Bentuk "Jahiliyah Modern" di era Post Truth
April 27, 2022
Fian Anawagis
Ketua Umum HMJ SKI
Beberapa hari lalu kembali terjadi fenomena yang cukup anomali dilakukan oleh segelintir oknum ormas dengan menggencarkan aksi razia buku hingga membuat gempar jagat literasi. Pasalnya buku-buku kini sudah ada 'tebang pilih' untuk dikonsumsi khalayak umum. Pengklasifikasian kelayakan buku untuk di baca kini sudah ada ketentuannya, entah apa indikator dalam memilih buku, padahal menurut saya semua buku itu umumnya memproyeksikan ilmu pengetahuan untuk lebih mempertajam kepekaan sosial (hubungan horizontal) yang semakin menggambarkan implikasi dari relasi spiritual religius (hubungan vertikal) juga sebagai pisau analisis, serta bentuk ijtihad non verbal pasca alquran. Dengan dalih membawa label 'islam' sebagai penguatan landasan berbuat demikian, membuat citra agama menjadi sangat kaku.
Mengutip perkataan Ray Bradburry "tidak perlu membakar buku untuk menghancurkan peradaban sebuah bangsa. cukup melarang mereka untuk membaca". Membakar ataupun melarang publikasi buku yang dianggap kontra, sama-sama bertendensi membatasi ruang ekspresi untuk lebih mengenal luas jendela dunia. Memang benar, sekarang kita berada pada era 'post truth' dimana konstruksi kebenaran bebas di lakukan oleh siapa saja. Tetapi membawa agama sebagai tameng untuk melakukan hal demikian itu tidak bisa di benarkan karna agama bukanlah suatu instutusi dan itu sama saja dengan menghalangi kebebasan berfikir atau "intelectual freedom" kata Cak Nur.
Betul saja, jika kita kembali merunut nilai historis islam, ini merupakan salah satu bentuk kemunduran berfikir dikalangan muslim. Bentuk eskapisme membuat agama hanya sekedar dogmatis, beku dan tidak sebagai 'organisme' atau berkembang sesuai penyesuaian perubahan zaman. Apa salahnya kita mengonsumsi buku-buku seperti leninisme atau marxisme? Selama manusia mampu menganalisis kritis bacaan untuk berijtihad menuju kemajuan berfikir dengan kacamata historis, malah semakin jadi memperkokoh diri dari kejumudan (stagnan) dan ketidak jelasan orientasi karna tindak provokasi. Mengutip dalam (Islam Liberal dan Fundamental) "bisa jadi kebenaran islam itu ada pada filsafat marxisme".
Semoga sifat intoleran bacaan tidak semakin menjamur, meluas menggerogoti paradigma generasi bangsa. Bukankah ayat pertama dalam wahyu islam pun menganjurkan untuk membaca? Begitupun dengan para founding father bangsa ini yang kaya akan berbagai jenis bacaan untuk meretas beberapa permasalahan bangsa.
Saya sempat mengira jangan-jangan ini salah satu bentuk kapitalisme berlabel syariah di kancah kepustakaan. Tapi semoga perkiraanku ini hanya sebatas fatamorgana.
