Internalisasi Tren Shimmer dalam Konteks Meraih Kemenangan Haqiqi Idul Fitri


  Dalam beberapa waktu terakhir, tren shimmer telah menjadi fenomena di Indonesia. Tren ini identik dengan penggunaan busana, aksesoris, dan makeup yang berkilau dan gemerlap. Ditengarai berasal dari pengusaha perempuan yang sedang naik daun pada usaha kostum yang dibuatnya. Pada hari raya idul fitri tahun 2024, tren ini semakin populer setelah core ramadan yang unik menghiasi linimasa sosial media 30 hari terakhir, mencerminkan semangat keceriaan dan kebahagiaan di momen spesial ini. Selain secara eksistensial, kilauan dan gemerlap juga dapat diinterpretasikan sebagai simbolisasi "kemilau hati" dari dalam. Hati yang bersih dan suci setelah sebulan penuh berpuasa dan beramal saleh, memancarkan aura positif dan kebahagiaan. Tren Shimmer, yang merujuk pada penggunaan riasan berkilau dan berkilauan, telah menjadi tren kecantikan yang populer di berbagai platform media sosial. Tren ini tidak hanya mencerminkan estetika kekinian, tetapi juga memiliki makna metaforis yang relevan dengan internalisasi nilai spiritual pada momen Hari Raya Idul Fitri. Dalam Islam, hati yang bersih dan bercahaya sering dilambangkan dengan cahaya atau kilauan. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan Al-Ghazali pun membahas tentang konsep tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa) dan taqarrub ilallah (pendekatan diri kepada Allah). dilihat sebagai refleksi eksternal dari proses tazkiyah al-nafs. Ketika hati dihiasi dengan keimanan, ketakwaan, dan amal saleh, maka cahaya kebaikan tersebut terpancar keluar melalui penampilan dan perilaku. Kilauan shimmer menjadi simbol cahaya hati yang bersih dan suci. Oleh karena itu, tren Shimmer dapat dilihat sebagai representasi metaforis dari hati yang berkilau karena dihiasi dengan keimanan, ketakwaan, dan amal shaleh selama bulan Ramadhan. Kilauan tersebut melambangkan hati yang penuh dengan kebahagiaan, kedamaian, dan cinta kasih yang siap untuk dibagikan kepada sesama. Tambah Al-Ghazali, dalam “Ihya’ Ulumiddin”, menjelaskan bahwa hati manusia memiliki berbagai tingkatan, dan salah satu tingkatan tertinggi adalah “hati yang bersinar” (al-qalb al-munawwar). Hati yang bersinar ini adalah hati yang telah dibersihkan dari dosa dan maksiat, dan dihiasi dengan sifat-sifat terpuji seperti iman, taqwa, dan ihsan. Sedangkan Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, dalam “Madarij al-Salikin”, juga menjelaskan bahwa hati manusia bagaikan sebuah cermin. Ketika hati bersih dan bercahaya, maka ia akan memantulkan cahaya Allah SWT. Cahaya ini kemudian akan terpancar melalui perilaku dan tindakan manusia, yang mencerminkan keindahan dan kebaikan Islam.

 Dengan demikian, tren Shimmer dapat dilihat sebagai sebuah manifestasi eksternal dari kondisi hati yang internal. Ketika hati kita berkilau dengan keimanan, ketakwaan, dan amal shaleh, maka kilauan tersebut akan terpancar melalui penampilan kita, termasuk melalui riasan yang kita gunakan. Pada Hari Raya Idul Fitri, tren Shimmer Shimmer dapat menjadi pengingat bagi kita untuk terus menjaga kebersihan dan kejernihan hati. Kita diharapkan untuk terus meningkatkan kualitas diri dengan memperbanyak ibadah dan amal shaleh, sehingga hati kita dapat terus berkilau dan memancarkan cahaya kebaikan kepada sesama.

 Di samping pendekatan makna spiritual, tren shimmer juga melambangkan kegembiraan dan kebahagiaan di momen Idul Fitri. Hari raya ini merupakan waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan orang terkasih, saling bersilaturahmi dan berbagi kebahagiaan. Kilauan shimmer menambah semarak suasana dan mencerminkan rasa syukur atas limpahan rahmat dan karunia Allah SWT.

 Tren shimmer pada Hari Raya Idul Fitri tidak hanya estetika semata. Di balik kilauan dan gemerlap, terdapat makna metaforis kemilau hati dari dalam yang telah disucikan melalui proses tazkiyah al-nafs. Tren ini juga seharusnya menjadi simbol yang diserap kedalam kegembiraan dan kebahagiaan di momen spesial ini. Kilauan riasan melambangkan hati yang berkilau dengan keimanan, ketakwaan, dan amal shaleh. 


Wallahualambisshowab

...Taqobbalallahu Minna Wa Minkum

Taqobbal Ya Karim...

Fian Anawagis (Mahasiswa Digital Neuropsikologi UICI)