Sanubari Puitis Cahaya Aswad
* Sendu
Dihari yang cerah ini,
kutuliskan sepenggal cerita
untuk berkabar kepada sendu
akan hitam putihnya kehidupan
sembari bersenggama lewat perasaan,
demi jiwa-jiwa yang tenang
di bawah naungan kasih sayang ilahi.
Kutitipkan rasa cinta
di atas lembaran-lembaran sunyi
yang setia mendengarkan keluhan rinduku
Dinda...
Sebab daku yakin
bahwa burung terbang karena sayapnya,
dan surat dikirim karena rindunya.
Maka izinkanlah daku
menyemaikan kesepuluh jariku
dengan tinta-tinta hitam
untuk menghiasi lembaran kertas putih
Kan kuberikan kepadamu.
Duhai adindaku...
pahamilah bahwa cinta adalah kekuatan murni
dari keikhlasan nurani.
Tiadalah artinya cinta tanpa Sami'na Wa Atoa'na.
Sebab...
Takbiratul ihram dengan cinta,
rujuk jua karena cinta,
sujud atas dasar cinta,
dan duduk diantara dua sujud pun demi cinta,
hingga sampai pada akhir
yaitu salam semua adalah berkat kekuatan cinta.
Akan tetapi yang menyempurnakan segalanya
adalah keikhlasan dan kekuatan Ridho-Nya
Sang Maha Kuasa.
* Sebab harap
Hari ini sudah hampir seperempatnya ku berjalan,
namun sia-sia aku menanti hadirmu
diujung jalan yang sepi
tanpa ada bayang yang melintas.
Aku hanyalah sebuah raga
yang kesepian dalam hayal.
Aku adalah sebuah sosok
yang nelangsa dalam bayangan.
Tapi aku juga adalah sesosok manusia
Yang butuh akan cinta dan kasih.
Oleh karenanya aku menanti
hadirmu di ujung jalan itu...
* Metamorfosis
Srikandi menghipnosis canda menjadi candu
dalam suram keheningan
Duduk dengan pesona biasa-biasa saja
Namun metamorfosis lara menjadi riang ria
Sesekali kalimat lantang menjadi kiasan
dari jumpa yang tak disangka
Terlontar oleh waktu yang menjulur
dan diterkam olehnya para perindu temu
Tiba sengketa diperbincangkan dengan rasa
Menumpah semua yang pernah lalu
Dan memerangi resah yang
tumbuh dalam menung
Bait-bait penenang menjadi alat tempur
Dalam perang mencari jalan keluar
Hingga ditetapkan pada satu keputusan
* Melangkah
Biarkan aku menata lara
Dari setiap keping yang retak tak terarah
Biarkan kuping ini mendengar bisu
Dari kata yang tak sempat bicara
Walaupun hanya fatamorgana
Izinkan aku kembali mengasah
Sebelum sengketa lama kan binasa
Dalam tindihan aksara bunga
Izinkan aku melangkah jauh
Sebelum semuanya kembali
ke genggaman angin indera Mayu
Kusematkan jasad lama tertunduk
Di kaki langit
Menghirup angin kenangan lalu
Hingga rindu jadi sirna dalam alur waktu
* Pujangga
Gemerlap gugusan bintang-bintang
Memenuhi langit malam
Dengan cahayanya rembulan menjadi saksi
Atas kusitanya suaramu dimalam yang bisu
Semuanya termaktub dalam pikirku
tuk mengukir pelangi dikedua pipimu
Dan memberi semangat pada hati yg mulai rimpuh
Pujangga dengan syairnya yang indah
Menyandera setiap butiran lara
Menumbuhkan polesan indah nan menawan
Sejuk pandang kutatap sesekali
Dengan sayup-sayup tampak indah menghiasi rasa ini
Hingga ku mampu lantunkan dalam diam ukiran
Bait-bait indah di atas permadani tuk temui tunjuk
Dari sang Khaliq di kala senyum dan tawamu
menawan pikirku.
* Mekar
Zikir berenang di samudera malam
Dalam bisik-bisik suci itu
Langit dan bumi menyatu dalam hening
Jejak pun memusat pada hati sanubari
Bagaimana kepompong yang berminggu-minggu
Menahan haus dan lapar,
Lahirkan sayap kupu-kupu
dengan corak keindahan,
warnanya yang memukau.
Aku telah mengenalmu
Tapi kali ini ku ingin,
memperkenalkan kembali pada diriku
Agar aku lebih bisa menikmati
Lembaran yang kau ukir di setiap bait hariku.
Engkau hadir dengan meninggalkan jejak
tanpa telapak
Telah menjejak pada hati yang rapuh ini
Senyummu bukan hanya kurindui
Senyummu bukan hanya kukenang
Tapi semoga senyummu selalu mekar
menjadi keindahan dalam gairah hidupku.
* Melukis Senja
Tidak ada yang sia-sia pada rindu
Antara musim kemarau
yang merindukan derasnya hujan
Tidak ada yang mustahil pada harapan
Antara bunga-bunga,
yang mengharapkan mekar pada musim gugur.
Berkali-kali aku menyanggupi
membelalak pada sepertiga malam
dan melukis senja dengan do'a
yang terbungkus rapi oleh sajak puisi.
Namamu telah kuikat kokoh,
mahida diantara ratusan kata penuh asa.
Aku sempat bingung di ambang rasa
apakah ini bentuk kebodohan
atau keikhlasan yang nyata?
Antara ranum embun yang sedang berpuisi
Bintang-bintang takluk bersujud
Ilalang-ilalang menari tanpa arah
Sesawahan kembali menghijau
Gemercik air sungai mengalir tanpa warna
dan semuanya membentang di alam.
Sejak-sejuk itu membasuh rindu
hingga redup Teduh memayungi kalbu.
Sama seperti senyummu.
* Memperjuangkanmu
Sudah kusiapkan ragaku untuk berjuang
Sudah kukuatkan ragu untuk yakin
Sudah kusiapkan semangat untuk bertempur
Sudah kusiapkan hati yang bertekad kuat
Biarlah jauh membuat aku
menanggung kerinduan,
sebab dekat menjadikanku bisu
dalam pembicaraan.
Jika ada yang bertanya,
apakah aku akan mundur pada perjuangan ini?
Maka jawabnya tidak.
dan bila pada akhirnya,
perjuangan tak membubuhi hasil,
maka tiada kata penyesalan
sebab dari ikhtiar itu
ku kan menjadi tegar
walau luka sesekali menggelegar.
Dan jika ada yang bertanya
mengapa aku sepercaya ini?
Mungkin jawabnya sebab harap
dan sekumpulan do'a
yang selalu menguatkan diri
untuk menjadi beberapa poros
kehidupan bahkan perjuangan.
* Zikir
Zikir berenang di samudera malam
Dalam bisik-bisik suci itu
Langit dan bumi menyatu dalam hening
Jejak pun memusat pada hati sanubari
Bagaikan kepompong yang berminggu-minggu
Menahan haus dan lapar,
Lahirkan sayap kupu-kupu dengan corak
keindahan warnanya yang memukau.
Aku telah mengenalmu
Tapi kali ini,
ku ingin memperkenalkan kembali pada diriku
Agar aku lebih bisa menikmati
Lembaran yang kau ukir di setiap bait hariku.
Engkau hadir dengan meninggalkan jejak
tanpa telapak
Telah menjejak pada hati yang rapuh ini
Senyummu bukan hanya kurindui
Senyummu bukan hanya kukenang
Tapi semoga senyummu selalu mekar
menjadi keindahan dalam gairah hidupku.
* Teduh
Tidak ada yang sia-sia pada rindu
Antara musim kemarau
yang merindukan derasnya hujan
Tidak ada yang mustahil pada harapan
Antara bunga-bunga
yang mengharapkan mekar pada musim gugur.
Berkali-kali aku menyanggupi
membelalak pada sepertiga malam
dan melukis senja dengan do'a
yang terbungkus rapi oleh sajak puisi.
Namamu telah kuikat kokoh,
mahia diantara ratusan kata penuh asa.
Aku sempat bingung di ambang rasa
apakah ini bentuk kebodohan
atau keikhlasan yang nyata?
Antara ranum embun yang sedang berpuisi
Bintang-bintang takluk bersujud
Ilalang-ilalang menari tanpa arah
Sesawahan kembali menghijau
Gemercik air sungai mengalir tanpa warna
dan semuanya membentang di alam.
Sejak-sejuk itu membasuh rindu hingga redup
Teduh memayungi kalbu.
Sama seperti senyummu.
*
Detikan demi detikan kian lewat
Ada bunga dengan tangkainya
Ada pot dengan tanahnya
Ada gayung dengan airnya
Zirah kuat kini rapuh terkikis tindihan
Kaca retak tak lagi sehalus awalnya
Waktu pun uzur dalam ucap
Manisnya gulapun hambar dalam ingatan
Di kaki langit ia berdzikir
Di dalam kabut ia merenung
Di setiap mata ia bergurau
Di dalam gelap ia teteskan kepulauan
Titik temu tak kunjung temu
Sekilas tergambar fajar
Namun hanya senja yang ternampak
Dan terlahir gelapnya semesta
*
Di dalam kesunyian
Ada rindu yang membara.
Menggiringku terjaga hingga fajar menyapa.
Gejolak rasa penasaran berubah menjadi tanya.
Akankah mimpi menjadi nyata??
Akan bayangmu yang terus mengikuti!!
Dengan sayap khayalan
Kuingin terbang mengarungi bahtera
membawa cinta sebesar dunia ini
tuk kulabuhkan dihatimu
Wahai pujangga
*Engkau Yang Indah
Engkau sesosok keindahan berwujud perempuan.
Engkau bagai air dikala pelangi kan tiba.
Tanpamu tak ada warna-warni kehidupan
dan tanpamu tak ada kata indah
pada kehidupan itu.
Aku hanyalah kumbang
mengumpulkan sedikit demi sedikit cinta
yang tersirat cerita darimu,
mengharap manis madumu untuk kehidupan-Ku.
Engkau bak embun dikala pagi,
memberi kesejukan setiap hela nafasku.
Kaulah rumput Hijau
yang takkan tumbang di depan topan
dan hendaknya engkaupun tau
bahwa dirimu akan mengabadi
dalam separuh jiwa ragaku,
Karna kau adalah melodi dalam syairku...
*
Senyum yang begitu lama kurindui,
kembali kulihat dengan cara yang berbeda
Yang tadinya
begitu banyak kebahagiaan yang membekas
saat melihat senyummu,
kini seakan semuanya hilang
dan tergantikan dengan sikap biasa-biasa saja.
Namun senyum lembut
yang engkau arahkan kepadaku saat itu
memberikan stimulus hingga
Perasaan menyembur di hatiku yang terdalam
seperti kemarau
yang lama menanti derasnya hujan,
seperti itulah daku.
Tak bisa dipungkiri
Ku tetap menyimpan banyak harapan kepadamu
Entah harapan itu akan jadi kenyataan
atau malah sebaliknya.
*Muslimah Idaman
Kau bagai mentari pagi
yang bersinar menerangi kehidupan.
Tutur kata lembut nan berarti
memberi makan untuk semua insan.
Ketenangan yang terpancar di wajahmu,
ikhlas jadi pengiring langkah kecilmu.
Sabar memenuhi harimu.
Bening mewarnai dirimu.
Kaulah mujahid penyejuk hati, penentram jiwa,
penggugah iman, penerpa rasa
yang menghujamkan cinta
berharap hanya pada Allah,
raihlah semuanya
karena banyak insan merindumu.
*
Tumpahan tinta menghias di atas secarik kertas
Beralurkan kisah cerita lama yang
Di buang menuju ke kedalaman arus laut
Dan terhempas olehnya aliran waktu...
Manakala sesal menyelimuti sesak
Sunyi dalam asrama menjadi saksi
Menggelegarnya bincang hati dan pikiran
Menghadirkan nyeri yang tak karuan.
Pilihan adalah haknya
Sesekali ku lantunkan seruan sapa
Namun diamnya jadi penerjemah
Atas hadir yang jadi figur dalam mimpi
Bahagialah karena hadir ini akan menjauh dari
Tinta yang akan mencoreti lembaran barumu...
*
Duhai adindaku...
Indah matamu pancarkan cahaya
Senyum bibirmu hanyutkan perasaan suka
Lembut suaramu getar damaikan jiwa
Dan elok wajahmu hadirkan rasa cinta
di dalam dada
*
antara engkau dan aku
Jangan izinkan aku untuk memelukmu
Jangan izinkan aku untuk membelaimu
Jangan izinkan aku untuk menyandingmu
Jangan izinkan aku untuk manjamahimu
Sebab, kehormatanmu adalah segalanya
hingga sampai pada akad penyatuan
antara engkau dan aku.
* Gambaran Mahabbah
Sembilan puluh sembilan Cahaya harapan
ingin berjumpa sang kekasih,
termanifestasi bak melati
yang harum nan mewangi.
Mahakarya ilahi,
dihimpun oleh rasa.
Hadirnya mengetuk jiwa
dalam pantulan cermin
kebesaran jubah
di bawah kuasanya langit dan bumi.
Ini bukan sajak cinta,
bukan puisi sastra,
bukan syair para pujangga,
dan bukan pula teater dalam drama,
apalagi akrobat kata-kata puisi
dalam bait cinta yang semu.
Inilah bahasa rupa,
simbol yang dipahami lewat hati nurani.
#Cahya Aswad ✍️
Muh Ridwan Rasyid
Kord. Divisi di Sanggar Seni Appa Sulapa'
