Refleksi Hari Buruh, Jadi Bangsa yang Tangguh
November 04, 2022
Dewasa ini, merebaknya pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 19) atau lebih lazim disebut virus korona, menjadi perbincangan serius pada seluruh elemen masyarakat dunia. Tentunya stabilitas dunia mulai dari yang meliputi aktivitas ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya Ikut merasakan keguncangan akibat dampak dari wabah tersebut.
Segala bentuk upaya telah dilakukan oleh para pemangku kebijakan untuk mencegah meluasnya virus mulai dari aktivitas yang dilockdown, penyemprotan disinfektan, hingga pembatasan aktivitas akomodasi dan transportasi. Juga tempo hari yang masih hangat jadi bahan pembicaraan para milenial di jagat sosial media, mengenai pelarangan mudik tapi bisa pulang kampung.
Akan tetapi bukan persoalan perbedaan nama yang perlu disoroti lebih dalam. namun yang menjadi substansi dan paling krusial disini adalah penyebaran virus itu sendiri. Virus tidak akan berpindah jika bukan manusia yang membawanya. Mudik ataupun pulang kampung akan tetap berpotensi besar memicu penyebaran virus yang tak terlihat. Apalagi sudah banyak yang terpapar virus tanpa gejala dini yang disebut dengan OTG (Orang Tanpa Gejala).
Bakal menjadi cerita unik yang menghiasi perkembangan negara kita tercinta seperti respom awal pihak pemerintah, ada yang cepat tanggap dalam penanganan, ada yang lambat bahkan masih ada juga yang sempat membuka kran lalu lalang dari luar negeri.
Oleh karena hal seperti ini tidak bisa diremehkan begitu saja, mengingat dampak panjang yang akan terjadi maka pemerintah telah menginisiasi untuk menggelontorkan biaya yang cukup fantastis hingga memotong beberapa dana dari institusi besar berbagai bidang masing-masing (dengan adanya bantuan kompensasi kartu Pra-Kerja), Intensifitas penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH), sampai terkecil pada skala desa (Bantuan Langsung Tunai sebanyak 30 %) untuk penanganan dan pencegahan meluasnya penyebaran virus.
Namun upaya tersebut, masih belum menyentuh seutuhnya pada strata sosial kalangan menengah kebawah, yang bisa dibilang cukup terganggu dengan adanya pembatasan sosial skala besar (PSBB). Sebut saja kaum tani, kaum buruh, rakyat miskin kota yang menjerit merasakan pembatasan aktivitas yang kerap dibahasakan oleh para milenial dengan tetap "di rumah aja".
Menjadi ketimpangan tersendiri bagi kaum tersebut, yang beberapa diantaranya memiliki penghasilan yang tidak tetap dan tak dapat memenuhi kecukupan hidup, jika tetap berdiam diri di rumah mengikuti instruksi para pejabat. Para golongan elit mungkin bisa saja tinggal hingga beberapa hari kedepan dalam waktu yang cukup lama, oleh masing-masing cadangan simpanan untuk bertahan hidup.
Beberapa hari yang lalu kita tengah mendapati dari Warga Negara Indonesia memakan ubi kayu sebagai pengganjal perut, karena beras susah untuk diperoleh. Sampai pada kasus mati kelaparan didalam rumah sendiri. Mesti ini menjadi perhatian khusus oleh pihak pemerintah agar bisa lebih mencari tau dan lebih selektif, rakyat yang seharusnya layak untuk mendapatkan, dan mana yang darurat. Agar tidak adanya pihak yang merasa terzalimi. Juga masyarakat diharapkan dapat mengawal pemberian bantuan yang rentan kecolongan akan hak-hak mereka yang lebih membutuhkan.
Hari ini refleksi 1 Mei sebagai peringatan hari buruh sedunia, kita tak lagi melihat aksi demonstrasi yang kerap dilakukan oleh semangat juang pekerja buruh dan kelas menengah kebawah, guna menyampaikan aspirasinya.
Kurun waktu terakhir, telah terjadi ratusan bahkan ribuan orang terkena kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) semenjak pandemi Covid-19 merajalela. Disisi lain ada juga pihak yang sibuk menerima Tenaga Kerja Asing (TKA) karena menganggap kemampuan mereka sangat dibutuhkan. Walhasil jumlah pengangguran meningkat signifikan seiring waktu.
Selain mempengaruhi sendi kehidupan sosial, juga menjadikan sektor ekonomi tertekan dan mengancam terjadinya krisis yang makin mencekam. Mengangkat satu topik yang menjadi prinsipil karakteristik orang Makassar "bajikangngangi mate acceraka namate kacipuranga", yang berarti lebih baik mati berdarah dari pada mati karena kelaparan.
Beberapa sektor menjadi lumpuh karna pembatasan terjadi dimana-mana membuat jurang kemiskinan semakin nyata berada di depan mata. Tentunya kita tidak menginginkan hal tersebut menjadi kesenjangan sosial, yang akan berakibat eksploitasi dan penjarahan kaum tertindas. Selamat Hari Buruh, semoga bencana ini cepat berlalu dan kita dipertemukan pada kondisi keadilan dan kesejahteraan masyarakat yang menyeluruh hingga menjadi bangsa yang tangguh.
MAYDAY
Hidup mahasiswa
Hidup rakyat
Hidup buruh.
De Matte'
Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UINAM
Komdis di Senat Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Demisioner Ketua Umum HMJ SPI UINAM 2019
