Di Paksa Amnesia pada Meja Pahlawan

Simptom, sebuah istilah penanda adanya "skizofrenia" dalam memori kolektif bangsa kita. Ini adalah sebuah argumen mengapa kasus ini menelanjangi pertarungan narasi yang belum selesai di jantung identitas Indonesia.

Kita harus membedah apa itu "pahlawan" dari kacamata antropologi. Gelar pahlawan bukanlah sebuah fakta sejarah yang objektif seperti tanggal lahir atau kronologi peristiwa. Pahlawan adalah konstruksi sosial.
Gelar ini adalah cermin yang merefleksikan nilai-nilai apa yang sedang dijunjung tinggi oleh suatu masyarakat pada saat ini. Siapa yang kita angkat sebagai pahlawan hari ini lebih banyak bercerita tentang siapa kita sekarang daripada siapa mereka di masa lalu.
Memahlawankan adalah sebuah ritual politik. Ini adalah cara negara (atau kelompok) untuk mengatakan: "Inilah sosok ideal kita. Inilah nilai-nilai yang harus kita warisi."

Dua Narasi yang Saling Menihilkan

Di sinilah letak paradoksnya. Soeharto dan Marsinah bukanlah dua tokoh yang bisa didudukkan berdampingan dalam satu panteon pahlawan. Mereka adalah antitesis satu sama lain. Mereka mewakili dua Indonesia yang bertabrakan.

Developmentalisme di mana ketertiban dan pertumbuhan ekonomi adalah kebaikan tertinggi, bahkan jika harus mengorbankan hak asasi manusia dan demokrasi. Pendukungnya dapat dideteksi melalui generasi yang merasakan stabilitas ekonomi Orde Baru, elite yang diuntungkan, dan mereka yang merindukan "pemimpin kuat" (nostalgia "ena' jamanku to?").

Mengangkat Soeharto sebagai pahlawan adalah upaya untuk meneguhkan narasi negara-pemilik. Ini adalah narasi para pemenang sejarah. Ini adalah pernyataan bahwa hasil (pabrik, jalan tol) dan membenarkan cara (represi, totaliter dan pembungkaman).

Sedangkan dari pihak berlawan, representasi dari para buruh, rakyat kecil, keadilan sosial, korban kekerasan aparatus. Dengan semangat kemanusiaan, keadilan, hak asasi, keberanian sipil. Ia adalah simbol perjuangan kelas pekerja melawan sistem yang menindas.

Mengangkat sosok Marsinah sebagai pahlawan adalah upaya untuk meneguhkan narasi tandingan (counter-narrative). Ini adalah narasi para korban. Ini adalah pernyataan bahwa kemanusiaan dan keadilan lebih tinggi nilainya daripada stabilitas semu atau semen di jalan tol.

"Skizofrenia" Memori: Rekonsiliasi Tanpa Keadilan

Mengusulkan keduanya menjadi pahlawan secara bersamaan adalah sebuah tindakan yang mustahil secara simbolis. Ini ibarat mencoba mengatakan bahwa sistem dan korban dari sistem itu sama-sama mulia.

Soeharto adalah arsitek dan simbol utama dari sistem Orde Baru.

Marsinah adalah martir yang tewas (diduga kuat) di tangan aparatus dalam sistem Orde Baru, saat ia memperjuangkan hak-hak yang direpresi oleh sistem tersebut.

Mendudukkan keduanya di kursi pahlawan yang sama bukanlah "rekonsiliasi." Itu adalah amnesia paksa. Itu adalah upaya putus asa untuk mengubur konflik tanpa pernah menyelesaikannya.
Dalam kamus antropologi, ini bisa dilihat sebagai "politik pengingatan" (politics of memory) yang gagal. Masyarakat kita sedang mengalami kebingungan identitas. Di satu sisi, kita mendambakan kemajuan material (Soeharto). Di sisi lain, kita mendambakan keadilan dan kemanusiaan (Marsinah).
Kita tidak bisa memiliki keduanya dalam wujud mereka. Memilih Soeharto berarti kita memaafkan (atau bahkan merayakan) represi demi pembangunan. Memilih Marsinah berarti kita menegaskan bahwa represi atas nama apa pun tidak dapat diterima.

Pertarungan Mendefinisikan Indonesia

Kasus Soeharto dan Marsinah ini bukanlah sekadar soal pemberian gelar. Ini adalah pertarungan memori untuk mendefinisikan jiwa bangsa Indonesia.

Apakah kita bangsa yang menghargai ketertiban di atas segalanya?

Atau kita bangsa yang menghargai keadilan di atas segalanya?

Jawaban atas pertanyaan "Siapa pahlawan kita?" pada akhirnya akan menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting: "Bangsa seperti apa kita ini?"
Menyatukan Soeharto dan Marsinah sebagai pahlawan adalah sebuah simulakrum—sebuah rekonsiliasi palsu yang menutupi fakta bahwa kita, sebagai bangsa, belum berani memilih siapa kita sebenarnya.

Oleh: D Matte