Kegelapan Perut Paus dan Kebutaan Pemimpin Arab: Sebuah Refleksi dari Kisah Nabi Yunus
Kisah Nabi Yunus ditelan paus merupakan salah
satu kisah paling ikonik dalam Al-Quran. Kisah ini sarat dengan makna dan
pelajaran, salah satunya tentang kegelapan dan kebingungan yang melanda manusia
ketika dihadapkan dengan konsekuensi dari perbuatannya, memberikan pelajaran berharga tentang konsekuensi dari keengganan untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab. Dalam konteks modern, kisah ini dapat dianalogikan dengan sikap pemimpin Arab saat ini terhadap isu Palestina.
Di dalam perut paus, Nabi Yunus merasakan
kegelapan total. Ia terisolasi dari dunia luar, dikelilingi oleh keheningan
yang mencekam, dan diliputi oleh rasa takut dan penyesalan akibat hukuman meninggalkan kaumnya. Situasi ini
bagaikan gambaran realitas pemimpin Arab hari ini yang menutup mata terhadap
penderitaan rakyat Palestina, dan rela melihat para hafidz dibantai kemanusiaannya.
Kegelapan Perut Paus: Sebuah Metafora
Kebutaan Moral
Kegelapan perut paus dapat diinterpretasikan sebagai metafora kebutaan moral yang melanda pemimpin Arab. Mereka menutup mata terhadap penindasan dan pelanggaran hak asasi manusia yang dialami rakyat Palestina. Mereka lebih memilih untuk berdiam diri dan berpihak kepada Israel demi keuntungan pribadi dan politik karena dihadapkan dengan ketakutan akan konsekuensi politik dan ekonomi, terutama embargo dari negara-negara Barat dan Israel. Ketakutan ini didasari oleh realitas geopolitik yang timpang. Negara-negara Arab umumnya memiliki kekuatan ekonomi dan militer yang lebih lemah dibandingkan dengan Israel dan sekutunya. Embargo ekonomi dapat melumpuhkan ekonomi negara-negara Arab dan memperburuk kondisi rakyatnya. Kebutaan moral ini dibuktikan dengan sikap mereka yang tidak tegas dalam membela Palestina. Mereka enggan untuk mengambil langkah nyata untuk menghentikan pendudukan Israel dan membantu rakyat Palestina meraih kemerdekaan. Hal ini dalam kacamata hubungan internasional disebut sebagai Realisme, yang menekankan pada kekuatan dan kepentingan nasional, memprediksi bahwa pemimpin Arab akan lebih memilih untuk menjaga hubungan dengan negara-negara Barat dan Israel demi stabilitas dan keamanan negaranya. Liberalisme, yang berfokus pada kerjasama dan norma internasional, menawarkan harapan bahwa pemimpin Arab dapat didorong oleh nilai-nilai kemanusiaan dan moral untuk mengambil sikap yang lebih tegas dalam mendukung Palestina. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa realisme masih menjadi faktor dominan dalam pertimbangan pemimpin Arab. Rasa takut akan konsekuensi embargo lebih kuat daripada rasa tanggung jawab moral untuk membela rakyat Palestina.
Kebingungan dan Penyesalan:
Sebuah Peringatan
Kebingungan dan penyesalan yang dirasakan Nabi
Yunus di dalam perut paus adalah peringatan bagi pemimpin Arab. Mereka harus
segera menyadari konsekuensi dari tindakan mereka dan kembali ke jalan yang
benar.
Pemimpin Arab harus membuka mata mereka
terhadap penderitaan rakyat Palestina dan mengambil langkah nyata untuk membela
mereka. Mereka harus berani melawan penindasan Israel dan memperjuangkan
keadilan bagi rakyat Palestina.
Cahaya Harapan: Sebuah
Kemungkinan untuk Masa Depan yang Lebih Baik
Kisah Nabi Yunus baik dalam surah Yunus maupun As-Shaffat, juga memberikan secercah
harapan. Meskipun Nabi Yunus berada dalam situasi yang sangat sulit, dia tidak
pernah kehilangan iman dan terus berdoa kepada Allah SWT. Pada akhirnya, Allah
SWT menyelamatkannya dari perut paus.
Situasi ini dapat berubah jika ada perubahan signifikan dalam struktur kekuatan global. Jika negara-negara Arab mampu memperkuat persatuan dan kekuatannya, mereka akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam menghadapi Israel dan negara-negara Barat. Meskipun pemimpin
Arab saat ini berada dalam kegelapan moral, masih ada harapan untuk masa depan
yang lebih baik sebelum makna metafora betul-betul berubah menjadi makna sebenarnya (kehancuran dunia). Mungkin, Jika negara-negara Arab membuka hati dan pikiran mereka, mereka dapat
menemukan jalan yang benar dan membantu rakyat Palestina meraih kemerdekaan.
Kisah Nabi Yunus adalah sebuah kisah yang penuh dengan makna dan pelajaran. Kisah ini dapat menjadi pengingat bagi pemimpin Arab untuk selalu berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan kemanusiaan, dan untuk selalu membela mereka yang tertindas. Kisah Nabi Yunus ditelan paus adalah sebuah kisah yang abadi dan relevan dengan situasi yang dihadapi rakyat Palestina saat ini. Kisah ini adalah sebuah pengingat bagi pemimpin Arab untuk membuka mata mereka terhadap penderitaan rakyat Palestina dan mengambil langkah nyata untuk membela mereka. Kisah Nabi Yunus menjadi pengingat bahwa ketakutan tidak boleh menjadi alasan untuk menunda atau menghindari tanggung jawab. Pemimpin Arab harus berani mengambil sikap yang tegas dalam membela rakyat Palestina, meskipun itu berarti menghadapi konsekuensi yang sulit. Dilema pemimpin Arab dalam membela Palestina adalah contoh bagaimana realitas geopolitik dan ketakutan dapat mengalahkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Situasi ini dapat berubah jika ada perubahan signifikan dalam struktur kekuatan global dan tekanan dari rakyat Arab atau semua yang merasa kemanusiaan itu masih diatas segala peraturan yang dibuat manusia itu sendiri.
Wallahualambisshowab
Kultum Ramadan #13
Fian Anawagis (Mahasiswa Magister Antropologi UH)
