Psikologis dalam Framing Media Masyarakat Kekinian pada Debat Capres Ketiga
Debat capres ketiga yang digelar pada
tanggal 7 Januari 2024, memperlihatkan para capres terlihat interaktif, ada yang cenderung bersifat
oposisi dan memberikan rating rendah pada kinerja capres lainnya yang juga
diketahui masih menjabat sebagai Menteri pertahanan kabinet Indonesia maju juga menjadi topik utama dalam pembahasan debat. Juga seolah menggalang dan mempertegas perhatian satu sama lain dengan menanyakan transparansi anggaran dan berapa jumlah rating yang pantas
dari skala angka 100, sebetulnya tidak ada yang keliru melihat mereka berdialektika perihal transparansi anggaran ke publik, namun ada pemandangan yang menyebabkan pada akhir sesi terlihat menampakkan kesan disharmonisasi. Penulis tidak pernah fanatik sama sekalipun
terhadap salah satu paslon, karena penulis percaya mereka bisa berada disana karena memiliki kapasitas dan kapabilitas masing-masing untuk mengisi posisi itu. Namun penulis cenderung tertarik melihat fenomena dan framing yang terbentuk di kalangan masyarakat kekinian khususnya dikomandoi gen z atas pertimbangan etika yang terjadi dalam gejolak debat capres ketiga tempo hari lalu.
Pertimbangan etika dalam debat capres cukup menimbulkan
kontroversi. Sebab ada pihak yang terlalu berlebihan dalam mengkritisi kinerja seolah-olah sebagai
oposisi garis keras. Sehingga berkembanglah sebuah opini pada masyarakat yang digiring oleh golongan milenial gen z pada framing adab dan
etikabilitas. Penulis masih berasumsi dalam ranah etik para capres antara penilaian dan gestur dilakukan dengan spontan karena atmosfer di podium atau disengaja. Beberapa simpatisan merasa kecewa dengan sikap dari capres karena
dinilai tidak menunjukkan sikap yang santun dan elegan satu sama lain. Namun, yang pertama menurut teori
kepribadian, setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Ada orang
yang memiliki kepribadian yang agresif, ada yang memiliki kepribadian yang
pasif, ada yang memiliki kepribadian yang ekstrovert, ada yang memiliki
kepribadian yang introvert, dan sebagainya. Tindakan ini dapat
diinterpretasikan sebagai bentuk dari kepribadian yang agresif. Orang yang
agresif cenderung memiliki sikap yang dominan, suka mengontrol orang lain, dan
suka mengekspresikan diri dengan cara yang tidak segan-segan. Tindakan memberikan rating
rendah kepada capres lain dan gestur menolak bersalaman dapat diinterpretasikan sebagai bentuk dari sikap
dominan dan suka mengontrol orang lain.
Kedua, tindakan kontroversial pada debat ketiga tersebut dapat dianalisis dari perspektif psikologi sosial, personal. Menurut teori psikologi sosial, perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti norma sosial, nilai sosial, dan harapan sosial. Alih-alih menyampaikan gagasan dan program, justru dua capres lainnya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menyerang dan menilai kinerja dengan mematok angka yang mana hak menilai tersebut terletak pada kewenangan masyarakat secara umum. Menurut Sigmund Freud, ego adalah salah satu struktur kepribadian yang berperan dalam mengendalikan dorongan-dorongan nafsu. Ego juga berperan dalam menjaga keseimbangan antara id dan superego. Dalam jejak digital debat pilpres ketiga, ego tampaknya telah dikuasai oleh dorongan nafsu untuk memenangkan pemilu. Hal ini menyebabkan capres melakukan tindakan yang kurang etis dan bukan pada porsinya, yaitu menyerang capres lain melalui skor yang mengucilkan kinerja. Menurut psikolog Leon Festinger, telah terjadi dissonance cognitive yaitu kondisi psikologis yang terjadi ketika seseorang memiliki dua keyakinan atau tindakan yang saling bertentangan. Keyakinan pertama adalah bahwa ia adalah sosok yang santun dan elegan. Keyakinan kedua adalah bahwa ia harus menyerang capres lain untuk memenangkan prosesi panggung pemilu. Kondisi dissonance cognitive ini menyebabkan salah satu capres melakukan tindakan yang tidak konsisten dengan keyakinannya. Ada yang melakukan serangan yang menjatuhkan terhadap capres lain, juga ada yang menunjukkan gestur berpaling untuk salaman di sesi akhir, padahal personalnya menganggap diri mereka sebagai sosok yang berwibawa, santun dan elegan. Tindakan demikian dalam debat capres ketiga menunjukkan celah masing-masing di mata publik.
Fenomena ini juga
menunjukkan bahwa ego dan dorongan nafsu dapat menyebabkan seseorang melakukan
tindakan yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Opini masyarakat cenderung menilai bahwa tidak
pantas menjatuhkan lawan politik dengan cara yang tidak elegan. Tindakan seperti memberikan
rating yang rendah dengan skala yang cukup jauh dengan sepihak setelah menyudutkan personal melalui kinerjanya diinterpretasikan sebagai upaya untuk
memenuhi harapan sosial. Dalam konteks politik Indonesia, capres yang kerap “terserang”
sering digambarkan sebagai sosok yang kuat dan berwibawa. Dengan memberikan
rating rendah, capres yang “menyerang” berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya akan lebih hegemonik di podium dan terlihat berwibawa. Namun adakalanya, capres yang diserang sengaja tidak banyak dalam bercakap apalagi berbicara mengenai hal yang riskan untuk keamanan Indonesia, karena tipe leadershipnya yang lebih condong kepada action dapat dilihat dari rekam jejak di kemiliteran yang cukup mentereng dengan prestasi-prestasinya.
Ketiga, tindakan demikian dapat dianalisis dari perspektif psikologi politik. Menurut psikologi politik, perilaku politik manusia dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis, seperti emosi, motivasi, dan persepsi. Boleh jadi berangkat dari kejadian debat sebelumnya serta semangat yang menggelora telah menghantarkan gestur tubuh yang fenomenal memancing perhatian publik. Tidak ada salahnya jika ingin berjoget dan gymmick namun menampilkan sesuatu yang tidak harmonis dikalangan publik seperti berpaling saat sesi salaman nampaknya kurang elegan untuk dipandang publik bagi sekelas negarawan.
Menurut hemat penulis, debat capres merupakan ajang untuk menyampaikan visi dan misi para calon presiden. Ajang tersebut seharusnya digunakan sebagai porsi khusus untuk mengemukakan gagasan dan program yang dapat membawa kemajuan bagi Indonesia secara profesional dan elegan. Bukan ajang skoring sepihak atau menampilkan ketidakharmonisan sesama negarawan sejati. Alexander de Great pada sebuah forum pernah mengutarakan untuk membuat dua garis tampak terlihat panjang, tidak usah menghapus salah satu dari garis yang lain, cukup fokus tambahi panjang nya. Agar para simpatisan yang terlalu fanatik buta tidak berlebihan dalam berperilaku pada salah satu Paslon.
Tendensi fenomena tersebut akan bermuara pada terma
“politik hitam” karena dapat berdampak negatif bagi demokrasi. Hal ini karena
“politik hitam” dapat menurunkan kualitas debat capres. Debat capres seharusnya
menjadi forum yang digunakan untuk menyampaikan visi dan misi calon presiden,
bukan untuk menjatuhkan lawan politik dengan cara yang tidak elegan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat
untuk bersikap kritis terhadap “politik hitam”. Masyarakat harus dapat
membedakan antara fakta dan opini, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi
yang keliru. Berdasarkan analisis psikologis di atas, dapat disimpulkan bahwa
tindakan memberikan rating rendah/menilai secara sepihak merupakan tindakan yang
kompleks dan seharusnya ditempatkan pada porsinya. Tindakan tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor kepribadian, sosial maupun politik yang dapat membuat polarisasi baru seperti perpecahan harusnya dihindari. Secara keseluruhan, tindakan tersebut adalah yang sesuatu yang kurang menawan untuk ditampilkan bagi sekelas negarawan dan
dapat menimbulkan konsekuensi negatif.
Penulis: Fian Anawagis (Mahasiswa Digital Neuropsikologi Universitas Insan Cita Indonesia).
