Menelusuri Jejak Sejarah Suku "To Balo"
Pemukiman To Balo adalah salah satu kabupaten yang terletak di pesisir pantai barat provinsi sulawesi dengan garis pantai sekitar 78 km, tepatnya Desa Bulo-Bulo, Dusun Labaka, Kec. Pujananting, Kab. Barru, Sulawesi Selatan. Konon disebut Desa Gettareng yang sekarang dimekarkan menjadi Desa Bulo-bulo.
Secara geografis, desa bulo-bulo berada di ketinggian antara 700 mdpl diatas permukaan laut. Keadaan curah hujan rata-rata sekitar 150-180 hari per tahunnya, serta suhu rata-rata mencapai 24 s/d 30°C setiap tahunnya. Secara administrasi wilayah desa bulo-bulo dibatasi oleh wilayah kabupaten dan kecamatan desa tetangga. Jalan menuju pemukiman To Balo sangat curam karena melintasi beberapa lereng gunung, sepanjang perjalanan dipenuhi bebatuan yang bila di lintasi kendaraan terpontang-panting disetiap jalan yang di lalui. Di tepi perjalanan terdapat batu gamping hitam yang tersebar di seluruh penjuru wilayah desa juga terdapat sebuah tugu sebagai penanda setiap dusun yang di lintasi serta beberapa sungai dihubungkan dengan jembatan kayu. Meskipun terdapat hutan lebat, namun desa bulo-bulo melimpah akan sumber mata air yang mengalir langsung dari bukit kars di sekelilingnya.
Karakter kehidupan masyarakat To Balo dengan melakukan beberapa aktivitas pertanian yaitu berkebun, bertani padi 1×setahun, menanam kacang hingga beternak seperti beternak sapi, ayam dll. Mereka juga memproduksi gula aren. Di samping rumah To Balo menanam keperluan sehari-hari seperti pisang, cabai, lengkuas dan pangan lainnya yang bermanfaat bagi keberlangsungan hidup mereka. Kondisi pemukiman To Balo sangat dekat dari persawahan dan perkebunan, namun jarak antara rumah satu ke rumah lainnya cukup jauh kurang lebih 1km. Desa bulo-bulo berada kurang lebih 100 km sebelah utara kota Makassar ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Bulo-bulo dulunya dijadikan tempat sebagai simbol persatuan pada saat Belanda masuk menyerang dan dikalahkan pada saat itu.
Suatu daerah desa bulo-bulo, terdapat satu rumpun keluarga yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang pada umumnya yaitu memiliki kulit belang di beberapa bagian pada tubuhnya. Mereka inilah disebut To Balo. Konon, dalam sejarahnya di ceritakan terdapat sepasang suami-istri yang sudah lama menikah namun mereka tak kunjung memiliki keturunan. Pada suatu hari mereka melihat seekor kuda belang dan mereka pun berdoa kepada Sang Dewata (Tuhan Yang Maha Esa) untuk di beri keturunan walaupun persis dengan kuda belang itu, tidak lama setelah itu mereka memiliki keturunan yang berkulit belang mirip seperti kuda yang mereka lihat. Ada juga yang menggunakan konsep perjuangan dalam menarasikan sejarah To Balo, pada masa kerajaan Tanete di serang oleh Belanda, Raja Tanete datang ke bulo-bulo meminta bantuan agar dikirimkan orang-orang terbaik di bulo-bulo pada masa itu. Kemudian sang pemangku adat pun melakukan proses seleksi terhadap masyarakat, pada saat itu terpilihlah sembilan orang yang siap di kirim ke pulau puteangin. Pemangku adat menitipkan pesan kepada mereka bahwa "apabila kamu berperang di sana (pulau puteangin) dan kalian menang, lalu kembali ke bulo-bulo. seberapa besar rindunya kalian dengan anak dan istri kalian, jangan sekali-kali kalian naik ke rumah sebelum kalian memotong ayam putih." Setelah pemangku adat berpesan berangkatlah sembilan orang tersebut ke pulau puteangin. Walhasil mereka kembali dengan selamat dan menang atas peperangan melawan Belanda, pada saat kembali ke bulo-bulo kesembilan orang ini terlupa akan pesan sang pemangku adat, mereka langsung memasuki rumah tanpa memotong ayam putih terlebih dahulu karena melanggar pesan yang disampaikan oleh pemangku adat. Dari kesembilan orang yang diutus dalam peperangan tersebut, satu diantaranya mendapat hukuman dengan memiliki keturunan yang berkulit belang (Balo) berbeda dari kulit manusia pada umumnya sehingga orang di desa bulo-bulo menyebutnya To Balo (Orang Belang). Hanya saja dalam penggambaran sejarah tidak disebutkan secara spesifik waktu terjadinya hal tersebut, baik dari kutukan Dewata terhadap sepasang suami-istri ataupun dari konsep perjuangan melawan penjajah.
Didalam keluarga To Balo ini, ada hal unik mereka bersamaan hidup dengan karakteristik kulit belang yang sampai hari ini tidak dapat lebih daripada sembilan orang, karena hal ini dilatarbelakangi oleh diutusnya sembilan orang yang melanggar pesan pada saat kembali dari berperang melawan penjajah di pulau puteangin. Oleh karena itu, anggota keluarga yang berkulit belang dan hidup bersamaan hingga saat ini tidak lebih dari sembilan orang. Sekarang ini To Balo sudah memasuki generasi ke-4 yang berjumlah 5 orang diantaranya Nurung, Nurlaela, Wahyudin, Sofyan, dan Sukku'.
Wilayah bulo-bulo yang merupakan tempat bermukimnya To Balo juga merupakan sentral pertemuan antara Kerajaan Tanete dengan Kerajaan Gowa. Adanya pengaruh dari 2 kerajaan ini masyarakat desa bulo-bulo mampu menguasai dua bahasa, yaitu bahasa Bugis yang merupakan pengaruh dari Kerajaan Tanete dan bahasa Makassar dari pengaruh Kerajaan Gowa. Bulo-bulo ini pernah dijajah oleh Belanda karena di wilayah ini terdapat sebuah sungai yang kini diabadikan oleh pemerintah setempat dengan nama sungai limbangan balanda a. Arti dari nama bulo sendiri dalam bahasa Bugis "Bulo" adalah bambu kecil yang kuat mirip dengan peribahasa bugis yang berbunyi "Mabbulo Sibatang" yang artinya meskipun kecil akan tetap kuat, hal itu jugalah yang menggambarkan masyarakat desa bulo-bulo. Saat ini desa tersebut secara resmi tercatat dalam administrasi wilayah Kabupaten Barru.
Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Budaya juga dapat diartikan sebagai suatu cara hidup yang terdapat pada sekelompok manusia, telah berkembang dan diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Peristiwa ini juga berlaku pada masyarakat Desa Bulo-Bulo, Kec. Pujananting, Kab. Barru dengan sapaan akrab disebut masyarakat Suku To Balo. Budaya masyarakat To Balo terdiri dari beberapa aspek yang diantaranya di pengaruhi oleh hubungan sosial masyarakat setempat sebab di lakukan secara musyawarah, contohnya dalam hal pertanian sebagai sumber penghidupan masyarakat. Penduduk desa bulo-bulo mengenal istilah "Mappalili" sebagai penentuan waktu yang biasanya dilaksanakan secara musyawarah oleh petuah suku tersebut, setelah penentuan waktu yang tepat masyarakat setempat akan melakukan "Assulurigalung" sebagai patokan awal penanaman padi yang dilanjutkan dengan "Maddojabine" sebagai permohonan doa meminta keselamatan dan dijauhkan dari hal-hal yang buruk. Ritual ini biasanya di pimpin oleh Ponati sebagai orang yang di tuakan dalam masyarakat tersebut. To Balo memiliki tradisi khusus yang dilaksanakan satu kali dalam tiga tahun, tradisi ini disebut sebagai tradisi "Massagala" yang berarti berpuasa.
Masyarakat setempat meyakini tradisi tersebut sebagai bentuk menahan diri dari hawa nafsu yang biasanya dilaksanakan pada bulan November dengan munculnya pertanda pada "Sagalatoa" sebagai rumah yang diberi tanda pusat awal akan dilaksanakannya ritual tersebut. Tidak hanya itu, masyarakat setempat juga percaya bahwa salah satu pertanda akan di mulainya tradisi massagala dengan melepuhnya badan seorang anak bayi. Tradisi "Massagala" yang berarti berpuasa memiliki beberapa pantangan terdiri dari tiga yaitu, (1) pantangan untuk tidak memakan makanan yang pedas, (2) tidak memakan makanan yang menyebabkan gatal-gatal dan, (3) untuk tidak memakan daging. Tradisi massagala dibagi menjadi tiga tahap yaitu pertama, "Pamassi" yang berarti telah dimulainya ritual. Kedua, ritual "Pagallang" sebagai pertanda berakhirnya pantangan. Ketiga, "Paribba" sebagai pertanda telah berakhirnya semua ritual yang pada umumnya diakhiri oleh pemotongan ayam. Yang unik dari masyarakat setempat ialah mereka meyakini bahwa seseorang yang menikah diluar dari pada masyarakatnya harus melakukan satu tradisi yang disebut sebagai tradisi "Massoro baca" sebagai bentuk pacinnong rupa yang berarti pembersihan diri. Tradisi ini biasanya dilaksanakan dengan harapan agar setiap dari mereka yang telah menikah mendapatkan hal yang baik dalam pernikahannya. Namun yang perlu dipahami bahwa, suku To Balo merupakan bagian dari suku To Bentong yang dimana setiap budayanya mengikut pada masyarakat setempat.
Sastra adalah ungkapan ekspresi manusia berupa karya tulisan atau lisan berdasarkan pemikiran, pendapat, pengalaman, hingga ke perasaan dalam bentuk yang imajinatif, cerminan kenyataan atau data asli yang dibalut dalam kemasan estetis melalui media bahasa. Sama halnya dengan Suku To Bentong yang memiliki keunikan dari segi bahasanya, uniknya karena masyarakat yang bermukim di daerah pegunungan tepatnya di Desa Bulo-Bulo Kec. Pujananting Kab. Barru menggunakan perpaduan dua bahasa daerah yaitu bahasa Bugis dan bahasa Makassar. Dari ke dua perpaduan bahasa tersebut melahirkan ciri khas bahasa tersendiri yaitu bahasa "To Bentong". Awal mula disebut bahasa To Bentong (Bugis dan Makassar) merupakan sentral pertemuan antara Kerajaan Tanete dan Kerajaan Gowa, karena lokasi ini merupakan tempat yang strategis.
Suku To Bentong memiliki salah satu bentuk peninggalan berupa lontara jangang-jangang dengan menggunakan bahasa "manu-manu". Namun seiring berjalannya waktu, lontara ini tidak lagi digunakan sebab keberadaannya pun tidak lagi diketahui. Tetapi masyarakat setempat masih memiliki salah satu lontara yang tidak bisa disebutkan namanya sebagai lontara yang hanya bisa dibaca pada malam jum’at saja, terdapat juga syair Suku To Bentong berupa nyanyian yang juga katanya syair ini ketika dinyanyikan sehari semalam pun tidak akan selesai serta nyanyian ini berfungsi untuk menenangkan hati para pendengarnya.
Menurut kesaksian Kades Bulo-Bulo, dalam hal ini Pak Rahman menyatakan bahwasanya beliau pernah menyaksikan kelebihan dari salah satu masyarakat suku To Bentong yang mempunyai mantra-mantra (baca-baca) untuk menjinakkan seekor sapi yang sedang lepas kendali di suatu acara pernikahan.
Penulis : Tim Riset Sejarah
Himpunan Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam (HIMASKI)
