Nikmat Allah yang tak Dapat Dijangkau Logika dan Hukuman bagi yang Kufur
Nikmat Allah tidak terhitung jumlahnya. Menegaskan bahwa Allah SWT
telah memberikan begitu banyak nikmat kepada manusia, baik yang disadari maupun
tidak. Nikmat-nikmat tersebut meliputi nikmat iman, nikmat kesehatan, nikmat
akal, nikmat keluarga, nikmat rezeki, dan masih banyak lagi. Ibnu Sina dan Al-Ghazali, menawarkan cara pandang menarik untuk memahami nikmat Allah. Ibnu Sina, dalam bukunya “The Canon of Medicine”, menjelaskan bahwa kesehatan merupakan nikmat yang tak ternilai harganya. Kesehatan memungkinkan manusia untuk beraktivitas dan menikmati hidup. Al-Ghazali, dalam bukunya “The Revival of the Religious Sciences”, menekankan bahwa nikmat iman merupakan nikmat yang paling utama. Iman memberikan ketenangan jiwa dan menuntun manusia kepada jalan yang benar.
Jika ditilik dari kacamata Bertrand Russell,
akan mendefinisikan nikmat Allah, sebagai proposisi yang dapat diverifikasi
kebenarannya. Dalam hal ini, proposisi tersebut adalah pernyataan bahwa Allah
SWT telah memberikan banyak nikmat kepada manusia. Bukti-bukti kebenaran
proposisi ini dapat dilihat dari keberadaan alam semesta, kehidupan manusia,
dan berbagai kenikmatan yang Allah berikan. Juga Bertrand Russell, dalam bukunya "The Problems of Philosophy", mendefinisikan "keberadaan" sebagai sesuatu yang dapat dibuktikan dengan pengalaman. Dalam konteks nikmat Allah, pengalaman manusia akan kesehatan, keindahan alam, dan kasih sayang merupakan bukti nyata keberadaan-Nya.
Bagi orang yang kufur, mereka tidak mau
mengakui nikmat Allah SWT. Mereka mengingkari keberadaan Allah dan menganggap
bahwa semua yang ada di dunia ini adalah kebetulan semata. Menurut Russell, orang
yang kufur ini memiliki penalaran yang tidak logis. Mereka menolak proposisi
tentang nikmat Allah tanpa memberikan bukti yang kuat.
Di balik nikmat yang tak terhingga, Allah SWT juga mengingatkan tentang konsekuensi bagi mereka yang kufur. Dalam potongan surat Ar-Ra'd ayat 11, Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
Ayat ini menegaskan bahwa manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih kufur atau iman. Konsekuensi dari kufur adalah azab Allah SWT di dunia dan akhirat. John Stuart Mill, dalam bukunya "On Liberty", membahas tentang prinsip "kebebasan terbesar bagi individu." Namun, Mill juga menekankan bahwa kebebasan individu tidak boleh merugikan orang lain. Dalam konteks kufur, pilihan untuk kufur dapat membawa dampak negatif bagi diri sendiri dan orang lain. Hukuman bagi orang yang kufur adalah azab di neraka. Allah SWT telah menjelaskan dalam Al-Qur'an bahwa orang yang kufur akan merasakan siksaan yang pedih di neraka. Hal ini sesuai dengan logika, karena orang yang kufur telah mengingkari nikmat Allah dan tidak mau bersyukur. Diverifikasi kebenarannya dengan melihat bukti-bukti di alam semesta dan kehidupan manusia. Sedangkan Ibnu Sina, dalam bukunya “The Book of Healing”, menjelaskan bahwa kufur dapat menyebabkan berbagai penyakit mental dan fisik. Al-Ghazali, dalam “The Incoherence of the Philosophers”, juga menegaskan bahwa kufur akan membawa manusia kepada kesesatan dan kegelapan.
Surat Ar-Ra’d mengajak manusia untuk merenungkan nikmat-nikmat Allah dan mensyukurinya. Di sisi lain, Allah telah menyediakan balasan yang setimpal bagi mereka yang kufur dan mengingkari nikmat-nikmat tersebut. Secara matematis Nikmat Allah SWT tidak akan pernah bisa terhitung jumlahnya dan dapat diverifikasi kebenarannya dengan logika. Orang yang kufur adalah orang yang tidak mau mengakui nikmat Allah dan memiliki penalaran yang tidak logis. Hukuman bagi orang yang kufur adalah azab di neraka.
Surah Ar-Ra'd memberikan gambaran tentang nikmat Allah yang tak terhingga dan konsekuensi bagi mereka yang kufur. Menyadari nikmat Allah dan konsekuensi kufur merupakan langkah awal untuk meningkatkan rasa syukur dan keimanan. Dengan memahami keesaan Allah dan kebesaran-Nya, manusia dapat menjalani hidup dengan penuh rasa syukur dan ketaatan.
Barokallohufiqum
Kultum Ramadan #14
Fian Anawagis (Mahasiswa Magister Antropologi UH)
