Kritik atas Materialisme, Hedonisme (Tuhan-Tuhan Kecil di Dunia)

 


Surah At-Taubah dalam Al-Quran mengandung kritik keras terhadap kemusyrikan apalagi menuhankan benda-benda materialisme karena perilaku hedonisme, dua penyakit sosial yang merajalela di berbagai zaman, termasuk era modern. Kritik ini selaras dengan pemikiran Georg Simmel, seorang sosiolog ternama, tentang dampak negatif dari materialisme dan hedonisme terhadap individu dan masyarakat.

Materialisme, menurut Simmel, adalah kecenderungan untuk mendefinisikan diri dan nilai-nilai berdasarkan kepemilikan benda. Hedonisme, di sisi lain, adalah pengejaran kesenangan dan kepuasan semata sebagai tujuan hidup. Kedua ideologi ini, menurut Simmel, dapat mengantarkan manusia pada alienasi, kecemasan, dan krisis makna.

Surah At-Taubah mengkritik materialisme dengan menegaskan bahwa harta benda bukanlah tujuan hidup manusia. Ayat 36 menyatakan, "Dan janganlah kamu sekali-kali mengingini apa yang telah dianugerahkan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada apa yang telah dianugerahkan-Nya kepada sebagian yang lain. Kepada laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan kepada perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah kepada Allah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."

Ayat ini mengingatkan bahwa harta benda adalah titipan Allah dan tidak patut dijadikan sumber kesombongan atau iri hati. Manusia harus fokus pada tujuan hidup yang lebih tinggi, yaitu mencari keridhaan Allah.

Surah At-Taubah juga mengkritik hedonisme dengan menekankan pentingnya kesabaran dan ketahanan dalam menghadapi godaan duniawi. Ayat 118 menyatakan, "Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan sekuat tenaga(mu). Sesungguhnya Allah telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan bagimu suatu kesempitan dalam agama(mu). Ikutilah agama orang tuamu Ibrahim yang telah dibersihkan Allah baginya dan dinamai-Nya dengan nama itu (Islam) sebelum(nya) dan di dalam Al Quran ini dan di dalam Kitab(kitab) yang diturunkan dahulu."

Ayat ini mendorong manusia untuk berjuang melawan hawa nafsu dan fokus pada tujuan yang lebih mulia. Hedonisme, dengan fokusnya pada kesenangan sesaat, hanya akan mengantarkan manusia pada kekecewaan dan kehampaan.

Simmel, dalam teorinya, menjelaskan bagaimana materialisme dan hedonisme dapat memicu alienasi. Ketika manusia terobsesi dengan harta benda dan kesenangan, mereka kehilangan koneksi dengan diri mereka sendiri, dengan orang lain, dan dengan makna hidup. Hal ini dapat menyebabkan disparitas dan disorientasi. Simmel juga menunjukkan bagaimana materialisme dan hedonisme dapat merusak tatanan sosial. Ketika individu fokus pada keuntungan pribadi dan kesenangan semata, mereka cenderung mengabaikan tanggung jawab sosial mereka. Hal ini dapat menyebabkan melemahnya solidaritas, meningkatnya egoisme, dan runtuhnya nilai-nilai moral.

Kritik surah At-Taubah terhadap materialisme dan hedonisme sejalan dengan pemikiran Simmel. Keduanya menawarkan solusi yang serupa, yaitu fokus pada nilai-nilai spiritual, kesabaran, dan perjuangan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Dengan demikian, manusia dapat mencapai kebahagiaan sejati dan membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. surah At-Taubah dan pemikiran Simmel menawarkan kritik yang kuat terhadap materialisme dan hedonisme. Keduanya menunjukkan bahwa ideologi ini dapat membawa dampak negatif bagi individu dan masyarakat. Dengan memahami kritik ini, kita dapat membebaskan diri dari belenggu materialisme dan hedonisme dan membangun kehidupan yang lebih bermakna dan bermoral.


Wallahualambisshowab

Kultum Ramadan #12

Fian Anawagis (Mahasiswa Magister Antropologi UH)