Mempertemukan Hal Transenden dan Imanen dalam Kisah Isra' Mi'raj dengan berbagai Sisi Agamis
Kisah Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, yang
termaktub dalam surah Al-Isra, merupakan salah satu peristiwa monumental dalam
sejarah Islam. Peristiwa ini mengantarkan Nabi Muhammad SAW kepada pengalaman spiritual yang
luar biasa, di mana beliau melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram di
Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan kemudian naik ke Sidratul Muntaha,
tempat yang tidak terjangkau oleh manusia biasa. Kisah ini menghadirkan dua
aspek dari hal transenden dan imanen. Transenden mengacu pada sesuatu yang
berada di luar alam semesta fisik, sedangkan imanen mengacu pada sesuatu yang
berada di dalam alam semesta fisik. Dalam kisah Isra Mi’raj, aspek transenden
terlihat dalam perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha, di mana beliau
bertemu dengan Allah SWT. Aspek imanen terlihat dalam perjalanan Nabi Muhammad
SAW dari Makkah ke Yerusalem, di mana beliau melihat berbagai tanda-tanda
kebesaran Allah SWT di bumi.
Analisis Kisah Isra' Mi'raj
sebagai Perjalanan fisik dan spiritual
Isra' Mi'raj bukan hanya
perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Yerusalem dan ke langit, tetapi
juga perjalanan spiritual beliau untuk bertemu dengan Allah SWT. Perjalanan ini
menunjukkan bahwa manusia dapat mencapai tingkat spiritual yang tinggi dan
mengalami kedekatan dengan Tuhan. Penyatuan pengetahuan dan iman:
Isra' Mi'raj memberikan Nabi Muhammad SAW pengetahuan tentang alam ghaib, yang
tidak dapat diakses dengan akal budi manusia. Pengetahuan ini memperkuat iman
beliau dan memberikannya panduan untuk memimpin umat Islam. Simbolisme:
Kisah Isra' Mi'raj penuh dengan simbolisme yang memiliki makna teologis yang
mendalam. Contohnya, Sidratul Muntaha melambangkan batas pengetahuan manusia,
dan Buraq melambangkan kecepatan dan kekuatan wahyu Tuhan.
Kisah Isra' Mi'raj merupakan peristiwa yang
kompleks dan kaya makna. Dengan menggunakan teori dari tokoh filsafat agama,
kita dapat melihat bagaimana kisah ini mempertemukan hal transenden dan imanen.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa manusia dapat mencapai tingkat spiritual yang
tinggi dan mengalami kedekatan dengan Tuhan, dan bahwa wahyu Tuhan dapat
memberikan pengetahuan dan panduan untuk kehidupan manusia. Kisah Isra Mi’raj
merupakan contoh bagaimana hal transenden dan imanen dapat bertemu dalam
pengalaman religius. Peristiwa ini menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi
untuk mencapai tingkat spiritual yang tinggi dan merasakan kehadiran Allah SWT.
Kisah ini juga memberikan inspirasi bagi umat Islam untuk terus berusaha
meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Kultum Ramadan #26
Fian Anawagis
