Mubes DPP; Mengais Sisa Bara, atau Sekadar Memutar Kaset Lama?
Desember 29, 2025
Oleh Muhammad Arisandi
Menjelang musyawarah besar (Mubes) DPP Hipma Gowa, dering panggilan whatsapp menjadi lebih rutin dari biasanya, pertanyaan template basa-basi hampir sama meski tuan dari si pemilik suara berbeda-beda. Tujuanya sama mempertanyakan posisi dan kemungkinan dukungan untuk “mengawal adik-adik” yang akan bertarung pada Mubes yang akan berlangsung.
Layaknya sebuah dagangan, “si adik-adik” ini dipromosikan, dipasarkan, dan disodorkan dengan segala spesifikasinya. Setiap kali hal demikian berulang aku Kembali bertanya, jika peserta mubes atau calon pemimpin itu harus didistrubusikan oleh kakandanya yang “sales” disebut apakah mereka. Benda berpikir, atau alat multifungsi?
Dari keresahan itu aku meramu tulisan ini, bukan karena kecewa tetapi sebagai suara yang berkabung atas matinya kreativitas akal dan ide yang kian tumpul akibat pola warisan dari leluhur yang masih menjadikan sekumpulan manusia sebagai ladang identitas kekuatan mobilisasi massa.
Bukan proses mobilisasi politik yang diwakilkan yang kuresahkan, melainkan pola lama dari orang-orang yang sedari dulu memainkan perannya seolah-olah pemilik otoritas atau gerbang suci menuju kepemimpinan DPP Hipma Gowa yang seringkali menjadi masalahnya. Menjadikan diri sebagai simbol elitis sekaligus menjadikan organisasi sebagai identitas kekuatannya dalam ruang kekuasaan yang lebih luas. Hal demikian bukan hanya mengkerdilkan organisasi, tetapi memperalat setiap elemen organisasi untuk mempertahankan entitas kekuatannya.
ego kekuasaan secara natural memang selalu mempertahankan dirinya, tetapi dalam konteks organisasi, individu seharusnya tak lebih besar dari organisasinya, sehingga organisasi tetap menjaga wibawanya sebagai ruang untuk berhimpun, sebagai laboratorium intelektual pelejar dan mahasiswa.
Sebagai orang yang berumbuh di Hipma Gowa dan menjadikan organisasi sebagai ruang untuk memenuhi hasrat intelektual. Aku selalu membayangkan bahwa kelak insan yang lahir dan terlibat dalam tiap proses organisasi Adalah orang-orang yang dengan berani menjabarkan sendiri idenya tentang bagaimana menyelaraskan organisasi dengan zamannya, membawa isi kepalanya yang penuh dengan misi revolusioner untuk organisasi tanpa harus meminjam mulut leluhur.
Sumber Masalah dari Pola yang berulang
Salah satu penyebab dari rusaknya Hipma Gowa sebagai organisasi ialah ketidak tegasan anggaran dasar pada bab kepengurusan pasal 20 yang tak menjelaskan masa kelangsungan satu periode berlaku untuk tiap pengurus kordinatorat dan komisariat (Korkom), hal itu didukung dari kosongnya mekanisme yang diatur dalam anggaran dasar sebagai langkah yang mungkin dilakukan oleh pengurus DPP dalam memakzulkan kepemimpinan yang pasif di tiap korkom.
Celah ini menjadi ruang ternak bagi setiap individu yang berupaya mempertahankan pengaruhnya di tiap korkom yang notabene sebagai peserta mubes. Dampaknya proses musyawarah yang harusnya menjadi forum tertinggi organisasi yang menjadi ruang tuntutan malah diorkestrasi menjadi forum titipan tuan-tuan.
Wacana perubahan akhirnya hanya menjadi jargon dan pemanis postrer-poster calon peserta mubes, ruang rapat yang dipenuhi istilah rumit hadir sebatas onani demagog untuk melahirkan Keputusan yang miskin visi dan misi.
Harapan pada Mubes.
Prosesi mubes yang akan datang masih diantarai tenggak waktu yang cukup panjang, sehingga nyala harapan untuk Hipma Gowa masih mungkin diasa. Tulisan ini sebagai undangan terbuka untuk berefleksi bersama, utamanya bagi kader yang masih memenuhi syarat sebagai peserta mubes.
Perubahan jarang lahir dalam ruang nyaman dekapan leluhur, perubahan lebih sering hadir dalam pilihan tidak populer yang disertai kemampuan untuk mendeteksi masalah dan menyelaraskan diri dengan kebutuhan zaman. Hipma Gowa tidak kekurangan kader yang cerdas hanya krisis nyali untuk memperlihatkan kemampuan, Hipma Gowa masih punya begitu banyak forum sebagai indikasi organisasi masih hidup dan berproses, yang kita butuhkan hanya kekuatan untuk menolak intervensi yang merendahkan kualitas insan Hipma Gowa untuk menentukan arahnya sendiri.
Kader Hipma Gowa harus bangun dari nina bobo senioritas, bukan untuk mendurhakai para pendahulu melainkan untuk memperlihatkan dirinya sebagai insan akademis yang kaya ide dan mampu menentukan nasibnya, mengutip Antonio Gramsci, yang mengatakan kekuasaan bekerja bukan hanya dengan paksaan, tetapi juga dengan persetejuan, bertahan dalam dikte orang lama Adalah sebuah hegemoni, dan itu harus usai untuk Langkah taktis yang nyata, jika organisasi masih ingin dilihat sebagai ruang bertumbuh. Pilihan ini bukan untuk menyingkirkan peran orang lama, tetapi memberi batas wajar pada kekuasaannya.
Kader Hipma Gowa harus menyatakan dirinya bahwa mereka bukan sekumpulan pelajar dari apa yang disebut oleh Paulo Freire korban “bangking Education” di mana individunya hanya patuh, menyerap, dan mengulang, kader harus berani bertanya untuk apa setiap tindakannya, di ruang mubes harusnya menjadi ruang aspirasi bagi tiap kader dan memamtrikan dirinya sebagai insan yang memilki onscientização (kesadaran kritis).
Pada akhir tulisan ini aku ingin menukil Soe Hok Gie dalam tulisannya yang bertajuk “refleksi tentang idealisme, keberanian moral, dan kritik terhadap kekuasaan” pada buku Catatan Seorang Demonstran, idealisme akan mati bila ia hanya menjadi slogan, keberanian moral lebih penting dari kemenangan organisasi yang didikte oleh penguasa.