Titik Temu Kisah Paralel Pembangkangan Iblis dalam Surah Al Araf, Al Hijr dan Negara Api dalam Avatar: The Last Airbender
Kisah pembangkangan iblis dalam surah Al Araf memiliki relevansi yang signifikan dengan negara api dalam seri Avatar: The Last Airbender. Kedua kisah ini menceritakan tentang kesombongan yang membawa kehancuran dan pengasingan. Setan menolak untuk bersujud kepada Adam atas dasar kesombongannya. Ia merasa lebih superior karena diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Kesombongan ini membuatnya terkutuk dan diusir dari surga. Sedangkan Negara api dalam Avatar: The Last Airbender terobsesi dengan kekuatan dan dominasi. Mereka melancarkan perang terhadap bangsa lain untuk memperluas kekuasaannya. Kesombongan ini ultimately leads to their downfall. Baik Negara Api maupun Iblis memiliki rasa superioritas yang tinggi. Negara Api menganggap diri mereka sebagai bangsa terkuat dan berhak menguasai dunia, sedangkan Iblis merasa lebih mulia daripada Adam karena terbuat dari api juga penolakan terhadap otoritas pada yang menciptakan alam semesta dan lebih mengetahui sebab musabab, menjadikan Iblis menolak perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Adam dan ingin menggoda anak cucu Adam dan Hawa pada kesesatan, sedangkan Negara Api menentang keseimbangan dunia dengan berusaha menguasai semua elemen menguasai seluruh dunia dan menaklukkan semua bangsa.
Namun di masa sekarang ini bukan hanya sekedar gambaran anime/fiksi negara api dalam Avatar yang berlaku demikian, akan tetapi di dunia nyata
berbagai genosida banyak dilakukan oleh kelompok-kelompok yang merasa dirinya
superior dan menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan, naudzubillahi mindzalik
untuk zionis. Hal demikian menurut Weber dalam konsep "rasionalitas
instrumental", di mana individu bertindak berdasarkan perhitungan untung
rugi. Menggunakan rasionalitas instrumental untuk mencapai tujuan dengan cara merasa
paling istimewa, militeristik dan eksploitatif.
Kisah pembangkangan setan dalam surah Al Araf
dan negara api dalam Avatar: The Last Airbender menunjukkan bahwa kesombongan
dapat membawa kehancuran. Kesombongan individu maupun kolektif dapat
mengakibatkan konsekuensi yang fatal. Kedua kisah ini menekankan pentingnya
nilai-nilai moral seperti kerendahan hati, kesetaraan, dan keadilan.
Nilai-nilai ini penting untuk membangun masyarakat yang harmonis dan damai. ini
menjadi pengingat bagi kita untuk selalu menjaga diri dari kesombongan dan
membangun masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai moral. Kesombongan dan ambisi
yang berlebihan dapat membawa kehancuran. Kita harus selalu rendah hati dan
menjaga keseimbangan dalam hidup.
Doa yang terbaik untuk korban pembantaian/genosida pada saudara-saudara
kita di Palestina.
Wallahualambisshowab
Kultum Ramadan #9
Fian Anawagis (C.E.O Sulapa Appa Studi Indonesia)
.png)