Membongkar Dikotomi Istilah 'Tradisional vs Modern' dalam Geliat Materialisme Manusia Konsumtif

 

   Beberapa penganut etnosentrisme radikal menempatkan peradaban Barat sebagai superior dibandingkan Timur, dengan mengacu pada tingkat perkembangan materialnya, telah lama menjadi bahan perdebatan. Pandangan ini, yang seringkali dikaitkan dengan pandangan Euro-sentris, mengonstruksi sebuah dikotomi yang kaku antara tradisional dan modern, serta Timur dan Barat. Namun, jika ditelaah lebih dalam, dikotomi ini tidak hanya reduktif, tetapi juga mengabaikan kompleksitas sejarah dan budaya yang kaya dari kedua belahan dunia.

   White tampaknya mengukur peradaban semata-mata berdasarkan tingkat industrialisasi dan teknologi. Ia mengabaikan fakta bahwa "peradaban" adalah konsep yang multidimensi, mencakup aspek-aspek seperti nilai-nilai moral, sistem sosial, seni, dan pengetahuan. Dengan demikian, klaimnya bahwa Barat lebih beradaban karena tingkat konsumsi dan produksi materialnya yang tinggi, adalah sebuah generalisasi yang terlalu sederhana.

   Lebih lanjut pada studi kasus tentang seks bebas di Barat dan masalah kesehatan seperti diabetes di kota-kota besar akibat konsumerisme berlebihan, sebenarnya lebih mencerminkan tantangan dihadapi oleh masyarakat yang menamai kaumnya modern, daripada menjadi bukti keunggulan peradaban Barat. Seks bebas dan masalah kesehatan adalah isu kompleks yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan mengacu pada perbedaan antara Timur dan Barat. Beradab dan Biadab.

  Banyak masyarakat yang dianggap tradisional di kawasan pedalaman telah memiliki sistem nilai dan praktik sosial yang kompleks dalam mengatur pranata sosialnya. Semisal menjaga adat istiadat setempat untuk mengatur hubungan seksual dan menjaga kesehatan masyarakat bahkan keseimbangan hidup dengan alam semesta. Sementara itu, beberapa masyarakat menyebut kaumnya sebagai modern dengan segala kemajuan teknologinya, masih bergumul dengan masalah kesehatan mental dan sosial yang serius. Dalam hal ini penulis lebih sepakat jika dikatakan lokal dan global dibanding dikotomi tradisional vs modern seringkali digunakan untuk membenarkan dominasi Barat dan mengesampingkan kontribusi dari budaya lain. Padahal, banyak nilai dan praktik tradisional yang masih relevan dan berharga hingga saat ini. Misalnya, konsep keseimbangan antara manusia dan alam, yang sering ditemukan dalam banyak budaya Timur, semakin relevan dalam konteks krisis lingkungan saat ini.

   Selain itu, pandangan bahwa modernitas adalah satu-satunya jalan menuju kemajuan adalah sebuah mitos. Banyak masyarakat tradisional telah berhasil beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa mengorbankan identitas budaya mereka. Mereka telah menunjukkan bahwa modernisasi tidak harus berarti meninggalkan akar budaya. Suku Kajang misalnya, diakui oleh dunia sebagai penjaga hutan terbaik dalam sistem pranata sosialnya.

  Teori Leslie White tentang superioritas peradaban Barat adalah sebuah contoh dari bagaimana pandangan Euro-sentris dapat membentuk pemahaman kita tentang sejarah dan budaya. Dengan mengkritik dikotomi tradisional vs modern, kita dapat membuka ruang untuk pemahaman yang lebih nuansa dan inklusif tentang keragaman budaya manusia. Dalam era globalisasi, kita perlu mewaspadai segala bentuk generalisasi dan stereotipe yang dapat mengarah pada diskriminasi dan ketidakadilan. Setiap budaya memiliki nilai-nilai dan kekuatannya sendiri, dan kita perlu saling belajar dan menghargai perbedaan kita.

 Beranjak dari hal itu dalam Surah Ibrahim, terdapat pesan penting tentang bahaya menyembah berhala dan fanatisme. Dalam konteks modern, makna “berhala” tidak hanya terbatas pada patung, tetapi dapat merujuk pada berbagai hal yang dipuja secara berlebihan, seperti harta, kekuasaan, atau ideologi yang berujung mengakibatkan kemudaratan. Fanatisme, di sisi lain, merupakan sikap berlebihan dalam mendukung suatu kelompok atau ideologi, sehingga mengaburkan objektivitas dan toleransi. Turner tentang “communitas” dan “liminality” memahami ancaman menyembah berhala dan fanatisme. Communitas mengacu pada kondisi sosial yang ditandai dengan kesatuan, kesetaraan, dan solidaritas. Di sisi lain, liminality adalah fase transisi di mana struktur dan nilai-nilai sosial menjadi kabur dan cair. Menyembah berhala, dalam arti luas, dapat menjebak manusia dalam liminality permanen. Ketika manusia terobsesi dengan hal-hal duniawi, seperti konsumerisme berlebihan mereka kehilangan sense of communitas dan terjebak dalam individualisme dan kesombongan bahkan terkena penyakit peradaban (Tena leburang). Keinginan untuk mencapai status dan pengakuan melalui harta, kekuasaan, atau ideologi tertentu dapat memicu fanatisme dan perpecahan. Fanatisme, menurut Turner, merupakan bentuk "anti-communitas" yang memicu ketegangan dan konflik. Fanatisme terhadap suatu kelompok atau ideologi tertentu dapat mendorong manusia untuk menindas dan memarginalisasi kelompok lain. Hal ini menghancurkan rasa persatuan dan solidaritas dalam masyarakat.

Menyelami makna 'berhala' dan fanatisme kini

   Surah Ibrahim dalam Al-Qur'an mengandung pesan penting tentang bahaya menyembah berhala dan fanatisme. Surah Ibrahim mencela penyembahan berhala sebagai bentuk kesesatan dan kemusyrikan. (1-3) dan (20-24) menegaskan keesaan Allah dan menentang segala bentuk penyembahan selain kepada-Nya. Sedangkan Fanatisme didefinisikan sebagai kesetiaan berlebihan terhadap suatu kelompok atau ideologi. Dalam Surah Ibrahim, fanatisme dikritik melalui kisah Nabi Ibrahim yang menolak mengikuti tradisi nenek moyangnya yang menyembah berhala. (A35-41). Turner, menambahkan dalam teori tentang ritual dan simbolisme. Menurutnya, ritual adalah tindakan simbolis yang menghubungkan manusia dengan dunia supernatural dan memperkuat solidaritas sosial. Simbolisme digunakan dalam ritual untuk mewakili makna dan nilai-nilai yang penting bagi suatu masyarakat. Berdasarkan teori Turner, menyembah berhala dapat dilihat sebagai ritual yang menghubungkan manusia dengan dewa-dewa yang disembah. Simbol-simbol berhala mewakili kekuatan dan nilai-nilai yang dianggap penting oleh masyarakat penyembah berhala. Fanatisme juga dapat dilihat sebagai bentuk ritual yang memperkuat solidaritas kelompok. Simbol-simbol kelompok, seperti bendera atau slogan, digunakan untuk mempersatukan anggota kelompok dan membedakan mereka dari kelompok lain. Surah Ibrahim menawarkan solusi untuk mengatasi ancaman ini dengan menekankan pentingnya tauhid dan toleransi.

   Pengakuan terhadap keesaan Allah dan kesadaran bahwa semua manusia adalah ciptaan-Nya dapat menumbuhkan rasa persatuan dan kesetaraan. Toleransi terhadap perbedaan pendapat dan keyakinan menjadi kunci untuk membangun communitas yang harmonis. Menyembah berhala dan fanatisme dapat membawa dampak negatif bagi individu dan masyarakat seperti kehilangan akal sehat dan bertindak irasional, melakukan tindakan kekerasan terhadap kelompok lain, serta menyebabkan perpecahan dan konflik dalam masyarakat. Surah Ibrahim menawarkan solusi untuk mengatasi bahaya menyembah berhala dan fanatisme. Yakni Tauhid untuk Memperkuat keyakinan kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang patut disembah, Memanfaatkan akal sehat untuk memahami kebenaran dan menghindari kesesatan dan Toleransi Menghargai perbedaan dan hidup damai dengan kelompok lain.

      Menyembah berhala dan fanatisme adalah dua bahaya yang dapat membawa dampak negatif bagi individu dan masyarakat. Kedua fenomena ini dapat merusak tatanan sosial dan memicu konflik. Dengan kembali kepada nilai-nilai tauhid dan toleransi, manusia dapat membangun communitas yang damai dan harmonis.*


Penulis: *Fian Anawagis (Mahasiswa Magister Antropologi Unhas)