Potret Desa Tambang, Metropolitan dan Sarkasme Terhadap Pemilik Kuasa
(Lembar surat peringatan lisan, karena telah meminta-minta untuk turun hujan pada saat waktu kerja)
Di balik gemerlap industri nikel di Morowali, tersimpan kisah pilu tentang komunitas yang terjebak dalam dilema ekonomi dan ekologi. Sejarah Morowali diwarnai pertukaran/jual beli lahan yang setara dengan 1 meter lahan = 1 Kg beras, yang secara tidak langsung memberi diksi dilematis masyarakat untuk pindah ke kota (menurut pendapat beberapa informan) setelah mendapat hasil dari penjualan tanah yang diborong (karena tidak adanya pengetahuan tentang melimpahnya sumber daya di tanah tersebut) setelah menyerahkannya kepada pemilik modal atau korporasi demi terbukanya peluang pemanfaatan sumber daya dan konsesi lahan pertambangan nikel. Keputusan masyarakat tersebut, meskipun didorong oleh kebutuhan dan iming-iming ekonomi lebih tepatnya, pada sisi lain juga membawa konsekuensi ekologis yang dapat menghancurkan dan mengantarkan mindset mereka pada lingkaran kemiskinan dan penyesalan yang lebih dalam meskipun tidak semua masyarakat melepas tanahnya dengan harga setara beras.
Hubungan antara manusia, lingkungan, dan struktur kekuasaan. Menurut Eric Wolf, seorang antropolog Amerika, menekankan hubungan antara proses ekonomi dan politik dalam membentuk struktur sosial dan lingkungan. Wolf memahami bagaimana sistem ekonomi global (dalam hal ini Tsingshan Group) dan kebijakan pemerintah (Izin Usaha Pertambangan dan Pengurangan Pajak) mendorong eksploitasi sumber daya alam dalam framing lokal (Industrial Morowali), terlepas dari dampaknya terhadap masyarakat lokal dan lingkungan. Kemudian dalam kerangka kerja Nancy Peluso lebih menekankan akan institusi dan akses dalam mengembangkan kerangka kerja untuk menganalisis institusi dan bagaimana hal tersebut dapat memengaruhi akses terhadap sumber daya alam. Dalam konteks Morowali, Peluso mengenai sistem hukum dan kebijakan tanah yang ada memungkinkan korporasi untuk memperoleh akses ke tanah masyarakat lokal dengan mudah, sebab proyeksi lapangan kerja untuk masyarakat pengangguran akan menjadi daya tarik tersendiri bagi yang 'memiliki' kompetensi untuk mengisinya.
Sedangkan Amita Bhaduri, yang lebih berfokus pada analisis kekuasaan dan bagaimana hal itu memengaruhi akses dan kontrol terhadap sumber daya alam. Dalam memahami kasus Morowali, Lensa Bhaduri melihat bagaimana korporasi besar memiliki kekuatan dan pengaruh yang signifikan dalam menentukan nasib masyarakat lokal dan lingkungan mereka. Kemudian menawarkan paradigma penting tentang kekuasaan, akses, dan distribusi sumber daya alam yang sangat relevan dalam memahami kompleksitas situasi di Kawasan Industri Nikel Morowali sebagai sorotan utama yang lajunya amat pesat di Asia Tenggara. Korporasi besar memiliki akses dan kontrol yang signifikan atas lahan masyarakat, memungkinkan hal tersebut mengeksploitasi nikel tanpa mempertimbangkan dampaknya dan memperkuat ketidakadilan bagi masyarakat yang lokal yang tidak mampu bersaing karena kurangnya akses pengetahuan/pendidikan untuk survive dan memperburuk citra kemiskinan masyarakat lokal, mendikte kondisi serta mengeksploitasi sumber daya alam demi keuntungan yang cenderung melanggengkan kelompok elit. Pembaca dapat melihat langsung indeks terakhir di Sulawesi Tengah yang diabstraksikan oleh BPS (2023) Dibanding September 2022, jumlah penduduk miskin pada Maret 2023 di daerah perkotaan turun sebanyak 0,82 ribu orang (dari 92,93 ribu orang pada September 2022 menjadi 92,11 ribu orang pada Maret 2023). Sementara itu, pada periode yang sama jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan naik sebanyak 6,78 ribu orang (dari 296,77 ribu orang pada September 2022 menjadi 303,55 ribu orang pada Maret 2023).
Analoginya adalah jika suatu tanah terdapat sumber daya alam melimpah dan dikelola dengan adil dan distribusinya merata, maka indeks kesejahteraan tidak boleh lebih rendah untuk masyarakatnya sendiri. Lingkungan alam Morowali dalam pertambangan nikel telah menampilkan pemandangan lingkungan yang cukup parah sebab terganggunya keseimbangan ekosistem seperti pencemaran pada air laut, tanah, udara serta hilangnya habitat alami. Hal ini juga berdampak negatif terhadap jangka panjang kesehatan masyarakat dan mata pencaharian mereka yang mengandalkan pesisir laut untuk aktivitas nelayan. Menekankan pentingnya kebijakan yang adil dan berkelanjutan yang mempertimbangkan kebutuhan masyarakat lokal dan kelestarian alam menjadi solusi alternatif dalam peran negara yang harus aktif dalam melindungi hak-haknya beserta lingkungan tempatnya bertahan hidup. Merujuk lebih jelas komparasi dalam buku "Money, Land, and Power: The Transformation of the Rural Elite in India" (2005) menjadi landasan penting dalam memahami kompleksitas yang ada pada realitas hubungan antara manusia, lingkungan, dan struktur kekuasaan dengan konteks eksploitasi sumber daya alam. Korporasi "gurita" dengan modal dan pengaruhnya yang besar dengan mudah mampu memperoleh akses ke tanah masyarakat lokal. Hal ini terjadi karena sistem hukum dan kebijakan tanah yang condong memihak kepentingan korporasi, sehingga masyarakat kehilangan hak dan kontrol atas tanah mereka. (Bhaduri, 2005: 123-142) dinamika kekuatan dan relasi sosial berpengaruh besar pada akses dan kontrol terhadap sumber daya alam. Masyarakat lokal kerapkali terpinggirkan dalam proses pengambilan keputusan terkait pertambangan nikel. Suara mereka diabaikan, dan mereka di 'kandang paksa' untuk menerima konsekuensi logis dari eksploitasi sumber daya alam tanpa kompensasi yang adil. (Bhaduri, 2005: 143-165). Meskipun juga ada beberapa bagian besar masyarakat yang merasa senang-senang saja jika diberikan uang tutup mulut terhadap keadaan. Pertambangan nikel seperti mata pedang, dalam kontribusi negara dapat menyumbang beberapa persen pertahunnya untuk pemasukan disisi lain dapat membawa kerusakan lingkungan yang cukup parah, yang akan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan mengancam ketahanan pangan mereka. (Bhaduri, 2005: 166-189). Strategi resistensi dan alternatif pernah dilakukan masyarakat lokal untuk melawan korporasi karena pencemaran udara yang sudah melewati batas akibat aktivitas pembakaran, emisi tak bergerak maupun bergerak terus menerus bertambah intensitasnya. Alih-alih kekuatan korporat melakukan distribusi ketentraman, jauh lebih besar untuk membungkam masyarakat yang menggalang kekuatan dengan serikat buruh untuk menuntut hak-hak, mencari solusi alternatif untuk pembangunan ekonomi, dan melindungi tempat tinggal mereka. (Bhaduri, 2005: 190-212). Dengan memahami konsep akses dan kontrol, dinamika kekuatan, dampak eksploitasi, dan strategi resistensi, membangun pemahaman yang lebih komprehensif tentang kompleksitas penting untuk situasi dan mencari solusi yang lebih adil dan berkelanjutan dalam mengidentifikasi struktur kekuasaan baik skala global, nasional, dan lokal yang dapat memengaruhi eksploitasi sumber daya alam melimpah yang bukan hanya di Morowali serta bagaimana dampak yang berpotensi lebih besar dalam menyadarkan masyarakat yang terjebak dalam dilema antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan demi keberlanjutan jangka panjang untuk generasi yang akan datang. Sehingga perlunya solusi alternatif untuk pembangunan ekonomi yang adil bagi masyarakat lokal dan lingkungan.
Fenomena perluasan konsesi lahan bukan hanya di Morowali yang merupakan pengingat pahit tentang konsekuensi dari eksploitasi sumber daya alam. Dari pengalaman ini, bekerja sama untuk menciptakan model pembangunan yang lebih adil dan ramah lingkungan dapat mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan kelestarian alam agar tidak tersolimi oleh para pemilik modal dan kekuasaan. Mungkin, jika Herman Willem Daendels masih hidup, ia akan berkata, "Bukan saya yang menzolimi pribumi, tapi bupati pada saat itu sendiri yang tidak membayar para pekerja Rodi!"
