Gengsi Yang Bukan Pada Porsinya

De Matte'
Suara Proletar

Awan gelap, tanah yang becek tampak menghiasi hari dengan senandung alam yang masih otentik dengan keasriannya. Ceritera tentang seorang anak tani yang masuk dalam atmosfer ruang kritis yang krisis akan ruang, bukan sesuatu yang lumrah pada umumnya. Segelintir kelas dari berbagai kalangan, etnis, bercampur membaur jadi satu dalam ruang intelektual. Soalnya,  pendidikan selalu digadang-gadang menjadi media ataupun wadah untuk melawan ke-jumud-an dalam mengeksplorasi dunia, yang semakin kejam dengan perkembangannya. Mulai dari hal yang konservatif kini berubah perlahan menuju tuntutan dalam era yang serba digital. Menjadi suatu keberuntungan ketika seorang dari kelas bawah dapat mencicipi rasanya pendidikan tinggi, namun disamping itu tidak menapikan apa yang menjadi hak dan kewajiban anak pada orang tuanya. Sejak awal melangkahkan kaki, semestinya sudah tertanam komitmen dalam diri terhadap apa yang menjadi tujuan utama dalam menempuh jenjang pendidikan tinggi. Analisis terhadap realita, beberapa gelintir anak yang diberikan amanah oleh orang tuanya tidak semerta- merta berjalan sesuai ekspektasi. Disuatu hari yang cuacanya sedikit mendung, saya hampir terjebak dalam ranah itu. Tetapi konsistensi terhadap hak dan kewajiban, sejak langkah awal telah menjadi hal yang sakral untuk tidak dinapikan. Eksistensi hubungan relasional dalam pergaulan pendidikan, semestinya tidak memudarkan sebagai identitas bahwa kita memang dari kaum bawah. Gengsi yang bukan pada porsinya, terkadang banyak terlihat setelah masuk dalam ranah itu.

Pic by: Nabilh Nur