Temba Romba sebagai Bukti Arkeologis Islamisasi di Tanah Sape-Lambu Bima.
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah dan di huni oleh masyarakat yang beranekaragam suku, budaya, etnis, ras, bahasa serta agama. Tercatat dalam data Sensus Penduduk (SP) 2010 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), ada sekitar 1340 suku bangsa yang bermukim di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Di setiap suku bangsa memiliki sejarah, asal usul, serta budaya masing-masing yang cukup menarik untuk di pelajari, tidak terlepas dari sejarah masuknya Islam di suatu daerah sebagai agama mayoritas di negari ini. Contohnya di kabupaten Gowa Sulawesi Selatan dan di kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat, kedua daerah ini sama-sama memiliki masjid tua yang di bangun pada abad ke 17 M sebagai simbol dan bukti arkeologis masuknya Islam di dua wilayah Indonesia bagian timur itu. Berbeda halnya dengan dua daerah di atas, sejarah awal masuknya Islam di tanah Bima tidak di buktikan dengan adanya rumah ibadah (masjid), meskipun ada masjid tua di salah satu kecematan di kabupaten Bima tepatnya di kecematan Langgudu yang di bangun pada akhir abad ke 17 M.
Awal masuknya Islam di Bima di buktikan dengan adanya Temba Romba (Sumur Emas) di Desa Sumi kecematan Lambu yang masih bertetanggaan dengan kecematan Langgudu, usianya lebih kurang 4 abad. Konon katanya sumur ini sebagai saksi bisu proses islamisasi masyarakat Bima pada awal abad ke 17 M, oleh empat mubaligh yang datang dari Sulawesi Selatan.
Masyarakat yang masih berpegang teguh pada agama nenek moyangnya (Makakamba Makakimbi/cahaya di atas cahaya/animisme dinamisme), tentu menjadi tantangan yang cukup berat yang di hadapi oleh para penyebar agama Islam di tanah Bima itu sendiri. Ketika itu Sape (sekarang Lambu) mengalami kemarau panjang dan kekeringan dimana-mana, kelaparan terjadi hampir di seluruh wilayah Sape dan sekitarnya.
Dalam keadaan yang semakin parah itu para mubaliqh merasa peduli kepada masyarakat Bima, di suatu hari mereka bermunajat kepada Allah untuk meminta hujan. Usai shalat subuh, mereka berjalan menuju ke arah barat untuk melakukan shalat istisqa. Setelah melaksanakan shalat istisqa, salah seorang mubaligh menancapkan tongkat yang ujungnya terbuat dari Romba atau kuningan itu ke tanah. Ujung tongkat inilah yang menjadi asal muasal nama Sumur Romba tersebut. Dan tiba-tiba keluarlah mata air yang deras membasahi tubuh mereka. Semakin lama mata air tersebut semakin banyak mengairi halaman pekarangan penduduk dan sawah-sawah. Hujan pun turun dengan derasnya.
Pasca peristiwa itu tanah sape kembali subur dan hasil panen melimpah ruah, pancaran air Temba Romba ini lah yang mendasari kayakinan masyarakat setempat untuk memeluk Islam dan meninggalkan kepercayaan nenek moyang mereka. Bukan hanya pada abad ke 17 M itu saja Temba Romba memancarkan air, kejadian serupa kembali terjadi di awal abad ke 21 M tepatnya pada tahun 2011 M Temba Romba memancarkan air setinggi dua meter. Peristiwa itupun membuat masyarakat di desa Sumi dan Rato kecematan Lambu berbondong bondong mendatangi Sumur tua itu untuk melihat dan mengambil air Temba Romba yang di yakini dapat mengobati berbagai macam penyakit, termaksud parafu (gangguan roh halus).
Saat ini Temba Romba menjadi salah satu cagar budaya di bawah naungan pemerintah kabupaten Bima. Selain itu, di setiap akhir tahun Temba Romba juga di gunakan oleh masyarakat desa Sumi dan sekitarnya untuk menggelar do'a syukur atas hasil panen raya dan memperingati tragedi Lambu berdarah.
Penulis : M. Ardan Hidayat (Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam)
