"Japanisasi Vs Koreanisasi" Spektrum Beken dalam Komunikasi Politik Pilpres
Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena japanisasi dan koreanisasi telah menjadi tren yang mendunia. Fenomena ini merujuk pada proses adopsi budaya Jepang dan Korea oleh masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Fenomena ini juga telah merambah ke dunia politik, khususnya dalam penggunaan media kampanye. Dalam dunia perpolitikan, penggunaan media kampanye merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh para kandidat dan partai politik. Media kampanye dapat digunakan untuk menyampaikan visi dan misi, serta program kerja para kandidat dan partai politik kepada masyarakat luas. Dilansir dari Kompas.id sejak mulai pertama, Pelaksanaan kampanye dilakukan dengan cara yang bervariasi. Tak semuanya harus berlangsung di ruang terbuka, ramai, dan riuh. Pembawaan kampanye ada yang meledak-ledak, ada pula yang santai. Bahkan mencantumkan salah satu foto artis terkemuka dari barat seperti band Rowling Stone dalam media kampanyenya.
Di masa sekarang, dominasi dan skema japanisasi maupun koreanisasi dalam penggunaan media kampanye di Indonesia turut merambah dengan dibalut kreatifitas kemasan kekinian, namun juga terkesan paradoks oleh beberapa golongan pemilih mayoritas dari kalangan milenial dan gen z. Japanisasi dan Koreanisasi dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek visual dan aspek naratif. Aspek visual merujuk pada penggunaan elemen-elemen budaya Jepang atau Korea dalam materi kampanye, seperti logo, desain, dan kostum. Seperti misalnya, para kumpulan wibu yang berupaya mendandani salah satu cawapres agar terlihat kosplay seperti anak salah satu hokage dalam peran film anime. Sedangkan, naratif merujuk pada penggunaan narasi yang khas Jepang dan Korea dalam materi kampanye, seperti pesan-pesan tentang kerja keras, keuletan, dan cinta. Terlihat juga penggambaran solidaritas gerakan organik, hubungan emosional yang terbentuk dikalangan para kpoper yang cukup menarik khalayak publik dalam menggalang simpati dengan menyewa videotron secara sukarela dan jam tayang terbatas.
Penggunaan japanisasi dan koreanisasi dalam media kampanye memiliki beberapa kelebihan. Pertama, penggunaan elemen-elemen budaya Jepang atau Korea dapat menarik perhatian publik. Kedua, penggunaan narasi yang khas Jepang atau Korea dapat membuat kampanye lebih menyentuh dan berkesan di hati publik. Namun, penggunaan japanisasi dan koreanisasi dalam media kampanye juga memiliki beberapa kekurangan. Pertama, penggunaan elemen-elemen budaya Jepang atau Korea dapat menimbulkan kerancuan identitas. Kedua, penggunaan narasi yang khas Jepang atau Korea dapat dianggap sebagai bentuk plagiarisme budaya.
Antropologi budaya dapat melihat fenomena japanisasi dan koreanisasi sebagai bentuk adopsi budaya. Adopsi budaya merupakan proses pengambilan unsur-unsur budaya dari suatu kelompok masyarakat oleh kelompok masyarakat lain. Dalam konteks penggunaan media kampanye, japanisasi dan koreanisasi dapat dilihat sebagai upaya untuk mengadopsi budaya Jepang atau Korea dalam rangka meningkatkan efektivitas kampanye. Perspektif antropologi politik melihat fenomena japanisasi dan koreanisasi sebagai bentuk strategi politik. Strategi politik merupakan upaya untuk mencapai tujuan politik tertentu. Dalam konteks penggunaan media kampanye, japanisasi dan koreanisasi dapat dilihat sebagai upaya untuk meraih simpati dan dukungan publik.
Berdasarkan kedua perspektif tersebut, fenomena japanisasi dan
koreanisasi dalam penggunaan media kampanye merupakan fenomena yang kompleks
dan multidimensi. Fenomena ini tidak hanya sekedar tren, tetapi juga merupakan
bentuk adopsi budaya dan strategi politik. Menurut Clifford Geertz, hal tersebut mengacu pada sistem simbol-simbol yang diinterpretasikan oleh manusia. Kebudayaan dapat
dipelajari dengan memahami simbol-simbol yang digunakan oleh masyarakat. skema
japanisasi dan koreanisasi, simbol-simbol yang digunakan dalam media kampanye
dapat dianalisis dari segi estetika dan emosional. Skema japanisasi menekankan
pada aspek estetika dengan menggunakan gambar/visual yang unik dan menarik.
Skema koreanisasi menekankan pada aspek emosional dengan menggunakan cerita dan
pesan yang menyentuh hati serta membangun solidaritas organik yang notabenenya
dikomandoi oleh gen z dan fans kpoper.
Skema
japanisasi dan koreanisasi memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan skema japanisasi adalah dapat menarik perhatian masyarakat dengan
cepat. Kelebihan skema koreanisasi adalah dapat membangun hubungan emosional
yang kuat dengan masyarakat. Namun, skema japanisasi dan koreanisasi juga
memiliki beberapa kekurangan. Kekurangan skema japanisasi adalah dapat bersifat
superficial dan tidak menyentuh substansi. Kekurangan skema koreanisasi adalah
dapat bersifat manipulative dan tidak objektif. Skema japanisasi dan
koreanisasi dapat menjadi strategi yang efektif dalam penggunaan media
kampanye. Namun, perlu diimbangi dengan penggunaan media kampanye yang bersifat
informatif dan edukatif agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Penulis: Fian Anawagis (Mahasiswa Magister Antropologi UH)
