Menemukenali Konsep "Energi Baru Terbarukan" dan Era "Orde Baru Terbarukan"

 

 

Di tengah hiruk pikuk perubahan iklim, gaung "energi baru terbarukan" (EBT) menggema bagaikan mantra penyelamat. Harapan akan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan tertanam dalam setiap alternatif yang didirikan pada area pabrik yang mengerok sumber daya alam. Namun, di balik optimisme ini, tersembunyi sarkasme pahit yang menggerogoti fondasi narasi EBT. Ironisnya, kita berada pada era demokrasi namun terma "orde baru terbarukan” juga turut memberikan sarkasme nyata terhadap kondisi bangsa hari ini yang digembar-gemborkan pada opini publik, seolah tak jauh beda dengan pendahulunya: penuh janji dan ambisi, namun terhalang oleh realitas kompleks dan kontradiksi yang tak terelakkan. Negara-negara maju, yang gencar mendorong EBT, masih bergantung pada energi fosil. Di sisi lain, negara-negara berkembang, yang kaya akan potensi EBT, terhambat oleh keterbatasan teknologi, infrastruktur, dan pendanaan. Munculnya EBT berpotensi melahirkan "kapitalisme hijau", di mana perusahaan dan investor berlomba-lomba mengeksploitasi sumber energi baru. Ironisnya, eksploitasi ini tak jauh beda dengan yang dilakukan pada energi fosil, berpotensi merusak lingkungan dan memicu konflik sosial. Fokus berlebihan pada EBT berpotensi mengalihkan perhatian dari solusi yang lebih fundamental, seperti perubahan pola konsumsi dan gaya hidup. EBT tak ubahnya tambalan sementara, mengabaikan akar permasalahan krisis energi.

Di tengah hiruk pikuk isu perubahan iklim gembar-gembor tersebut, tersembunyi sebuah sarkasme pahit yang merujuk pada sistem pemerintahan yang seperti rasa lama orde baru tapi terbarukan. Frasa ini bukan tanpa makna, melainkan sebuah kritik pedas terhadap realitas yang terjadi.

Energi Baru, Benarkah Baru?

Mari kita telusuri lebih dalam makna "energi baru". Benarkah energi ini baru? Faktanya, energi matahari, angin, dan air sudah dimanfaatkan manusia sejak berabad-abad lampau. Teknologi untuk memanfaatkan energi ini pun bukan hal baru.

Lantas, apa yang "baru"? Jawabannya terletak pada intensi dan skala pemanfaatan. Kini, energi terbarukan didorong sebagai solusi utama untuk menggantikan energi fosil. Di sinilah letak sarkasmenya: energi yang "baru" ini hanyalah versi "lama" yang dikemas ulang dengan label "hijau" dan "berkelanjutan". Dalam gencarnya isu krisis iklim, upaya aktivis lingkungan untuk menjaga sekitar area mereka juga terancam sewaktu-waktu akan kriminalisasi.

Orde Baru Terbarukan: Kembali ke Masa Lalu dengan Kemasan Baru?

Frasa "orde baru terbarukan" mengandung kritik terhadap cara pandang dan kebijakan yang mendasari transisi era. Alih-alih mendorong perubahan sistemik yang adil dan berkelanjutan, fokusnya terpaku pada teknologi dan solusi teknokratik. Seperti UU ITE misalnya.

Sarkasmenya terletak pada kemiripannya dengan rezim Orde Baru di Indonesia. Di masa lalu, pembangunan ekonomi dikejar dengan mengabaikan hak-hak rakyat dan kerusakan lingkungan. Kini, dalam transisi energi, pola yang sama terulang: sentralisasi, privatisasi, dan pengabaian keadilan sosial. Serta bentuk kriminalisasi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap para aktivis lingkungan yang membela kepentingan wahana hidup masyarakat yang berkelanjutan.

Solusi Semu dan Janji Kosong

Energi terbarukan memang penting, tapi bukan solusi ajaib. Membangun infrastruktur energi terbarukan dalam skala besar membutuhkan biaya yang besar pula. Pertanyaannya, siapa yang akan menanggung beban ini? Apakah rakyat kecil yang akan kembali dikorbankan?

Janji-janji tentang kemandirian energi dan keadilan sosial pun patut diragukan. Di balik label "hijau", terdapat kepentingan korporasi dan elit politik yang ingin mendominasi pasar energi terbarukan.

Sarkasme "energi baru terbarukan dan orde baru terbarukan" merupakan kritik terhadap transisi energi dan era pemerintahan yang kurang adil dan tidak berkelanjutan. Kita perlu mewaspadai jebakan solusi semu dan janji kosong. Transisi energi haruslah didorong dengan prinsip keadilan sosial, demokrasi, dan keberlanjutan ekologis.

Hanya dengan perubahan sistemik yang mendasar, transisi energi dapat menjadi jalan menuju masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan. Sarkasme realitas ini merupakan tamparan keras bagi kita semua. Kita harus waspada terhadap manipulasi dan propaganda, dan berani menuntut perubahan yang nyata. Kita membutuhkan energi yang adil dan berkelanjutan, serta tata kelola yang demokratis dan transparan. Hanya dengan kesadaran dan aksi kolektif, kita dapat mematahkan sarkasme realitas dan membangun masa depan yang lebih baik.


Penulis: Fian Anawagis (Mahasiswa Magister Antropologi UH)