurinya wafat, Batara Gowa kembali menikah dengan perempuan yang bernama I-Rerasi yang barasal dari Tallo’, dan melahirkan seorang putera yang bernama “Daeng Matanre” (tidak diketahui nama kecilnya).
I-pakeretau
Kemudian setelah Batara Gowa mangkat, maka puteranya yang bernama  I-Pakeretau menggantikan ayahandanya menjadi raja Gowa yang ke VIII.
Bagaimana system pemerintagannya tidak diketahui. Hanya diriwayatkan, bahwa baginda mangkat karena diamuk dengan sebilah galah oleh seorang budaknya. Oleh sebab itu maka baginda kemudian disebut Tunijallo’ ri Pasukki (raja yang di amuk di negeri Pasukki).
Daeng Matanre
Yang menggantikan Tunijallo’ ri Pasukki ialah saudaranya yang bernama Daeng Matanre selaku raja Gowa yang ke IX.
Baginda memiliki sifat-sifat istimewa, seperti : cerdas, berani, dan berbudi pekerti yang baik. Dalam sistem pemerintahannya, beliau berusaha sekuat tenaga untuk memajukan sejarah moderen kerajaannya dalam berbagai macam bidang. Beliau memperluas daerah kekuasaan di Sulawesi Selatan. Baginda membuat undang-undang serta peraturan-peraturan perang, mengangkat pejabat-pejabat dalam daerahnya, mengadakan pengumutan-pengumutan bea dan sebagainya untuk perbelanjaan kerajaan. Baginda mengangkat syahbandar. Yang mula-mula diangkat dalam jabatan itu, ialah seorang yang bernama Daeng Pammate dan ini juga menjabat selakuTumailalang di Gowa yang mengurus kepentingan-kepentingan dalam kerajaan. Dikatakan bahwa Daeng Pammatelah yang membuat lontara Makassar atas perintah raja Gowa yang di sebut dengan “Lontara Turiolo’’. Pada masa itulah orang Gowa mulai mencatat dalam buku tentang kejadian-kejadian yang penting dalam kerajaan Gowa, diantara lain “Buku harian dari raja-raja di Gowa dan Tallo’ ”.[14]
Masa pemerintahan raja Gowa yang ke IX inilah yang mulai membuat Butta Gowa memiliki catatan tentang peristiwa yang terjadi secara menyeluruh dalam pemerintahanyan.
Pada masa pemerintahan raja ke-IX ini, behasil memperluas daerah kekuasaannya dengan menaklukkan negeri-negeri lain seperti Garassi, Kalling, Parigi, Siang (Pangkaje’ne), Sidenreng, Lempangang, Mandalle, dan kerajaan kecil lainya. Gowa menjadi imperium maritim yang kuat. Faktanya, mereka membuat bentuk pertahanan yang berada di kawasan dekat dengan perairan di Gowa. Tidak tanggung-tanggung sebanyak 5 benteng pertahanan –walaupun belum mengenal racikan semen, jadi pakai tanah liat- dibangun dimasa pemerintahannya. Proyek pertama adalah pembangaunan Somba Opu, sebagai kubu utama perlindungan istana. Kemudian disusul dengan pembangunan Kale Gowa, Tallo Sanrobone, dan yang paling nyentrik adalah Ujung Pandang. Benteng yang terakhir ini seluas 3 hektar dan dibangun dipesisir bibir pantai Makassar, bentuk seperti penyu raksasa yang menghadap kelaut yang tentu jika melihatnya dari atas.[15]
Pada pertengahan abad ke-16 (kira-kira 1543 atau 1546) baginda mangkat setelah mengendalikan kerajaan Gowa kira-kira 36 tahun lamanya. Baginda mangkat karena menderita penyakit leher. Oleh sebab itu maka baginda kemudian di gelar karaeng Tumapa’siri’ kallonna” (raja yang sakit lehernya).
I Manriogau’ Daeng Karaeng Lakiung
            Setelah raja Gowa karaeng Tumapa’siri’ kallonna mangkat, beliau digantikan oleh I Manriogau’ Daeng Karaeng Lakiung sebagai raja Gowa yang ke X.
Beliau bersama dengan mangkubumi yaitu raja Tallo’ yang bernama Mappatakatana Daeng Padulung melanjutkan usaha-usaha yang telah dicapai oleh raja sebelumnya. Dalam waktu singkat, belau mampu memperluas kekuasaan wilayah bahkan sampai pada daerah diluar Sulawesi Selatan. Seperti : Bajeng, Lengkese, Lamuru, Cenrana, Salo’mekko, Bulo-bulo, Lamatti. Bulukumba, Kajang, Gantarang, Panjikokang, Wero (Hero), Bira, Selayar, Otteng, Wajo, Sawitto, Soppeng, Alitta, beberapa negeri dalam daerah Mandar, Kaili, dan Toli-toli di Sulawesi Tenggara. Beliau juga menaklukkan Luwu dan membuat perjanjian persahabatan dengan raja Luwu.
            Selain beberapa daerah yang sudah di kuasai dengan waktu yang sangat singkan, membuat nama ‘Gowa’ menjadi menakutkan dikalangan negeri-negeri lain. Bahkan dalam armada lautnya, mereka disegani di lautan Nusantara, termasuk perampok-perampok yang berada di laut lebih baik menjauhkan diri sebelum kapalnya menjadi sandaran karang.
Pada masa pemerintahan I Manriogau’ Daeng Karaeng Lakiung jugalah Gowa memulai peperangan terhadap Bone. Ketika beliau berada di Bone dalam memimpin pasukannya untuk menyerang pasukan Bone, beliau terpaksa harus kembali ke Gowa kerena penyakit yang sudah lama ia derita bertambah parah. Sekitar 48 hari lamanya beliau tiba di Gowa, maka beliau mangkat karena penyakitnya itu. Baginda  kemudian disebut karaeng Tunipalangga-Ulaweng, bagindalah raja Gowa yang pertama menyuruh angkat (bawa pergi) orang-orang bersama harta bendanya ke Gowa, bilamana baginda menaklukkan sebuah negeri. Baginda mewajibkan raja yang ditaklukkan olehnya mengakui ikrar yang berbunyi “Makkanama’ numammijo” (aku bertitah dan engkau tunduk patuh).[16]
I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Date’
Setelah karaeng Tunipalangga-Ulaweng mangkat, beliau digantikan oleh saudaranya yang bernama I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Date’ sebagai raja Gowa yang ke XI.
Kira-kira 20 hari setelah diangkat menjadi raja Gowa, beliu langsung meneruskan peperangan terhadap Bone. Sayangnya beliau gugur dalam peperangan akibat musuhnya, sehingga beliau di sebut karaeng Tunibatta (raja yang terpancung). Peristiwa itu terjadi kira-kira dalam tahun 1565, dan hanya memerintah sebagai raja selama 40 hari. Karena ditinggal oleh pasukannya yang mundur, maka atas izin dari raja Bone La Tenrirawe Bongkange MatinroE ri Gucinna dan pula atas usaha dari Kadjao Laliddo yang pada waktu itu menjadi penasihat utama dari kerajaan Bone, maka Arung Teko bersama Arung Biru, Arung Lamoncong dan Arung Sanrego (keenpatnya adalah pembesar-pembesar dalam kerajaan Bone)  membawa jenazah raja Gowa itu ke Gowa.
Beberapa hari kemudian setelah karaeng Tunibatta gugur dalam peperangan, maka di lakukanlah suatu perundingan yang dilakukan oleh raja Bone La Tenrirawe Bongkange bersama Kadjao Laliddo dipihak lain mangkubumi I Mappataka’tana Daeng Padulung (kemudian lazim di sebut Tumenanga ri Makkoajang) sebagai pihak dari kerajaan Gowa. Perundingan itu di lakukan di kampung Caleppa di dalam daerah Bone.
Dalam perundingan itu, menghasilkan suatu kesepakatan bersama, yaitu suatu perjanjian damai antara kedua-belah pihak. Yang kemudian perjanjian itu lazim di sebut oleh rakyat Gowa “Ulukanaya ri Caleppa”(perjanjian di Caleppa).
Manggorai Daeng Mammate Karaeng Bontolangkasa
            Yang menjadi raja Gowa yang ke XII adalah Manggorai Daeng Mammate Karaeng Bontolangkasa, beliau adalah anak dari raja sebelumnya.
Pada masa pemerintahannya, baginda bekerja keras untuk memajukan kerajaannya sebagaimana yang dilakukan oleh para pemimpin sebelumnya. Dalam keadaan damai antara kerajaan Gowa dengan kerajaan Bone, baginda menjalin persahabatan dengan raja-raja diluar Sulawesi seperti : raja Mataram, raja Banjarmasin, taja-raja di kepulauan Maluku, kepulauan Timor, raja Djohor dan lain-lain.
Dalam tahun 1580, Sultan kerajaan Ternate yang bernama Baal-Ullah datang ke Somba Opu, ibu kota kerajaan Gowa, berkunjung kepada raja Gowa. Dalam kunjungan tersebut, mereka mewujudkan suatu perjanjian persekutuan dan Sultan Ternate menyerahkan kembali pulau Selayar kepada raja Gowa yang pernah menguasai daerah tersebut.
Kira-kira 10 tahun lamanya baginda mengendalikan kerajaan Gowa, entah apa sebabnya baginda mulai tidak menepati janji persaudaraan yang dibuatnya dahulu terhadap kerajaan Bone. Sehingga timbullah kembali peperangan antara kedua kerajaan ini yang berlangsung sangat lama. Pada masa pemerintahan baginda raja Gowa yang ke XII jugalah yang menanggung permusuhan terhadap persekutuan Bone, Soppeng, Wajo. Baginda memimpin peperangan tetapi selalu gagal. Hingga pada akhirnya, ketika baginda berada di kapal menuju Pare-pare untuk masuk kewilayah Wajo melalui Adjatappareng, baginda tiba-tiba diamuk oleh salah seorang pengikutnya yang diketahui sebagai saudara sesusuan bagina karena merasa jengkel dan muak atas perilaku baginda yang frustasi dan suka marah-marah diatas kapalnya akan kekalah yang ia alami.
Sehingga baginda disebut dengan nama karaeng Tunijallo” (raja yang di amuk), dengan waktu pemerintahannya selama 25 tahun (1565 – 1590).
I Tepu-Karaeng Daeng Parabbung
            Setelah kematian karaeng Tunijallo, beliau digantikan oleh puteranya yang bernama I Tepu-Karaeng Daeng Parabbung, selaku raja Gowa yang ke XIII.
Diusianya yang ke 15 tahun, ia harus menggantikan ayahnya yang kematiannya terlalu cepat. Dalam pemerintahannya, beliau sangat nakal dan susah diatur. Bahkan Pabbicarabutta kewalahan menanganinya dan sering dibuat bingung atas perilaku rajanya yang keras kepala itu, bahkan ia membunuh siapa saya yang menurutnya menarik untuk dibunuh. Karena perilaku yang sewenang-wenang itu, membuat beberapa kalangan bangsawan serta beberapa rakyat Gowa meninggalkan Gowa, sehingga Gowa mengalami krisis sosial mengerikan. Hingga pada akhirnya Hadat Gowa sepakat untuk menurun-paksakan rajanya yang sewenang-wenang itu. Satu-satunya jalan keluar, beliau harus di buang! Sekitar 2-3 tahun lamanya belau memerintah dan di turunkan dari jabatannya.
Kemudian beliau meninggalkan Gowa dan pergi berdiam diri di Luwu. Disanalah baginda mulai masuk Islam. Baginda lazim disebut karaeng Tunipasulu” (raja yang dikeluarkan). Entah berapa lama kemudian, beliau pergi tinggal di Buton, dimana beliau wafat pada tanggal 5 juli 1617.[17]

I Manga’rangi Daeng Manra’bia
Yang menggantilan beliau adalah saudaranya yang di sebut I Manga’rangi Daeng Manra’bia selaku raja Gowa yang ke XIV.
Pada usianya baru beranjak 7 tahun, belau sudah di angkat menjadi raja. Karena masi kecil, untuk sementara pemerintahan Gowa dijalankan oleh mangkubumi selaku raja Tallo’ I-Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka, yang kemudian sering di sebut karaeng Matowaya. Ibunda raja Gowa yang ke XIV ini iyalah I-Somba Daeng Niasseng, saudara kandung dari mangkubumi I-Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka.
Dalam pemerintahan raja yang ke XIV inilah, Portugis mulai mengambil bagian dalam percaturan bisnis dibadar dagang Makassar. Selain itu, pada masa inilah Islam mulai menjadi agama tetap bagi Butta Gowa. Diawali dengan mangkubumi yang memeluk agama Islam pada tahun 1605 yang kemudian disusul oleh keponakannya yaitu I Manga’rangi Daeng Manra’bia selaku raja Gowa yang ke XIV yaitu pada malam jumat 9 djumadilawwal 1014 setuju dengan tanggal 22 september 1605.
Sebagai raja yang mula-mula memeluk agama Islam di Sulawesi Selatan, maka baginda raja Tallo’ selaku mangkubumi di Gowa digelar Sultan Abdullah Awalul Islam. Dan diikuti keponakannya dengan gelar Arab Sultan Alauddin.[18]
Dari sini, maka berakhirlah sistem pemerintahan Butta Gowa sebelum masuknya Islam (pra-Islam) setelah raja Gowa I Manga’rangi Daeng Manra’bia selaku raja Gowa yang ke XIV memeluk Islam dan digelari dengan nama Arab Sultan Alauddin.


DAFTAR PUSTAKA
Mattulada. Sejarah Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Ujungpandang: Hasanuddin University Press, 1998.
Purnama L.Kerajaan Gowa; Masa Demi Masa Penuh Gejolak. Makassar: Arus Timur,2014.
Patunru, Abd Razak Daeng. Sejarah Gowa. Ujungpandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, 1967.
Wahyuddin.Sejarah dan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Makassar: Alauddin Universityn Press, 2014.


[1] H. L. Purnama, Kerajaan Gowa; Masa demi Masa Penuh Gejolak (Makassar: Arus Timur, 2014), h. 15.
[2]ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa (Makassar: Yayasan  Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 1.
[3] Prof. Dr. H. A. Mattulada, Sejarah Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (Ujung Pandang: Hasanuddin University Press, 1998), h. 30.
[4] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa (Makassar: Yayasan  Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 2.
[5] Drs. Wahyuddin G, M.Ag, Sejarah dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (Makassar: Alauddin Universityn Press, 2014), h.58.
[6] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa (Makassar: Yayasan  Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 3.
[7] Prof. Dr. H. A. Mattulada, Sejarah Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (Ujung Pandang: Hasanuddin University Press, 1998), h. 35.
[8] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa (Makassar: Yayasan  Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 3-4.
[9] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa (Makassar: Yayasan  Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 6-7.
[10] Prof. Dr. H. A. Mattulada, Sejarah Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan(Ujung Pandang: Hasanuddin University Press, 1998), h. 36-37.
[11] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa (Makassar: Yayasan  Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 8.
[12] Prof. Dr. H. A. Mattulada, Sejarah Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan(Ujung Pandang: Hasanuddin University Press, 1998), h. 36.
[13] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa (Makassar: Yayasan  Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 9.
[14] ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa (Makassar: Yayasan  Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h 11.
[15]H. L. Purnama, Kerajaan Gowa; Masa demi Masa Penuh Gejolak (Makassar: Arus Timur, 2014), h. 23.
[16]ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa (Makassar: Yayasan  Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h. 13
[17]ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa (Makassar: Yayasan  Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h 19.
[18]ABD. Razak Daeng Patunru, Sejarah Gowa (Makassar: Yayasan  Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1967), h 19.