Frasa 'Korban' dan Relevansinya dengan Perjuangan Mahasiswa
Februari 29, 2024
Sebentar lagi umat Islam akan bergemuruh dari berbagai belahan dunia, yang merupakan suatu euforia dalam memperingati hari raya idul qurban (idul adha).
Hari dimana manusia akan merefleksi kembali peristiwa anti mainstream dan diluar logika namun telah menjadi realita yang wajib diimani sebagai umat Islam. Yakni pada masa nabi Ibrahim as(Abraham), yang hendak ingin menyembelih anaknya nabi Ismail as atas petunjuk dari tuhan, sebelum akhirnya objek tergantikan menjadi seekor hewan.
Qurban dalam perspektif islam merupakan suatu jalan menuju kedekatan terhadap tuhan. Selain itu hubungan emosional antara si kaya dan si miskin akan semakin terajut dalam bingkai hari raya yang saling mengisi. Namun saya tidak akan memantik idul qurban secara khusus, tetapi cenderung lebih kepada bentuk 'korban' mahasiswa yang merupakan konsekuensi logis dari sebuah perjuangan.
Ditandai dengan indikator sejak dari tahun 1908 para mahasiswa pribumi yang berjumlah minoritas asli sudah berjuang untuk menyalurkan buah fikir dalam berkontribusi menuju suatu negara yang bebas dari belenggu tirani saat itu. Ada banyak rentetan kejadian perjuangan dari sektor mahasiswa yang mengisi setiap tahunnya, baik itu di masa pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan. Hingga saat ini, di era yang serba kekinian dimana 'disrupsi' telah memasuki indonesia atas integrasi global yang tak bisa dinapikan karna arus revolusi industri 4.0.
Institusi pendidikan ikut terkena dampaknya dan mengakibatkan efek yang dalam bagi kelangsungan proses belajar mahasiswa. Tentu saja, ini akan menyusupi pola fikir masa kini yang cenderung di arahkan pada kebutuhan dan tuntutan yang tendensinya instan atas implikasi dari zaman yang serba digital atau identik katanya generasi 'milenial'.
Bagaimana menjawab tantangan zaman dengan cerminan yang diproyeksikan mahasiswa versi dulu, kemudian merekonstruksinya pada masa kini? Dengan regulasi-regulasi pemerintah yang semakin menerka, maka mahasiswa masa kini harusnya lebih giat berjuang dengan kombinasi kepekaan terhadap realita sosial disamping menjalani rutinitas akademik. Semoga kita sama-sama tercerahkan
Pe'ngorban'an mahasiswa = konsekuensi logis perjuangan.
Penulis: (Fian Anawagis, Fungsionaris Lapmi Kom. Adab)
