Membaca Ulang Narasi Kolonial dan Korelasinya dalam Mewujudkan Wacana Hilirisasi
Narasi kolonial telah lama menjadi salah satu faktor yang menghambat pembangunan di Indonesia. Narasi ini dikonstruksi oleh penjajah Belanda selama ratusan tahun, dan telah mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia. Narasi kolonial ini menggambarkan Indonesia sebagai negara yang terbelakang dan tidak mampu mengelola sumber daya alamnya sendiri. Salah satu contoh narasi kolonial yang paling nyata dari refleksi sejarah selama kian abad lamanya adalah monopoli laut dan perdagangan rempah oleh VOC. VOC telah mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia secara besar-besaran, dan telah menyebabkan adu domba yang berujung kesengsaraan bagi sebagian besar rakyat Indonesia (dulu masih Nusantara). Kerja rodi dalam praktik Daendels dan korupsi bupati-bupati zaman Hindia-Belanda juga merupakan sebagian contoh konkrit dari beberapa narasi kolonial untuk merepresentasikan ketimpangan sosial terhadap pribumi dan Bangsa Indonesia.
Dewasa ini jargon hilirisasi merupakan salah satu upaya dialektis dan kata andalan yang sering dilontarkan oleh salah satu paslon pilpres. Hilirisasi itu bermakna konotatif dari makna sebenarnya yaitu merujuk pada proses pengalihan bahan baku atau barang mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Dengan hilirisasi, Indonesia dapat meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alamnya sendiri, dan mengurangi ketergantungan pada impor barang jadi. Hilirisasi juga dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan mendorong hilirisasi, Indonesia dapat berupaya menghentikan dikte narasi kolonial, dan membangun masa depan yang lebih baik bagi bangsa. Dalam kacamata Bourdieu, struktur sosial dan budaya di Indonesia seperti ini membuat terbentuknya suatu habitus, yaitu sistem disposisi yang terinternalisasi dalam diri individu. Habitus ini dapat membentuk cara pandang dan perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks narasi kolonial, habitus yang terbentuk pada masyarakat Indonesia adalah habitus yang menganggap bahwa Indonesia adalah negara yang terbelakang dan tidak mampu mengelola sumber daya alamnya sendiri. Fenomena demikian dapat terlihat pada sejumlah pemilik pabrik yang berdiri di beberapa lokasi potensial akan sumber daya alam di Indonesia yang notebene pemilik saham terbesarnya adalah orang asing dan mayoritas pekerja masyarakat lokal hanya mengisi bagian klaster kru bahkan persentase kemiskinan masyarakat lokal juga masih menjadi ironi.
Konstruksi tersebut diatas diharapkan agar tidak mengulang dikte narasi kolonial sekarang ini seperti saat kebijakan gencar yang diterapkan oleh Belanda selama masa penjajahan. Misalnya, VOC menerapkan monopoli laut dan perdagangan rempah, Daendels yang menerapkan sistem kerja rodi, dan bupati-bupati zaman Hindia-Belanda sendiri yang banyak melakukan tindakan korupsi. Kebijakan-kebijakan serupa tersebut telah menciptakan struktur sosial dan budaya yang merugikan rakyat Indonesia. Dengan menerapkan hilirisasi yang optimal dan faktual, pemerintah Indonesia dapat berupaya untuk mengubah habitus masyarakat Indonesia. Hilirisasi dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan diri masyarakat Indonesia, dan dapat mengubah cara pandang masyarakat Indonesia tentang diri mereka sendiri. Hilirisasi yang sedapat mungkin dilakukan di Indonesia sesuai dengan besarnya potensi sumber daya alam yang ada:
• Hilirisasi minyak sawit. Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia. Dalam rilisan Koran Tempo terbaru menyebutkan Indonesia memproduksi 59 persen dari total produksi minyak sawit dunia atau sebanyak 45,5 juta ton per tahun. Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2022 Indonesia mengekspor CPO dan produk turunannya sebanyak 25,01 juta ton. Angka tersebut turun dibanding jumlah ekspor pada 2021 yang sebesar 25,62 juta ton. Daerah tujuan ekspor utama sawit Indonesia adalah Uni Eropa, India, Pakistan, dan Afrika. Hilirisasi minyak sawit dapat dilakukan dengan memproduksi berbagai produk turunan minyak sawit, seperti biodiesel, margarin, sabun, dan kosmetik.
• Hilirisasi batu bara. Indonesia juga merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di dunia. Dilansir dari databooks Kata Data Menurut estimasi International Energy Agency (IEA), volume produksi batu bara global pada 2023 mencapai 8,7 miliar ton, meningkat 1,8% dibanding 2022. Pada 2023 China masih menjadi negara penghasil batu bara terbesar dengan produksi 4,43 miliar ton, setara 50,7% dari total produksi batu bara global. Di bawah China ada India dengan volume produksi batu bara 1,03 miliar ton pada 2023, setara 11,7% dari total produksi global. Kemudian Indonesia menjadi negara penghasil batu bara terbesar ke-3 di dunia, dengan volume produksi 725 juta ton atau 8,3% dari total produksi global. Hilirisasi batu bara dapat dilakukan dengan memproduksi berbagai produk turunan batu bara, seperti kokas, abu batu bara, dan gasifikasi batu bara.
• Hilirisasi nikel. Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Selain emas, telah dilansir dari Indonesia Baik Produksi Nikel di Indonesia. Menurut laporan Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), produksi nikel di dunia diperkirakan mencapai 3,3 juta metrik ton pada 2022. Jumlah itu meningkat 20,88% dibandingkan pada 2021 yang sebanyak 2,73 juta metrik ton. Selain itu, menurut laporan tersebut Indonesia menjadi penghasil nikel nomor satu. Total produksinya diperkirakan mencapai 1,6 juta metrik ton atau menyumbang 48,48% dari total produksi nikel global sepanjang tahun lalu. Selain unggul sebagai produsen, Indonesia tercatat sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia pada 2022 yakni mencapai 21 juta metrik ton. Hilirisasi nikel dapat dilakukan dengan memproduksi secara mandiri berbagai produk turunan nikel, seperti baja tahan karat, baterai, dan magnet.
Selain itu, ada juga istilah hilirisasi digital sistem keamanan dan pertahanan mengingat massifnya dunia digitalisasi dalam mempengaruhi dunia global. Dengan hilirisasi, Indonesia dapat mengurangi jumlah pengangguran, dan meningkatkan pendapatan masyarakat ditengah meningkatnya persentase koleksi lulusan sarjana yang markir. Mendorong hilirisasi sebagai upaya mendepak dikte narasi kolonial merupakan langkah yang tepat. Hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam Indonesia, mengurangi ketergantungan pada impor barang jadi, dan seyogyanya menciptakan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat lokal dan tetap memperhatikan hak-hak masyarakat adat. Namun, upaya ini perlu dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Juga disamping sumber daya alam yang melimpah, sumber daya manusia tak kalah penting perlu difasilitasi dengan baik bahkan diapresiasi agar dapat menciptakan iklim yang optimis, support dan inovatif. Pemerintah perlu menerapkan berbagai kebijakan yang mendukung hilirisasi, juga memperhatikan keseimbangan ekosistem dengan bekerja sama dengan pihak swasta dan masyarakat. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hilirisasi sebagai dorongan motivasi yang tinggi buat rakyat. Serta memberikan edukasi kepada masyarakat tentang manfaat hilirisasi.
Penulis
Fian Anawagis
Seorang Penggerak Go Talk
Kanal Pemuda/I Progressif
