Ketika Buruh Nikel Terpaksa Menjadi Bermental Dua Kali Baja.
Januari 10, 2024
Hari ini tak lagi sama dengan kemarin, begitupun hari esok, tak sama hari ini, secara eksistensi maupun esensi meskipun iya dunia bergerak secara konstan.
Dunia sedang mengalami masa krisis karena pandemi yang belum pasti keberakhirannya. Olehnya itu tak heran jika lapangan pekerjaan semakin menyempit seiring berjalannya waktu.
Indonesia adalah salah satu negara yang sumber daya alamnya melimpah menurut banyak orang. Selain sumber daya alamnya, jumlah populasi manusianya pun tak kalah membludak.
Ironinya, banyak orang-orang khususnya alumni perguruan tinggi dari sekian persen jumlah populasi penghuni yang ada di Indonesia masih terluntang lanting akan orientasi setelah lulus.
Alih-alih pasca menyelesaikan studi langsung disambut pekerjaan, realitanya semua tak seberuntung itu. Apalagi tuntutan pandemi yang banyak mensugesti diri yang tidak-tidak. Dan akhirnya pengaruh rebahan pun menjadi momok kemandekan para manusia-manusia tersebut.
Tapi jangan salah, beberapa orang dari luar negeri justru memiliki hak tertentu untuk mengakses lapangan kerja yang ada di Indonesia.
Karena tak ingin tergolong kaum rebahan, penulisbdan beberapa kawannya mencoba mengeksplorasi sebuah perusahaan yang mempekerjakan para buruh di sektor pertambangan nikel.
Saham orang luar tak main-main, meskipun masih bisa dihitung jari tahun berdirinya. Sebuah berita telah merilis bahwa perusahaan tersebut berpotensi menjadi penghasil nikel terbesar di dunia. Bekerja dibawah naungan negeri tirai bambu pastilah memiliki konsekuensi berbeda, dibanding para pimpinan Eropa.
Penulis sekawan memiliki visi yang sama "tidak ingin dianggap tedong dalam kandang". Kami sempat mengira bekerja di negeri sendiri akan mendapat perlakuan yang mumpuni secara kapasitas. ekspektasi kami sempat membubung tinggi saat mendengar cerita hiperbola orang-orang pemburu cuan, hingga perlahan patah saat melihat situasi kondisi yang ada di lapangan. Namun, perjalanan yang panjang untuk sampai menuju lokasi, tidaklah mudah dan tidaklah senaas mereka yang memakai Calo dan ujung-ujungnya pun tetap ada juga tak lulus.
Sekitar sebulan hingga dua bulan menunggu, variasi waktu yang berbeda antar teman. Rata-rata mereka ditempatkan pada bagian lapangan. Tidak pandang bulu alumni mana, mau SMK, sarjana, D3, S2 sama saja untuk tahap awal. Begitulah kira-kira gambaran singkatnya.
Setiap hari kita tak pernah lepas memandang mata ribuan kepala bergerombol, berbaris macet seperti kawanan lebah mencari serbuk. Helm kuning menjadi identik khasnya. Kalau pekerjaan selesai, pulang dan tidur sudah tak bisa dibendung lagi, begitulah seterusnya, kita telah berada dalam arus dan tuntutan dunia agar tetap hidup waras dalam suasana metropolitan.
Apalah daya demi upaya penulis membantu ayah ikut menggarap ladang, dan mengurangi jumlah tumpukan cucian pakaian kotor ibu. Mengurai malam menuju linimasa pagi, dengan berkawan sehat ala sebotol air putih mineral, pagi buta tak lagi bercerita tentang teori Marxisme, Sesekali pengamatan lapangan, mungkin jadi penyedap rasa bagi imaji fikiran. Ah.. rupanya Marx tak pernah jadi buruh. Hanya "pengamat" kelas sosial, alat produksi dan penggeraknya, kira-kira begitu. Berterimakasihlah dia kepada Hegel atas support materi di udara pagi berseling asap sewaktu itu yang tidak kita rasakan sama hari ini posisinya.
De Matte'
Mahasiswa Psikologi UICI