Mempertemukan Hal Transenden dan Imanen dalam Kisah Isra' Mi'raj dengan berbagai Sisi Agamis

Kisah Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW, yang termaktub dalam surah Al-Isra, merupakan salah satu peristiwa monumental dalam sejarah Islam. Peristiwa ini mengantarkan Nabi Muhammad SAW kepada pengalaman spiritual yang luar biasa, di mana beliau melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan kemudian naik ke Sidratul Muntaha, tempat yang tidak terjangkau oleh manusia biasa. Kisah ini menghadirkan dua aspek dari hal transenden dan imanen. Transenden mengacu pada sesuatu yang berada di luar alam semesta fisik, sedangkan imanen mengacu pada sesuatu yang berada di dalam alam semesta fisik. Dalam kisah Isra Mi’raj, aspek transenden terlihat dalam perjalanan Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha, di mana beliau bertemu dengan Allah SWT. Aspek imanen terlihat dalam perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Yerusalem, di mana beliau melihat berbagai tanda-tanda kebesaran Allah SWT di bumi.

 Peristiwa ini menandai perjalanan spiritual Nabi dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan kemudian naik ke langit ke Sidratul Muntaha. Peristiwa ini sarat dengan makna simbolis dan teologis yang mengundang berbagai interpretasi, termasuk upaya untuk mempertemukan hal transenden dan imanen. kisah Isra' Mi'raj dalam kerangka teoritik mempertemukan hal transenden dan imanen, menurut Al-Ghazali membedakannya dalam dua antara "alam الملكوت" (alam malakut) dan "alam الملك" (alam dunia). Alam malakut adalah alam spiritual yang transenden, sedangkan alam dunia adalah alam fisik yang imanen. Menurut Al-Ghazali, Isra' Mi'raj merupakan pengalaman spiritual Nabi Muhammad SAW di mana beliau diizinkan untuk memasuki alam malakut dan menyaksikan berbagai hal yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dalam “Ihya’ Ulumiddin”. Al-Ghazali membagi realitas menjadi dua tingkatan: alam mulk (alam fisik) dan alam malakut (alam spiritual). Bagi Al-Ghazali, Isra Mi’raj merupakan bukti bahwa manusia dapat mencapai alam malakut melalui pengalaman spiritual. Sedangkan Thomas Aquinas Tokoh filsafat Kristen ini membedakan antara "wahyu umum" dan "wahyu khusus". Wahyu umum merupakan wahyu Tuhan yang diberikan kepada semua manusia melalui alam dan akal budi, sedangkan wahyu khusus adalah wahyu Tuhan yang diberikan kepada para nabi dan rasul melalui wahyu langsung. Menurut Aquinas, Isra' Mi'raj dapat dipahami sebagai wahyu khusus yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk memperkuat iman beliau dan memberikannya pengetahuan tentang alam ghaib dalam “Summa Theologica”. Aquinas membedakan antara iman dan akal. Bagi Aquinas, Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang melampaui akal, tetapi dapat diterima dengan iman. Paul Tillich: yang juga seorang teolog Protestan turut menggunakan konsep "korelasi" untuk menjelaskan hubungan antara Tuhan dan manusia. Tillich mengatakan bahwa Tuhan adalah "dasar realitas" yang transenden, tetapi juga hadir dalam dunia imanen. Dengan mengacu pada pendapat Tillich, Isra' Mi'raj dapat dipahami sebagai pengalaman Nabi Muhammad SAW tentang "dasar realitas" ini. Sedangkan William James seorang filsuf pragmatis Amerika abad ke-19 yang terkenal dengan karyanya “The Varieties of Religious Experience”. berfokus pada pengalaman religius individu. Bagi James, Isra Mi’raj merupakan contoh pengalaman religius yang luar biasa yang dapat memberikan makna dan tujuan hidup bagi manusia.

Analisis Kisah Isra' Mi'raj sebagai Perjalanan fisik dan spiritual

 Isra' Mi'raj bukan hanya perjalanan fisik Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Yerusalem dan ke langit, tetapi juga perjalanan spiritual beliau untuk bertemu dengan Allah SWT. Perjalanan ini menunjukkan bahwa manusia dapat mencapai tingkat spiritual yang tinggi dan mengalami kedekatan dengan Tuhan. Penyatuan pengetahuan dan iman: Isra' Mi'raj memberikan Nabi Muhammad SAW pengetahuan tentang alam ghaib, yang tidak dapat diakses dengan akal budi manusia. Pengetahuan ini memperkuat iman beliau dan memberikannya panduan untuk memimpin umat Islam. Simbolisme: Kisah Isra' Mi'raj penuh dengan simbolisme yang memiliki makna teologis yang mendalam. Contohnya, Sidratul Muntaha melambangkan batas pengetahuan manusia, dan Buraq melambangkan kecepatan dan kekuatan wahyu Tuhan.

 

Kisah Isra' Mi'raj merupakan peristiwa yang kompleks dan kaya makna. Dengan menggunakan teori dari tokoh filsafat agama, kita dapat melihat bagaimana kisah ini mempertemukan hal transenden dan imanen. Peristiwa ini menunjukkan bahwa manusia dapat mencapai tingkat spiritual yang tinggi dan mengalami kedekatan dengan Tuhan, dan bahwa wahyu Tuhan dapat memberikan pengetahuan dan panduan untuk kehidupan manusia. Kisah Isra Mi’raj merupakan contoh bagaimana hal transenden dan imanen dapat bertemu dalam pengalaman religius. Peristiwa ini menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi untuk mencapai tingkat spiritual yang tinggi dan merasakan kehadiran Allah SWT. Kisah ini juga memberikan inspirasi bagi umat Islam untuk terus berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

 

Kultum Ramadan #26

Fian Anawagis