Streotyping Andalan Masyarakat Tambang Nikel.

 Gambar 1. BBM naik eceran botolan ikut melonjak dikerumunan macet panjang.


   Pada umumnya, masyarakat akan beranggapan secara general bahwa semua orang yang bekerja di lokasi tambang itu banyak duit atau bahasa milenialnya "cuan". Premis tersebut sudah menjadi kalimat mutlak yang tak terelakkan dalam pelabelan tenaga kerja. Lantas bagaimana dengan perantau amatir yang hanya bermodalkan tekat yang kuat? sekuat baja produk jadi tambang contohnya. Sebagian besar dari mereka musti menaruh ekspektasi yang tinggi sesampai dilokasi. Dengan wajah sumringah berpamitan kepada kolega dan kerabat seraya berkata "saya akan pergi menggarap uang". terlebih bagi yang memiliki visi menabung untuk target Panai, investasi, atau sekedar bayar tunggakan cicilan, entahlah. 

    Hari pertama sesampai di lokasi, jutaan neuron mengumpulkan data dari hasil pengamatan kesan pertama pada lingkungan. Para alumni muda mulai bertanya-tanya seperti anak yang kehilangan induk. apakah ditempat seperti di hadapan matanya itu mereka akan mendedikasikan hasil belajarnya selama belasan tahun. Khususnya bagi alumnus sarjana ternama dari daerah masing-masing. Belum lagi mereka yang mengandalkan orang bayaran alias calo. Pasti akan sangat berfikir keras sembari berkata "maumi diapa terlanjur basahmaq", melihat lingkungan kerja yang sumpek, rutinitas macet berdebu tiap hari dan sebagainya yang sangat jauh dari harapan semula.


Menjajal lokasi kerja dengan iklim terasa seperti negara asing.

Ada 3 tipe keberuntungan yang akan menghampiri para calon tenaga kerja fresh graduate (pribumi), yang pertama saat datang interview mereka dengan cepat akan mendapat panggilan MCU atau tes kesehatan. Kedua, akan dipimpong untuk beberapa hari sembari tes mental dan psikis sebelum memasuki arena kerja. Ketiga, akan digantung untuk berpekan-pekan bahkan bulan mungkin. Kalau bahasanya ustad, tergantung amal katanya. Tapi tidak juga sih, ada beberapa ribu tenaga kerja asing sebenarnya yang masuk lewat jalur orang dalam dan langsung mengisi posisi-posisi strategis. Hingga tak jarang kita akan menemui beberapa makhluk yang bermuka dua pada akhirnya. Bukan tak lain adalah sekedar ingin melanggengkan rasnya sebagai yang dominan. Kadang-kadang efek tersebut dapat menjalar pada masyarakat lokal yang keliru menginterpretasikan sebuah keloyalan.


Stigma Masyarakat

Perputaran ekonomi yang berdampak sangat signifikan bagi mereka yang baru mencicipi nikmatnya salary yang cukup besar. Yah lumayan lah, untuk menepis berbagai macam siasat para pemilik modal dalam mematok harga kebutuhan primer dan sekunder di area. Antara lain harga kostan yang naik 3 kali lipat dibanding kota metropolitan yang lebih ramai di luar sana. Selain stigma keuangan, masyarakat tambang juga kadang suka bernada sarkasme terhadap pendatang lain. Seperti kepada para pekerja wanita. Jika mereka mendapati sosok  berambut pirang, dengan sigap muncul pada benaknya dan keluar melalui ucapan adalah labelisasi dengan frasa "janda". Padahal sebetulnya, secara umum mempunyai rambut pirang itu bisa dikatakan sesuatu yang keren menurut segelintir wanita bahkan lelaki pun. Beberapa persepsi kadang mengaitkan itu sebagai penampilan yang ikut trending dan unik. Akan tetapi memang tak bisa dipungkiri kerapkali ada banyak wanita yang mulai menipis imannya ditanah rantau, sehingga memicu fikiran yang boleh jadi mereka selalu memunculkan kata janda dalam isi kepala mereka karena maraknya pengguna aplikasi "hijau" yang notabenenya berasal dari kalangan kepala 3 keatas, akibat impact dari ekonomi juga. Begitulah siklus yang terjadi dari waktu ke waktu. Jika tak pandai dalam menentukan arah dan tujuan yang pasti, kita hanya akan selalu terjebak dalam arena "balap tikus".

Bagaimana, apakah anda ikut tertarik dengan euforia masyarakat tambang? Tapi saya sarankan siapkan fisik dan mental yang kuat yah.

Sekian wassalam.

DMatte'

Pengamat Sosial

Mahasiswa Psikologi UICI