Bias dalam Menjunjung Tinggi SportifiVAR pada Laga Indonesia Kontra Uzbekistan
Pertandingan sepak bola antara Indonesia dan Uzbekistan diwarnai dengan penggunaan VAR (Video Assistant Referee) yang memicu berbagai reaksi dan interpretasi. Penggunaan VAR (Video Assistant Referee) dalam pertandingan liga U-23 piala Asia, Uzbekistan vs Indonesia banyak memicu kontroversi dan kritikan, khususnya terkait keputusan wasit yang nampaknya lebih condong pada pihak Uzbekistan ketimbang Indonesia. Dalam hal ini, menurut Robert Cialdini, psikolog Amerika, tekanan sosial dapat memengaruhi perilaku individu. Dalam pertandingan sepak bola, wasit dapat merasakan tekanan sosial yang signifikan dari berbagai pihak, seperti penonton, media sosial, dan federasi sepak bola. Tekanan ini dapat memengaruhi pengambilan keputusan mereka, terutama saat menggunakan VAR, dalam riwayat terakhir dua orang wasit yang memimpin laga ini memiliki rekam jejak menohok terhadap berlangsungnya laga Indonesia. Tambah Daniel Kahneman menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mencari informasi yang mendukung keyakinan mereka (konfirmasi bias). Wasit dalam pertandingan sepak bola menghadapi tekanan psikologis yang tinggi. Mereka harus mengambil keputusan cepat dan akurat di tengah atmosfer pertandingan yang penuh emosi dan sorak-sorai penonton. Tekanan ini dapat memengaruhi penilaian mereka dan memicu bias kognitif, seperti confirmation bias dan anchoring bias.
Confirmation bias adalah kecenderungan untuk mencari dan menginterpretasi informasi yang mendukung keyakinan yang sudah ada, sehingga mengabaikan informasi yang bertentangan. Dalam konteks VAR, confirmation bias dapat membuat wasit lebih mudah terpengaruh oleh tayangan ulang VAR yang mendukung keputusannya, meskipun tayangan ulang tersebut tidak menunjukkan gambaran yang jelas.
Anchoring bias adalah kecenderungan untuk terlalu bergantung pada informasi awal yang diterima, sehingga mengabaikan informasi baru yang relevan. Dalam konteks VAR, anchoring bias dapat membuat wasit lebih mudah terpaku pada keputusan awal mereka, meskipun tayangan ulang VAR menunjukkan bukti yang bertentangan.
Dalam persoalan VAR, wasit mungkin secara tidak sadar mencari bukti yang mendukung keputusan awal mereka, bahkan jika bukti tersebut tidak cukup kuat. Namun nampaknya laga Indonesia kontra Uzbekistan terlihat memposisikan wasit pada kemenangan Uzbekistan, terlihat saat wasit menganulir gol pertama dari Indonesia yang membakar semangat para suporter kemudian berbalik pada jatuhnya mental pemain yang telah bereuforia kegirangan, dalam bahasa Makassarnya orang-orang sering menyebut "runtungi sumanga'na". Meskipun iya tak bisa dipungkiri persentase position ball lebih unggul pihak Uzbekistan. Ditambah lagi tempo permainan yang cukup menekan, dengan formasi sekitar 1/5 pemain naturalisasi pada Indonesia, kartu merah juga melayang diberikan kepada kapten Indonesia. Ditambah own goal yang dilakukan oleh defender yang semakin menguatkan mental lawan dan membuat permainan Indonesia terlihat menjadi sedikit lebih kacau dari babak sebelumnya.
Jika menilik sejarah VAR, itu dikembangkan saat salah satu pemain mentereng sepakbola internasional dengan gol ciamik tidak diakui karena keterbatasan wasit sebagai manusia melihat batas-batas garis lapangan, ataupun tangan dewa. Namun terkait konversi pengamatan manusia ke teknologi melalui dukungan VAR, Max Weber, menganggapnya dalam analogi sistem birokrasi dan rasionalisasi masyarakat modern dicirikan oleh struktur hierarkis, aturan formal, dan efisiensi. Rasionalisasi adalah proses di mana tindakan sosial menjadi lebih terstruktur dan sistematis. Penggunaan VAR dalam sepak bola dapat dilihat sebagai contoh birokrasi dan rasionalisasi. VAR menciptakan struktur hierarkis baru dalam pengambilan keputusan pertandingan, dengan otoritas yang terpusat pada tim VAR. Rasionalisasi VAR bertujuan untuk meningkatkan keakuratan dan konsistensi keputusan, namun juga dapat memicu kritik atas hilangnya elemen “manusia” dalam permainan.
Reaksi Netizen Indonesia dan Dampak Psikologisnya
Reaksi netizen Indonesia terhadap keputusan wasit yang merugikan Indonesia dalam pertandingan Uzbekistan vs Indonesia didominasi oleh kemarahan, kekecewaan, dan frustrasi. Menurut John Dollard, frustrasi dapat memicu agresi. Dalam konteks ini, frustrasi netizen Indonesia atas keputusan wasit yang tampaknya merugikan timnas Indonesia dapat memicu perilaku agresif, seperti bullying dan ujaran kebencian di media sosial. Leon Festinger, menjelaskan bahwa deprivasi relatif, yaitu perasaan dirugikan dibandingkan dengan orang lain, dapat memicu agresi. Dalam hal ini, netizen Indonesia mungkin merasa dirugikan oleh keputusan wasit yang dianggap tidak adil dan memicu perilaku agresif lewat cyberbullying terhadap wasit. Reaksi netizen Indonesia yang membuli dan melontarkan ujaran kebencian terhadap wasit dan tim Uzbekistan dapat memiliki dampak emosional dan psikologis yang negatif bagi mereka sendiri meskipun itu atas dalih nasionalisme. Hal ini dapat memicu stres, kecemasan, dan depresi. Hal yang berbeda akan terjadi jika sebaliknya, netizen Indonesia berada di posisi suporter Uzbekistan, kemungkinan besar mereka akan bereaksi dengan cara yang berbeda. Suporter Indonesia mungkin akan merasa senang dan gembira dengan keputusan wasit yang menguntungkan tim mereka. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap individu memiliki reaksi dan cara pandang yang berbeda-beda terhadap situasi tertentu.
Wallahualambisshowab
Fian Anawagis, bukan Bung Towel.
